Korek api tradisional ala Papua

Papuaunik, – Sebelum mengenal korek api modern, suku-suku di Papua telah mengenal cara membuat api secara tradisional. Bahkan jauh sebelum itu, pada masa prasejarah di Papua, manusia prasejarah sudah menggunakan batu api atau batu rijang untuk membuat api, hal ini berdasarkan temuan serpihan batu rijang di situs-situs gua prasejarah di Teluk Berau, Fakfak dan kawasan Danau Ayamaru, Papua Barat.

“Pembuatan api merupakan pengetahuan yang dibawa oleh manusia prasejarah saat pertama kali tiba di Papua,” kata Arkeolog Senior Papua, Hari Suroto di Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (11/10).

Menurut dia, beberapa suku di Papua saat ini masih menggunakan korek api tradisional, terutama oleh generasi tua. Seperti Suku Mey Brat di Kawasan Danau Ayamaru, Papua Barat membuat api dengan cara mengadu batu api atau batu rijang pada batu rijang lainnya, percikan bunga api yang keluar dari pukulan itu akan membakar bahan kering seperti sabut halus pohon aren.

“Hingga kini, suku Mbaham di Kampung Woos, Distrik Mbahamdandara, Kabupaten Fakfak masih mengenal korek api tradisional berbahan batu rijang,” katanya mencontohkan.

Lingkungan sekitar Kampung Woos merupakan perbukitan karst yang banyak dijumpai batu rijang sebagai bahan korek api.

Selain itu, ada juga suku Bauzi yang tinggal di tepi Sungai Mamberamo, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua membuat api dengan cara memukul batu sungai pada ruas bambu kering. Akibat gesekan antara batu dengan bambu kering menghasilkan percikan bunga api yang langsung membakar bulu kering nibung atau sejenis palem hutan yang telah disiapkan sebelumnya.

Sementara itu suku Mairasi yang tinggal di Kaimana, Papua Barat membuat api dengan menggunakan pecahan piring yang dipukulkan pada ruas bambu kering. Pukulan ini menghasilkan percikan bunga api yang langsung membakar bulu nibung.

Korek api tradisional suku Mbaham di Kampung  Woos, Distrik Mbahamdandara, Fakfak, Papua Barat. (Foto : Hari Suroto)

“Oleh suku Mairasi, batu api dengan bulu nibung disimpan dalam wadah dari bambu kecil. Wadah bambu ini selalu dibawa kemana pun mereka pergi beraktivitas,” ungkapnya.

Ada juga hal yang sama pada suku Dani di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua membuat api dengan metode sekau balin, atau tali api. “Karena itu kemana pun mereka pergi, mereka selalu membawa segulung tali rotan, kayu dengan belahan di tengahnya, serta bulu kering pohon nibung, agar mereka dapat membuat api setiap kali mereka merasa dingin atau hendak membakar ladang, memasak dan sebagainya,” ujarnya.

Untuk membuat api, Hari jelaskan bahwa kayu dengan bulu-bulu nibung yang diselipkan di dalam belahannya, diletakkan di tanah yang telah dilapisi dengan daun-daun kering, kemudian dilingkari dengan tali rotan. Sambil berdiri dengan kedua kaki di atas kayu, dan kedua tangan masing-masing memegang ujung tali rotan, tali tersebut digesek-gesek dengan kecepatan yang tinggi.

“Panas yang ditimbulkan pada kayu, kemudian membakar bulu-bulu nibung, dan dengan beberapa tiupan saja sudah dapat menyala. Tali rotan yang yang digunakan tentu akan turut terbakar dan kemudian putus,” jelasnya.

Suku Yali, lanjut Hari, membuat api dengan menggunakan sebuah tali rotan sebagai korek api. Untuk membuat api, seorang suku Yali akan mengambil sepotong rotan dari pakaian mereka, kira-kira sepanjang 60 sentimeter. Rotan itu lalu dililitkan ke sepotong kayu yang diletakkan di atas tanah, dikelilingi dengan rumput dan dahan kering.

Lalu, pria Yali tersebut akan berdiri, dengan masing-masing kaki menginjak ujung kayu. “Dengan tangan, mereka akan menarik tali rotan yang dililitkan tadi dengan cepat naik turun digesekkan ke kayu, sampai keluar asap, api mulai menyala, dan ujung tali putus terbakar. Setelah itu, mereka menutupi kayu tersebut dengan rumput dan meniup sampai terjadi kobaran api yang besar,” katanya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

62 − = 56