Mensos Tri Tinjau Lokasi Banjir dan Berikan Bantuan di Jayapura

PAPUAunik– Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini didampingi Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano dan Wakil Walikota Rustan Saru serta jajaran berikan bantuan dan melakukan tinjauan di lokasi banjir dan longsor di antaranya Perumahan Organda, Posko Pengungsian di GOR Trikora, Perumahan Bhayangkara Dok V, dan perumahan di sekitar SMA Negeri 4 Jayapura.

“Saya akan melihat kekuatan di gudang kami agar dapat mensuplai ini. Lumbung sosial akan disiapkan oleh Walikota Jayapura. Dampak global warning terjadi secara luar biasa, curah hujan semakin tahun semakin berat karena harus mewadahi terutama daerah lereng dan dibawah bukit-bukit maupun gunung. Hampir semua bencana longsor yang terjadi di Indonesia, seperti Jawa Barat, Tapanuli Utara, Siboga kondisinya persis seperti di Jayapura,” kata Risma saat konferensi pers di Posko Induk GOR Waringin, Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura Kamis (13/01).

Karena itu, Risma berharap pemerintah lainnya juga mewaspadai hunian yang ada dibawah lereng gunung. Untuk menghindari korban sebaiknya saat hujan turun itu kemudian berada di suatu tempat yang sudah pilih dan dinyatakan aman.

“Kami akan memfasilitasi misalnya tenda pengungsian, jika itu terjadi. Contohnya di daerah Jawa Barat, Sukabumi kita memilih suatu tempat yang aman, jika hujan mereka mengungsi disitu lalu kembali lagi, ” jelasnya.

Temporore hunian atau hunian sementara akan sangat membantu mengurangi dampak dari korban bencana. Saat ini telah diprediksi curah hujan akan sampai di bulan Maret, karena itu tidak boleh lengah dan harus mewaspadai apabila terjadi hujan maka sebaiknya masyarakat sudah pindah ditempat yang dipilih.

“Saya berharap kepada pemerintah daerah, melakukan mapping ditempat-tempat banjir, sehingga memudahkan kami untuk melakukan antisipasi. Kita akan pilih lokasi aman. Saat ini saya sedang melakukan kampanye terhadap dampak pemanasan global, yaitu dukung kearifan lokal, karena dapat meminimalkan korban. Ini yang saya coba kampanyekan. Daerah lain yang tidak menghidupkan kearifan lokal korbannya akan sangat besar,” katanya.

Untuk daerah-daerah yang ramalannya cukup menakutkan, contohnya daerah impact dari gempa dan tsunami. Didaerah Pacitan dan Tenggalek telah dilatih disana. Kemudian di Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), masyarakat telah diajarkan untuk menyebrang dan menyelam.

“Jadi, kearifan lokal yang harus dibangun sekaligus melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang rawan bencana. Sehingga bisa dihindari. Ada beberapa wilayah yang banyak hutannya bagus nyatanya bisa longsor, artinya wilayah yang curah hujan cukup tinggi berpengaruh terhadap bencana yang terjadi. Bagaimana kearifan lokal ini dibangun dibeberapa daerah. Dan masyarakat harus diajarkan bagaimana mitigasi bencana,” ujarnya.(Putri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 2 = 2