Cycloop Sentani butuh perhatian

Papuaunik, – Bagi para penumpang pesawat tujuan Bandara Sentani, Jayapura, begitu mendarat langsung akan melihat jajaran pegunungan yang menjulang tinggi. Itulah pegunungan Cycloop. Panjang pegunungan ini sekitar 36 kilometer, membentang dari barat ke timur.

Pegunungan ini menjadi pembatas antara Danau Sentani dan Samudera Pasifik. Sebenarnya penduduk asli Jayapura sebagai pemilik hak ulayat ini dari zaman nenek moyang mereka, telah menamai pegunungan ini dengan nama Dafonsoro.

Namun, pada tahun 1768, LA Bougainville pelaut Eropa yang berlayar dan berlabuh di Teluk Yos Sudarso, Kota Jayapura, menamai pegunungan ini dengan nama Cycloop.

“Begitulah kebiasaan penjelajah Eropa pada waktu itu, tidak pernah bertanya kepada penduduk asli setempat, langsung seenaknya saja memberi nama daerah baru yang dia kunjungi dengan sesuka hatinya,” kata Arkeolog Senior Papua Hari Suroto di Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (08/10)

Nama Cycloop sendiri berasal dari mitologi Yunani yang berarti raksasa bermata satu. Ia adalah putra dari Dewa Poseidon dan Dewi Thoosa.

Pegunungan Cycloop menjadi habitat fauna endemik Papua, di antaranya burung cenderawasih, kuskus, dan kangguru pohon. Pegunungan Cycloop merupakan sumber air bagi Danau Sentani, namun saat ini kondisinya sangat memprihatinkan.

Banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua pada Maret 2019. Banjir ini terjadi karena curah hujan yang tinggi dan penebangan liar di Gunung Cycloop.(Foto : Engel Wally)

“Saat ini telah terjadi penebangan liar, penambangan galian C liar, pembukaan lahan untuk pemukiman dan pendulangan emas liar,” katanya dengan nada kecewa.

Jika hal ini terus menerus berlangsung, dan tidak segera dihentikan maka lama kelamaan, Danau Sentani akan mengering. Selain itu jika terjadi hujan lebat, dikhawatirkan akan terjadi tanah longsor di Jayapura.

“Dua tahun yang lalu, banjir dan tanah longsor melanda Sentani, Jayapura, akibat dari rusaknya cagar alam Cycloop atau Dobonsolo. Rusaknya lingkungan ini karena ulah manusia yang merusak Cycloop, penebangan liar atau membuka lahan untuk berkebun,” katanya.

Kearifan lokal berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Sentani perlu digali dan dilestarikan bahwa di Cycloop merupakan dunia dewa. Cycloop dipercaya sebagai rumah Dewi Pemberi Kehidupan yaitu Hokaimiyae atau ibu pertiwi.

Selain itu Cycloop juga dijaga oleh empat dewa lainnya yang menyebar ke empat arah mata angin, yaitu timur (nu), barat (wai), selatan (ebun), dan utara (dobon). Tiga dewa yang disebut pertama adalah dewa yang mendatangkan petaka, yaitu penderitaan, kesengsaraan, dan berbagai macam penyakit termasuk banjir dan tanah longsor. Dewa Dobon dianggap sebagai dewa yang mendatangkan kemakmuran.

Dalam budayanya, masyarakat Sentani percaya bahwa ondofolo atau pemimpin adat tertinggi adalah representasi dewa di bumi. Mereka percaya bahwa dari mulut ondofolo hanya ada dua kata, yaitu berkat (onomi) dan kutuk (pelo). “Berkaitan dengan hal pelestarian Cycloop, ondofolo sangat berperan penting untuk mengingatkan warganya agar tidak merusak Cycloop yang berakibat dewa yang tinggal di Cycloop marah,” ujarnya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 + 4 =