Gerakan menjaga ibu dari Kampung Yoka Jayapura (kedua)

Kepala Kampung Yoka, Antonius Mebri mengatakan, umumnya aktivitas masyarakat di Kampung Yoka adalah berkebun atau menjadi nelayan. Namun warga umumnya punya penghargaan tinggi terhadap danau. “Danau adalah ibu bagi orang Sentani, khusunya kampung Yoka. Danau memberikan segala yang dibutuhkan oleh masyarakat di kampung, mulai dari kebutuhan sehari-hari seperti, makan dan minum, ikan yang dapat dijual,” kata dia, 28 Oktober 2021. “Seandainya danau rusak, berarti kita telah melukai seorang ibu.”

Menurut Antonius Mebri, belum ada satu sistem penanggulangan sampah yang dapat mencegah limbah ini masuk ke danau. Akibatnya, ribuan ton sampah, mulai dari plastik, kotoran binatang atau ternak, masuk ke danau Sentani. Saat ada warga yang mengusulkan kegiatan pembersihan danau pada tahun 2017, ia pun menyetujuinya dengan membentuk Kelompok Pembersih Danau

Pembersihan danau oleh tim beranggotakan 12 warga itu dilakukan 3 kali dalam seminggu, yaitu Selasa, Rabu, dan Jumat. Mereka dalam sehari bekerja selama 4 jam, yaitu dari jam 8 sampi 11 pagi. Anggota tim pembersihan ini, kata Antonius Mebri, digaji Rp 2 juta perbulan. Sedangkan ikan hasil menjaring saat membersihkan danau, dapat dijual ke pasar atau dikonsumsi sendiri oleh anggota Kelompok Pembersih Danau itu.


Ada ritual rutin tertentu bagi anggota Kelompok Pembersih Danau sebelum beraksi. PapuaUnik membuat janji dengan warga yang tergabung dalam kelompok ini, pada 9 November lalu. “Mari anak. Mama dorang su tunggu dari tadi,” kata pria paruh baya saat menyambut di depan rumah. Di dalam sudah ada beberapa perempuan paruh baya yang berkumpul. Yang lainnya sibuk menyiapkan sarapan pagi. “Anak mau makan pinang atau minum teh”, tanya seorang ibu.

Berbeda dari rumah di jalur atas yang dibangun di bawah kaki gunung, rumah-rumah di jalur bawah umumnya rumah panggung yang dibangun di atas permukaan danau. Rumah-rumah itu bagian depannya menghadap ke daratan, bagian belakang menjorok ke arah danau. Kampung ini diapit gunung dan danau Sentani.

Nampak dari tengah danau ada lima perahu yang datang. Setelah meletakkan perahu di bawah kolong rumah, mereka bergabung. Hari itu adalah jadwal bekerja. Seperti biasanya mereka berkumpul di rumah ketua kelompok pembersih danau untuk sekedar makan dan minum, bercerita atau mendengar arahan dari ketua kelompok.

Sebelum bekerja, sekertaris desa mengunjungi mereka. Setelah kepala kampung turun jabatan dan sekertaris menjabat sebagai penjabat sementara selama 4 bulan. Bulan April tahun depan rencananya akan diadakan Pemilu Kampung. Akan ada 14 kampung di Kota Jayapura yang akan melakukan pemilihan kepala kampung pada 2022. Ibu-ibu itu duduk dan mendengarkan arahan dari pejabat kampung terkait pekerjaan dan nasib mereka jika pergantian kepala kampung nanti tahun depan.

Kepala Kampung Yoka, Antonius Mebri

Tepat pukul 08.00, ibu-ibu sudah siap ke tengah danau. Satu-persatu “khai” (perahu) mulai menyebar. Mereka mendayung dan menyisiri pinggiran danau, mengangkat Eceng Gondok dan sampah lainnya. Eceng Gondok diangkat seperti menimbang bayi diayunan, naik-turun agar airnya berkurang, lalu dilemparkan ke dalam perahu. Di dalam sudah perahu ada piring dan spons yang akan dipakai untuk menguras airnya.

Ibu-ibu itu tampak bersemangat mengangkat sampah. Berdiri, lalu duduk lagi, sambil mengangkat sampah-sampah dengan “tangan kosong”. Jika perahu sudah penuh, mereka mendayung ke daratan untuk menaruh sampah, kemudian kembali lagi. Perahu yang digunakan merupakan fasilitas dari kepala kampung. “Kami mendapat perahu, jaring, sarung tangan, topi, dan baju. Sarung tangan hanya dapat bertahan beberapa hari saja, setelah itu rusak namun tidak pernah diberikan yang baru lagi,” kata Ivone.

Bau menyengat muncul dari balik Eceng Gondok. Tampak ikan yang sudah mati mengambang di atas permukaan air. “Ini sudah biasa,” ujar Hermina, perempuan berusia 45 tahun, yang berusaha berdiri dan menyeimbangkan perahunya. Rambut keritingnya disisir rapi. Dia memakai baju pembersih danau yang berwarna abu-abu yang tampak tua. Baju itu adalah salah satu fasilitas yang diberikan oleh kepala kampung enam tahun lalu.

Saat jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, matahari seakan ada di atas kepala. Hermina yang memegang kemudi perahu, tidak mengangkat sampah seperti yang lainnya. Ternyata dia tidak ingin tamunya yang ikut pembersihan danau ini terkena sampah dan Enceng Gondok. Setelah diberi penjelasan, ia pun melanjutkan pengambilan sampahnya.

