Gerakan menjaga Ibu dari Kampung Yoka (pertama)

Ivone Ohodo, warga Kampung Yoka, Kabupaten Jayapura, sehari-harinya adalah nelayan yang mencari ikan di Danau Sentani, Papua. Pagi hari biasanya ia mendayung perahu ke tengah danau untuk memasang jaring. Setelah itu ia akan kembali ke rumah dan kembali mengecek jaringnya di siang hari. Terkadang ia melepas jaring saat malam hari dan memeriksa hasilnya di pagi hari.

Ikan hasil tangkapan Ivone itu dikumpullkan di keramba selama dua hari sebelum dijual. Ia menjual hasil tangkapannya itu di dermaga atau di pondok di depan rumahnya. Ikan yang didapatkannya adalah mujair. Dalam dua hari, dia bisa menjual lima ekor ikan ukuran sedang dengan harga Rp 150 ribu. Hasil penjualan itulah yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan membantu suami membiayai pendidikan anaknya.

Salah satu pemandangan yang sangat mengganggu Ivone adalah kondisi danau yang sangat kotor. Dulunya danau ini bersih sehingga airnya bisa dikonsumsi. Kini danau terluas di Papua itu banyak sampahnya, baik yang berasal dari rumah tangga hingga tanaman enceng gondok. “Saya harus selalu memantau jaring, karena kadang bukan ikan yang terjaring, tapi sampah,” kata dia, 25 Oktober 2021 lalu.

Ivone menambahkan, orang-orang yang datang dari kampung Ayapo hendak masuk di dermaga di Yoka juga mengalami kesulitan karena sampah eceng gondok yang pertumbuhannya sangat pesat itu. Ia tak ingat persis sejak kapan tanaman enceng godok ini bisa seperti merajai Danau Sentani.

Gerda Okoka, warga Kampung Yoka lainnya, juga tiap hari menjaring ikan di danau. Perempuan 55 tahun ini menjadi ibu sekaligus bapak bagi 5 anak setelah sang suami meninggal 2011 lalu. Ikan hasil tangkapannya, Lohan, ia jual di depan rumahnya dalam keadaan sudah digoreng. Satu piring harganya Rp 20 ribu. Kalau campuran ikan Lohan dan Mujair harganya Rp 50 ribu. Selain ikan, dia juga menjual pinang.

Seperti halnya Ivone, Gerda merisaukan soal kondisi Danau Sentani. Ia mengingat bahwa sekitar tahun 1980an, lingkungan danau masih bersih. “Saya menggunakan air danau untuk kebutuhan sehari-hari seperti air minum dan mandi. Tetapi setelah jumlah penduduk bertambah dan banyak orang membuang sampah dan limbah ke danau, saya tidak lagi menggunakan air danau,” katanya, 25 Oktober 2021.

Kerisauan soal kondisi danau yang dipenuhi sampah inilah yang mendorong Ivone dan suaminya mengusulkan kepada Kepala Pemerintah Kampung (KPK) Yoka saat itu, Antonius Mebri, untuk melakukan kegiatan pembersihan danau. Ide ini disambut baik. Pada tahun 2017, dibentuklah Kelompok Pembersih Danau. Ivone Ohodo ditetapkan menjadi ketuanya, Gerda Okoka salah satu dari 12 anggotanya.


Danau Sentani terletak di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops dengan luasan sekira 9.360 hektar, terbentang melintasi Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Sedangkan kampung Yoka berada di ujung Timur Kabupaten Jayapura dan sebelah barat Kota Jayapura. Kampung ini dibentuk pada 2 Januari 1956. Bagi masyarakat asli Yoka, daerah ini dikenal dengan nama adatnya, Hebheibhulu.

