Dorong Ekonomi dan uang digital, BI gelar “Papua Digital Collaboraction”

PAPUAunik – Dalam rangka akselerasi pengembangan dan perluasan ekonomi dan keuangan digital di Provinsi Papua, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kota Jayapura akan menyelenggarakan kegiatan “Festival Peparnas: Papua Digital Collaboraction 2021” pada tanggal 12-14 November 2021.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Papua Naek Tagor Sinaga mengatakan Papua Digital Collaboraction merupakan kolaborasi dan aksi bersama dalam rangka pencapaian digitalisasi ekonomi dan keuangan di Provinsi Papua.

“Serta sebagai bentuk apresiasi terhadap pemerintah daerah di Papua yang seluruhnya telah membentuk TP2DD dengan memberikan pendampingan penyusunan roadmap implementasi elektronifikasi transaksi Pemda (ETP),” katanya dalam siaran pers di Kota Jayapura, Kamis (11/11).

Tercatat 29 Pemerintah Kota/Kabupaten dan Pemerintah Provinsi Papua telah membentuk Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).

Selain itu, kata dia, Papua Digital Collaboraction juga hadir untuk menyemarakkan kegiatan Pekan Paralimpik Nasional 2021, dan mempercepat pemulihan ekonomi di Provinsi Papua.

“Upaya nyata Bank Indonesia Papua dalam pemulihan ekonomi tersebut diwujudkan salah satunya melalui festival UMKM Digital sebagai bagian dari Papua Digital Collaboraction dengan tanggal penyelenggaraan 12-14 November 2021 berlokasi di Terminal Mesran, Kota Jayapura,” katanya.

Dalam festival UMKM Digital, akan ditampilkan produk-produk unggulan dari Papua dengan melibatkan UMKM yang berasal dari UMKM binaan BI Papua, UMKM unggulan pemkab/pemkot se-Provinsi Papua, serta UMKM binaan BPD Papua dan anggota Himbara di wilayah Papua. Selain itu, acara juga akan diisi oleh live music dari musisi terbaik Papua seperti Edo Kondologit, M.A.C, Shine of Black, dan Numbay.

“Melalui festival UMKM Digital, diharapkan UMKM mampu mempromosikan produk-produk unggulannya kepada masyarakat secara luas, dan sebagai media untuk mempercepat upaya UMKM untuk Go Digital melalui adopsi digitalisasi proses bisnis, salah satunya melalui penggunaan QRIS,” katanya.(Ian)

Lebih lanjut, Naek Tagor Sinaga sampaikan bahwa transaksi ekonomi dan keuangan digital di Indonesia terus tumbuh seiring meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, perluasan dan kemudahan sistem pembayaran digital, serta akselerasi digital banking di tengah-tengah pandemi COVID-19.

Nilai transaksi Uang Elektronik (UE) sampai dengan triwulan III 2021 meningkat 45,05 persen (yoy) menjadi Rp209,81 triliun. Demikian pula, nilai transaksi digital banking sampai dengan triwulan III 2021 meningkat 46,72 persen (yoy) menjadi Rp28.685,48 triliun. Adapun transaksi QRIS hingga triwulan III 2021 mencapai 2,9 triliun meningkat 248 persen (yoy).

Sementara itu di Provinsi Papua, nilai transaksi Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) pada Agustus 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 3,8 triliun atau meningkat sebesar 2,48 persen (yoy) dengan transaksi QR code Indonesia Standard (QRIS) mencapai 1,469 milliar.

Tren peningkatan transaksi non tunai ini tidak lepas dari upaya peningkatan inklusi keuangan, dan digitalisasi keuangan yang dilakukan oleh Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, dan perbankan di Papua, serta inovasi dalam pengembangan sistem pembayaran.

“Bertahap tapi pasti, sistem pembayaran di Bumi Cenderawasih berkembang dari awalnya transaksi tunai menjadi transaksi non tunai yang saat ini dapat dilakukan secara nirsentuh dan tanpa tatap muka dengan adanya transaksi online, e-commerce dan QRIS,” katanya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 5 =