Setelah perahu sudah penuh dengan setumpuk sampah dan enceng gondok, Hermine mengayuh perahu ke daratan untuk memindahkan muatan. Perahunya juga dikeringkan. Air yang tersisa diambil menggunakan spons yang tidak lagi berwarna kuning, namun telah berubah menjadi coklat akibat bercampur lumpur. Tak lama kemudian perahu kembali ke danau.

Tepat pukul 12.00, datang panggilan dari Ivone Ohodo untuk menyelesaikan pekerjaan. “Ayo, hari ini sampai di sini saja,” dia berseru. Sesekali menyeka keringat sambil memutar kemudi, Hermine mulai mendayung ke daratan. Sekitar 10 menit kemudian perahu sudah sampai di kolong rumah ketua kelompok dan aktivitas membersihkan danau selesai untuk hari itu.


Kepala Bidang Sampah dan Limbah B3 Kota Jayapura, Agusthinus T Ondi, S.Hut mengatakan, sudah ada pengujian terhadap kondisi air danau di Kampung Yoka pada 18 Juni 2021. Untuk saat ini belum bisa dikatakan bahwa danau sudah tercemar. “Jika danau berbau dan berwarna, maka termasuk klasifikasi sudah tercemar,” kata dia. 4 November 2021. Jika ada fakta populasi habitatnya berkurang atau mati tanpa sebab, itu bisa menjadi indikasi danau sudah tercemar. “Tetapi itu semua harus dibuktikan.”

Laporan Hasil Uji Sanitasi Lingkungan

No. Parameter Satuan Baku Mutu Hasil Uji Spesifikasi Metode

  1. Coli Tinja MPN/100 ml 100 19 IKM/5.4.9001-01/BLK-Papua
    (Tabung Ganda)
  2. Coliform MPN/100 ml 1000 29 IKM/5.4.9001-01/BLK-Papua
    (Tabung Ganda)
    Sumber: Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Jayapura
Mama Gerda Okoka (kiri) bersama Mama-mama dari Kampung Yoka saat bersihkan Danau Sentani

Untuk penanganan sampah di Kota Jayapura, kata ada Agustinus, pemerintah mempunyai tenaga honorer sekitar 143 orang, armada damtruk 40, truck ambrol 20 dan motor tiga roda 16, dan pickup. Untuk armada laut, ada 5 buah speed. Setiap hari petugas itu menjemput sampah dari kampung ke kampung. Ini juga bentuk edukasi kepada masyarakat yang bermukim di atas permukaan air atau istilahnya permukiman-permukiman pasang surut untuk tidak membuang sampah langsung ke air.

Agusthinus mengatakan, belum pernah ada aduan masyarakat ke pemerintah kota terkait sampah di danau. Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Jayapura juga mengakui belum pernah mengangkat sampah dari danau. Dengan adanya pemberitaan media soal kondisi danau tersebut, itu akan menjadi masukan bagi Pemerintah Kota Jayapura untuk memperhatikan sampah di danau dekat kampung Yoka. “Kami akan menaruh 1 buah speed untuk mengangkut sampah,” katanya.

Setelah ada gerakan pembersihan danau oleh warga Yoka ini, ada perubahan yang bisa dirasakan. “Setelah danau dibersihkan, danau terlihat lebih bersih dan baik. Saya sangat senang karena ini adalah hasil dari pekerjaan Saya,” kata Gerda Okoka. Sejak bekerja sebagai pembersih danau, ia masih “membuang” jaring di danau.

Antonius Mebri mengatakan, sejak ada pembersihan danau, jumlah enceng gondok semakin berkurang. Namun itu tidak memulihkan habitat asli. “Ikan endemic danau menurut saya sudah menghilang dan sangat sulit mendapatkan ikan ini, yaitu ikan gabus danau. Kerang (bia) asli danau sudah tidak ditemukan lagi saat ini, karena bia ini hanya dapat berkembang biak di air yang jernih,” kata dia.

Untuk mengurangi aliran sampah ke Danau Sentani, kata Henderita, yang perlu diubah adalah pola pikir manusianya. Masyarakat perlu diedukasi untuk mengumpulkan sampah. Pemerintah juga perlu memastikan sampah warga diangkut dan dibawa ke tempat pembuangan akhir Koya Koso. Pendidikan soal sampah ini juga harus diberikan di sekolah. “Jika kebiasaan buang sampah sembarangan bisa diubah, maka masalah ini tentu perlahan-lahan dapat diatasi,” kata dia.

Henderite menambahkan, upaya lain yang juga harus dilakukan adalah memberikan pelatihan-pelatihan untuk pemanfaatan eceng gondok menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. “Seperti di daerah lain, (eceng gondok) dijadikan produk berupa sandal, tempat tissue, tas,” kata dia. Selain itu, juga bisa dimanfaatkan untuk kompos dan pupuk tanaman.

Upaya pemanfaatan sebagian sampah danau juga sudah dilakukan. Menurut Antonius Mebri, sampah dari danau terdiri dari plastik, rumput neli (rumput danau), bangkai binatang, dan eceng gondok. Sampah plastiknya dibawa ke tempat pengelolaan sampah. Sedangkan rumput neli ditumpuk dalam jumlah banyak. Setelah membusuk lalu dicampur dengan tanah dan dijadikan pupuk untuk tanaman di kebun.

Oleh : Putri Nurjannah Kurita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 77 = 80