Mengenal perahu tradisional milik warga di Danau Sentani

PAPUAunik – Terdapat dua jenis perahu tradisional di Danau Sentani, yaitu perahu laki-laki dan perahu perempuan. Perahu laki-laki sangat sederhana namun elegan, bagian bawahnya bulat sehingga sangat sulit untuk menjaga keseimbangan, kecuali bila telah terlatih sejak kecil.

Hari Suroto, arkeolog senior di Papua mengungkapkan perahu laki-laki Sentani secara tradisonal sangatlah kecil, hanya bisa memuat satu orang, dan tidak stabil di atas air. “Terlalu sempit di mana pemakai tidak duduk di antara sisi-sisi perahu melainkan duduk di atasnya. Terkadang satu kaki dijuntaikan ke air untuk dengan maksud membantu menjaga keseimbangan,” katanya di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (06/11).

Sekarang ini di Sentani, kata dia, perahu laki-laki mulai sangat sulit ditemukan. Sebab hilangnya perahu laki-laki adalah berubahnya tren transportasi, terlebih fungsi dan nilainya. Kini kaum pria lebih aktif bekerja di Kota Sentani daripada di danau, apabila memerlukan sarana transportasi, telah tersedia banyak perahu motor tempel.

Sementara, perahu perempuan dibuat untuk penumpang berkelompok, sehingga cukup besar. Dekorasinya sederhana, tidak seperti yang ada di pesisir utara. Perahu perempuan secara tradisional hanya digunakan oleh wanita diantara masyarakat Sentani. Perahu itu sendiri biasanya berukuran 4-10 meter dan dibuat dari pohon besi ataupun pohon matoa.

Perahu perempuan pada umumnya sedikit lebih besar dibanding perahu laki-laki dan mampu melabuhkan 1-10 orang penumpang, dan pada waktu yang sama memungkinkan kaum perempuan untuk membawa perlengkapan memancing, wadah air, dan benda-benda berat lainnya.

Perempuan menggunakan perahu ini dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bisa dianggap sebagai perlengkapan kerja mereka yang paling penting. Mereka menggunakannya saat mereka menebar/mengangkat jala ikan, mencari kayu bakar, mengambil air bersih dari tengah danau, mengangkut tepung sagu, atau kerja ditempat lain.

“Perahu perempuan dimiliki oleh setiap keluarga di kampung, bahkan bisa lebih dari satu tergantung pada tuntutan kerja para wanita di keluarga tersebut. Tiap perahu memiliki motif yang berbeda-beda (ikan, buaya, kadal, burung), nama, terkadang tanggal pembuatan, diukir diatasnya,” katanya.

Beberapa nama perahu perempuan Sentani yaitu ‘Nakoro Ya’ yang berarti ‘biarkan aku sendiri’. Satunya lagi adalah ‘Mal Nip’ yang berarti ‘Cara mencapai tempat”. Saat ini, laki-laki juga menggunakan perahu perempuan untuk beraktivitas, meski seharusnya perempuanlah yang melakukan sebagian besar perjalanan dengan perahu tersebut.

Dalam budaya masyarakat Danau Sentani, bila akan dibuat sebuah perahu, yang pertama menjadi pertimbangan adalah ukuran yang diinginkan. Pertimbangan yang mengacu akan kebutuhan keluarga untuk menentukan ukuran dan ketersediaan kayu yang pantas.

Seorang pria paruh bayah sedang mengail atau memancing di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. (Foto: Engel Wally)

Lokasi pembuatan perahu tergantung tempat di mana pohon yang cocok akan ditebang. Sejak pohon-pohon besar tidak lagi ada di hutan yang dekat danau, warga desa biasanya menempatkan kayu di hutan besar, 1-4 KM sebelah selatan danau.

Bila pohon telah ditebang, panjang perahu juga akan dipotong. Pengerjaan pada batang pohon itu sendiri tidak akan dimulai sebelum warga desa percaya bahwa kayu telah siap, dikatakan bahwa kayu membutuhkan “istirahat” 2-4 minggu untuk mencapai kondisi yang tepat agar kayu bisa dibentuk.

“Pada saat penggalian lubang duduk untuk perahu telah selesai, perahu akan diturunkan dari hutan. Tim pembuat perahu telah diatur sebelumnya oleh pemilik pada hari dimana perahu telah disiapkan untuk diturunkan,” katanya.

Sebelum meninggalkan hutan, kaum pria mengumpulkan kekuatan dengan makan dan menyanyi. Mereka tidak menerima upah untuk membuat perahu, tapi diberi makanan gratis, rokok dan buah pinang, yang telah disiapkan oleh pemilik. Untuk mengangkut perahu biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari tinggi di cakrawala di mana suhu belum terlalu panas. Liana tebal digunakan untuk mengikat perahu dan membuat “tali-tarik” bagi para pria. Penarikan perahu dipicu oleh lagu atau perintah.

Sewaktu menarik perahu, pemuda dan anak laki-laki mengumpulkan tangkai pohon yang mereka temukan di sepanjang jalan, dan meletakkannya di depan perahu. Hal ini dilakukan manakala pria yang lain menarik perahu di sepanjang lereng. Kegiatan gotong royong dalam pembuatan perahu di Danau Sentani merupakan salah satu contoh kearifan lokal yang dipertahankan sebagai kearifan lingkungan sosial.

Meletakkan tangkai pohon secara berkesinambungan dan membuat perahu lebih mudah digeser, dan meminjamkan beberapa kekuatan bagi kaum pria. Nyanyian dan humor diantara para pria mengilhami kerja berat meski perahu menjadi berat, baik itu karena sulitnya kondisi tanah atau kekurangan makanan/minuman, istirahat akan lebih sering dilakukan. Keberadaan makanan dan minuman menjamin kaum pria untuk bekerja, apalagi bila perahu ditempatkan jauh dari kampung.

Pada saat kaum pria sampai di kampung, warga kampung yang penasaran berkumpul untuk menyaksikan. Makin besar jumlah penonton, akan semakin menarik pula situasi di kampung. Perahu dibawa ke tepi danau, dimana biasanya diikat dibawah permukaan air. Perahu diletakkan ditempat tersebut sampai warga desa percaya bahwa kondisi perahu sudah siap untuk dibuat ukiran Saat perahu dibawa ke tepian lagi, sorang pemahat kayu akan mengerjakan sisa pekerjaan termasuk memoles perahu, mengukir nama, dan motif lokal Sentani diatasnya.

“Sang pemahat biasanya tidak menerima pembayaran berupa uang, tetapi ditambah dengan apapun yang dia perlukan untuk bekerja, termasuk peralatan, makanan dan minuman, dan pinang. Pekerjaan ini secara langsung memperkuat kekerabatan dan hubungan timbal-balik (resiprositas) antara individu yang terlibat khusus dalam pekerjaan dengan keluarga yang menerima perahu baru,” ujarnya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 21 = 23