Dalam Bahasa Sentani, kata “Yo” berarti kampung dan “ka” berarti ikan. Secara sederhana “Yoka” dimaknai sebagai kampung ikan. Pada tahun 2017, populasinya tercatat 2.900 jiwa dengan mata pencaharian yang cukup beragam. Data Balai Kampung Hebheibhulu menyebutkan bahwa ada 92 orang bekerja sebagai nelayan, 164 orang bertani, 157 orang pegawai negeri sipil (PNS), dan 36 orang anggota TNI/Polri.

Kampung Yoka mudah didatangi karena letaknya di tepi danau sebelah timur Kabupaten Jayapura. Sebelumnya kampung ini masuk dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Jayapura. Setelah pemekaran wilayah tahun 1993, ia menjadi bagian dari Pemerintahan Kota Jayapura, meskipun secara kultur ia menjadi satu kesatuan dengan masyarakat adat wilayah Sentani Barat, Sentani Tengah dan Sentani Timur.

Kampung Yoka dibelah dua jalur sebagai jalan utama. Warga menyebutnya jalur atas dan jalur bawah. Di Jalur atas terdapat Sekolah Dasar (SD) Inpres Yoka Pantai, SMP Negeri 7 Jayapura, lapangan bola dan sebuah gereja tua yang dibangun sejak 1956, GKI Ebenhaizer. Singkatnya, jalur atas itu menjadi tempat infrastruktur publik milik kampung.

Sedangkan jalur bawah merupakan pusat pemukiman warga kampung yang terletak di bibir danau. Ujung gereja terhubung dengan rumah-rumah warga. Namun di ujung jalan ada sebuah fasilitas kesehatan publik yang bernaung di bawah gereja kristen injil di Tanah Papua, yaitu Klinik “Walihole”, sebuah pusat layanan kesehatan yang khusus menangani pasien yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquaired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

Mama Ivone Ohodo saat membersihkan eceng gondok di tepian Danau Sentani

Menurut peneliti dari Fakultas MIPA Universitas Cendrawasih Dr.rer.nat Henderite L Ohee, M.Si, sampah adalah salah satu masalah utama di Danau Sentani saat ini. Kebanyakan sampah ini berasal dari aktivitas penduduk di darat. “Danau Sentani ini seperti ‘tempat sampah besar’. Begitu banyak orang yang membuang sampah langsung ke badan-badan sungai atau ke lingkungan daratan yang kemudian terbawa ke danau melalui sungai atau terbawa air pada saat hujan,” katanya, 8 November 2021.

Penduduk kampung di tengah Danau Sentani pernah mengeluhkan bahwa mereka telah berusaha menjaga daeranyayeyap bersih, tetapi mereka menerima banyak sampah dari pinggiran danau Sentani. Ia memberi contoh kampung Ayapo. “Ibu dan anak-anak mengeluhkan bahwa sampah yang berasal dari Waena saat musim angin timur terbawa ke kampung mereka. Kampung mereka menerima imbas dari sampah dari masyarakat yang tinggal di danau Sentani,” kata Henderita.

Henderite mengatakan, pada 5 Juni 2021, ia membuat aksi bersih lingkungan di Waena dan di Yahim. Ini adalah dua tempat yang merupakan alur sungai yang membawa sampah dari aktivitas penduduk di Pasar Sentani dan aktivitas penduduk sepanjang sungai Kampwolker sampai ke danau. “Sampah terbanyak adalah plastik kemasan makanan, botol mineral, dan semacamnya,” kata dia. Total sampah yang bisa dikumpulkan saat itu lebih dari 700 kg di Waena. Selain plastik, juga ada sampah kain, pakaian bekas, helm dan mesin cuci.

Di kampung Yoka, kata Henderita, aktivitas penduduk di darat yang kemudian menghasilkan sampah dan terbawa ke danau. Ada juga warga yang langsung membuangnya ke danau. Sehingga banyak sampah yang ditemukan di sepanjang tepian danau, khususnya di Yoka yang banyak tumbuhan air. Sebagian sampah inilah yang pada saat angin timur dan ada gelombang terbawa ke tengah danau dan sampai ke kampung terdekat mereka, Ayapo.

