Pemilik hak ulayat pelabuhan bongkar muat layangkan somasi ke PT Sinar Mas

PAPUAunik – Pemilik hak ulayat pada lokasi pelabuhan khusus di Kampung Muris Kecil, Distrik Demta, Kabupaten Jayapura, Papua melalui kuasa hukumnya, melayangkan somasi atau surat peringatan pertama kepada PT Sinas Mas Group.

Somasi itu dilayangkan karena sudah 23 tahun lamanya, terhitung sejak 1999 hinga kini, lahan milik mereka seluas 10 hektar di yang dipakai perusahaan perkebunan kelapa sawit raksasa itu sebagai tempat bongkar muat logistik dan bahan baku minyak kelapa sawit, tidak pernah dibayar atau diganti rugi.

Dalam keterangan persnya kepada wartawan, Drs. Aloysius Renwarin, SH.MH dari Law Firm Aloysius Renwarin and Partners selaku kuasa hukum, mengatakan sejak menerima surat kuasa pendampingan hukum dari Ondoafi Yustus Karay sebagai pemilik hak ulayat pada 24 November 2021, pihaknya telah melakukan mediasi bersama PT. Agropanca Modern yang merupakan bagian dari PT Sinar Mas Group di Jayapura, mediasi pertama tertanggal 27 November 2021 dan mediasi kedua pada 4 Desember 2021.

“Selama 23 tahun, terhitung sejak 1999 hingga 2021, tak ada status yang jelas dari segi kontrak maupun pembayaran serta sertifikat tentang tanah itu. Makanya kami ingin mediasi dan meminta Sinar Mas Group sebagai Pihak Kedua, tunjukanlah bukti hukum atas lokasi tanah itu. Kalau dari klien kami, bukti-bukti sudah jelas,” urai Aloysius, di Kota Jayapura, Papua, Rabu (12/01).

Sayangnya, pada mediasi ketiga, Pihak PT. Sinar Mas Grup tidak menghadiri undangan tertanggal 11 Desember 2021 tersebut. Padahal, rencananya, pada mediasi ketiga ini, kedua belah pihak saling menunjukkan bukti hukum atas tanah itu dan hak Suku Karay yang harus diberikan oleh Sinar Mas Group.

“Mediasi juga pernah difasilitasi oleh Pemkab Jayapura,” katanya.

Dalam jumpa pers di Kantor Law Firm Aloysius Renwarin and Partners di Perumnas II Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Ondoafi Yustus Karay bersama sejumlah keluarga hadir. Yustus adalah anak sulung dari Ondoafi Suku Karay, Nakur Karay.

“Perusahaan PT Sinar Mas melalui PT Agropanca Modern ini masuk bangun pelabuhan tapi masuknya lewat orang lain yang bukan pemilik hak ulayat yang sah. Kami tahunya dari belakang. Makanya, kami minta data-data akurat ke perusahaan, mana surat pelepasan adat. Tapi sampai hari ini tidak diberikan,” kata Yustus.

Menurut Yustus, wilayah Demta terdapat tujuh suku, salah satunya Suku Karay. Terkait status kepemilikan tanah seluas 10 hektar yang dipakai PT Sinas Mas untuk membangun pelabuhan di Kampung Muris Kecil di wilayah Pantai Reputa dan Aimsah, sejumlah keluarga yang sebelumnya mengaku sebagai pemilik, sudah menandatangani surat pernyataan tanggal 8 Juli 1999 bahwa pemilik yang sah ialah Suku Karay.

Hingga berita ini disiarkan, redaksi PAPUAunik terus berupaya mengkonfirmasi kepada PT Sinar Mas Grup dengan harapan ada penjelasan terkait persoalan hak ulayat tersebut.(Putri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 49 = 50