Save Cenderawasih

Papuaunik, – Saat ini sedang ramai penolakan burung Cenderawasih sebagai souvenir PON XX di Papua.

Hari Suroto yang ditemui wartawan mengatakan sebenarnya, secara hukum formal, pemerintah Provinsi Papua telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 660.1/6501/SET tanggal 5 Juni 2017 tentang larangan penggunaan burung cenderawasih sebagai aksesoris dan cinderamata.

“Namun, dalam surat edaran ini, masih diperbolehkan penggunaan burung Cenderawasih asli dalam setiap proses adat istiadat yang bersifat sakral,” katanya di Jayapura, Senin (04/10).

Dalam tradisi Papua, kata Hari, mahkota burung Cenderawasih selama ini hanya boleh dikenakan oleh tokoh adat seperti ondoafi untuk daerah pesisir atau kepala suku untuk wilayah pegunungan, itupun dipakai sebatas hanya pada saat acara adat atau sakral saja.

“Menurut Wulf Schiefenhövel, profesor antropologi dari Max Planck Institute for Ornithology Jerman, dalam komunikasi pribadi melalui surat elektronik, mengatakan burung cenderawasih harus dilindungi dan tidak dijual-belikan,” kata arkeolog senior Papua.

Namun, lanjut Hari, berkaitan dengan nilai sakral burung Cenderawasih seperti yang disebutkan dalam surat edaran Pemerintah Provinsi Papua, Wulf mengatakan burung Cenderawasih berdasarkan penelitiannya sejak 1974 hingga saat ini, dalam konteks budaya Papua tidak sepenuhnya sakral.

“Misalnya dalam pesta adat di dataran tinggi Papua, burung Cenderawasih berfungsi sebagai hiasan tradisional, demonstrasi kecantikan, kekayaan, juga politik tradisional (relasi pertukaran) dan sebagainya,” jelasnya.

“Untuk beberapa suku tertentu, burung Cenderawasih merupakan bagian dalam pemberian mas kawin, hal ini bukanlah proses sakral, tetapi lebih pada transaksi profan dalam konteks sosial,” sambungnya.

Burung Cenderawasih adalah fauna endemik Papua, Papua Nugini dan Australia bagian utara. Bahkan oleh negara Papua Nugini (PNG), burung Cenderawasih dijadikan lambang negara dan bendera nasional.

Dalam konteks PON XX, burung Cenderawasih tidak boleh digunakan untuk menyambut tamu PON di Bandara Sentani, tidak boleh dijadikan souvenir maupun oleh-oleh, baik itu dalam bentuk awetan maupun burung hidup. 

“Karena masih ada oleh-oleh PON lainnya, yaitu noken yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia,” katanya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 71 = 80