Banyaknya sampah di Danau Sentani ini berdampak terhadap kehidupan warga Sentani, termasuk Yoka. Kata Henderita, masyarakat sekitar Sentani tak lagi bisa memanfaatkan danau untuk mandi, mencuci, dan mereka mencari nafkah seperti dulu. Warga juga mengeluhkan berubahnya kondisi danau menyebabkan mereka sulit mendapatkan jenis-jenis ikan asli danau seperti ikan Gabus. Ikan yang banyak didapatkan adalah Lohan, ikan nilem, yang bukan ikan asli danau.

Henderite menambahkan, warga kini masih memanfaatkan air danau untuk kebutuhan sehari-hari meski tak sama lagi seperti sebelumnya. “Kalau mencuci, memang mereka masih lakukan hingga sekarang. Tetapi sekarang masyarakat sudah tidak pakai itu untuk minum, mereka lebih banyak menggunakan air galon atau isi ulang. Ada beberapa yang tetap menggunakan air danau untuk minum,” tambahnya.

Ivone Ohodo menceritakan, untuk kebutuhan sehari-hari, ia dan keluarganya tidak lagi menggunakan air danau. “Kami menggunakan air sumur bor dan air isi ulang (air gallon) untuk minum dan masak,” kata dia. Dampak lain dari banyak sampah di danau adalah mengganggu transportasi. Orang-orang yang datang dari kampung sebelah sulit masuk dermaga Yoka karena banyak eceng godok. Saat ia pulang menjaring pun kesulitan memasukkan perahu ke rumah karena eceng gondok yang sangat rimbun.

Tidak bisa dipastikan sejak kapan persisnya danau Sentani bisa seperti saat ini. Henderita mengisahkan, saat ia menulis skripsi pada tahun 1995, sudah ada sampah tapi tidak separah saat ini. “Saya rasakan sampah mulai banyak ketika saya memulai penelitian disertasi saya di tahun 2009. Sampah sudah banyak sekali. Sebagian masyarakat membuang sampah ke sungai dari kepala air di Kampwolker,” ujarnya.

Soal banyaknya eceng gondok, kata Henderita, juga berdampak terhadap transportasi warga di danau. Namun yang juga penting adalah efek lainnya, yaitu mengurangi kandungan oksigen terlarut di dalam air. Eceng Gondok ketika sudah menutupi daerah danau tertentu, air dibawahnya itu akan “miskin” oksigen. Akibatnya, itu bisa menyebabkan kematian biota biota atau bertahan dengan pindah tempat.

“Jika kita sebelumnya biasa temukan ikan pelangi (Chilatherina sentaniensis), itu sudah jarang sekali kita temui karena ikan ini membutuhkan air yang bersih, berbeda dengan ikan-ikan introduksi seperti ikan Nilem dan ikan Lohan yang mana ikan ini dapat bertahan. Sedangkan ikan-ikan asli berpindah ke tempat-tempat yang lebih bersih seperti kondisi sebelumnya,” kata Henderite.

Sebagai peneliti, Henderite khawatir suatu saat danau tidak akan bisa lagi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat. Menghilangnya species-species asli danau seperti ikan, kerang dan siput ini sudah terjadi. Dari tiga jenis endemic di danau, tersisa dua jenis, dari tujuh jenis ikan asli danau, tersisa enam jenis. “Jika kita tidak mengubah cara kita membuang sampah sembrangan, hal itu (kepunahan) bisa saja terjadi,” ujarnya.

Bukan hanya soal sampah yang mengancam Danau Sentani, tetapi juga “penggundulan” di hutan di sekitar danau. Menurut Henderita, pemotongan pohon menyebabkan pendangkalan di banyak tepian danau. Perubahan di tepian danau itu dipicu antara lain oleh pembangunan restoran, jembatan, dan semacamnya. Ini yang menyebabkan danau Sentani lebih dangkal.

bersambung…..

Oleh: Putri Nurjannah Kurita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

76 − = 68