Kopi Hari Bersama dari Pegunungan Bintang

Papuaunik, – Kisah kopi Hari Bersama berawal dari membantu mahasiswa asal Distrik Okbibab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

“Saat itu, untuk bisa bayar SPP dan biaya hidup di Kota Jayapura, mereka dikirim kopi oleh orang tuanya di kampung. Kopi ini jenis arabika typica,” cerita Hari Suroto membuka pembicaraan.

Kopi Arabica, ujar dia, ditanam pada ketinggian 2000 mdpl. Ditanam di kebun semi hutan yang subur, tumpang sari dengan tanaman ubi jalar. Kopi ditanam secara organik, semua mengandalkan kebaikan alam.

Proses pemanenan buah kopi masih manual menggunakan tangan, begitu juga  pemrosesan buah kopi menjadi green bean.

“Apalagi, suhu udara di Okbibab sangat dingin, dengan intensitas matahari yang terbatas, sehingga penjemuran biji kopi butuh waktu lama,” katanya di Kota Jayapura, Selasa (19/10).

Selain rasa yang menarik dari kopi Papua adalah cerita dibaliknya. Perjalanan biji kopi hingga Sentani, Kabupaten Jayapura sangat panjang.

“Dari Distrik Okbibab, biji kopi dikirim menggunakan pesawat kecil jenis twin otter, dimana penerbangan bukan terjadwal, tergantung kalau ada carteran dari Sentani Jayapura, baru petani nitip kopi,” jelasnya.

Pengiriman biji kopi dari Distrik Okbibab dikemas dalam karung bekas wadah beras. Atau masih seadanya.

“Pemasaran kopi Hari Bersama dilakukan secara online, kopi bubuk maupun biji kopi roasting,” kata arkeolog senior Papua yang mencoba peruntungan lewat usaha biji kopi.

Niatnya, lanjut alumnus Universitas Udayan Bali itu, bermula dari untuk membantu memasarkan kopi dari petani Suku Ngalum di pedalaman Pegunungan Bintang, Papua.

“Akses untuk menuju ke Distrik Okbibab hanya dapat dilakukan dengan pesawat terbang kecil. Belum ada jalan darat,  tidak ada tower telepon seluler. Komunikasi hanya mengandalkan radio SSB,” katanya.

Radio SSB milik kantor distrik atau petugas maskapai pesawat perintis AMA. Untuk komunikasi dengan keluarga di Jayapura, warga menggunakan aplikasi pesan sosial yakni Whatsapp (Wa)

“Wa ini melalui jaringan satelit yang berbayar per jamnya. Voucher internet satelit di Okbibab 100 ribu untuk 3 hari,” katanya.

Dalam sejarahnya, tanaman kopi di Okbibab, pertama kali diperkenalkan oleh misionaris pada tahun 1970-an.

Bibit kopi didatangkan dari Moanemani, Kabupaten Dogiyai yang terkenal dengan jenis kopi arabica typica, di Moanemani kopi ditanam oleh Suku Mee.

Biaya kirim biji kopi dari Distrik Okbibab menuju Sentani, Jayapura menggunakan pesawat kecil, 7500 rupiah per kg.

“Pesawat kecil twin otter dengan tujuan Distrik Okbibab dari Bandara Sentani hanya pesawat AMA, tiket 2 jutaan per orang. Sedangkan dari Distrik Okbibab ke Oksibil ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang, hanya dapat dilakukan dengan jalan setapak sekitar 1 hingga 1,5 hari,” ungkapnya mengisahkan Kopi Hari Bersama.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

43 − = 38