Nakes Pegubin gelar aksi long mars dan bakar 1.000 lilin bentuk duka cita

Papuaunik, – Sebanyak 250 tenaga kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) menggelar aksi long mars dan bakar 1.000 lilin sebagai bentuk duka cita atas gugurnya rekan sejawat mereka akibat kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Kiwirok.

Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Cahyo Sukarnito SIK, MKP mengatakan aksi long mars dan bakar 1.000 lilin ini dipimpin oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang Sabinus Uropmabin yang dimulai pada pukul 15.00 WIT hingga pukul 18.00 WIT dengan rute sepanjang Jalan Protokol di Kota Oksibil, Pegunungan Bintang.

“Rute diawali dari Jalan Kabiding menuju Pertigaan Mabilabol dilanjutkan pembacaan pernyataan sikap dan bakar 1.000 lilin dilanjutkan kembali aksi damai long mars dan pemasangan bendera hitam sebagai tanda duka yang mendalam atas gugurnya rekan sejawat mereka dalam tugas pengabdian pelayanan kesehatan di Distrik Kiwirok,” katanya.

Sebagaimana diketahui bahwa pada Senin 13 September 2021 pagi terjadi penyerangan dan pembakaran yang dilakukan oleh KKB di Distrik Kiwirok yang menyebabkan korban beberapa Nakes dalam hal ini dokter, mantri dan perawat.

Salah satu nakes yang dinyatakan gugur atas nama Suster Gabriela Meilani umur 22 tahun setelah diserang KKB.

Hingga kini jenazah belum bisa dievakuasi karena sulitnya medan di kedalaman sekitar 500 meter juga cuaca di Kiwirok yang tidak mendukung dilaksanakan evakuasi.

Aksi damai long mars berakhir di halaman Polres Pegunungan Bintang yang dilaksanakan dengan doa bersama para nakes dan tokoh agama serta Kapolres dan para personel Polres Pegunungan Bintang.

Dalam pernyataan sikap para nakes yang dibacakan oleh Sabinus Uropmabin mengatakan bahwa, nakes adalah garda terdepan pelayanan kesehatan masy yg seharusnya dilindungi oleh negara dan seluruh lapisan masyarakat.

“Para nakes prihatin dan menyesalkan aksi kekerasan yg dialami para sejawat mereka di Distrik Kiwirok yang menimbulkan korban jiwa serta satu nakes belum diketahui nasibnya,” katanya.

Dengan ditariknya nakes di Distrik distrik dan kampung-kampung maka pelayanan kesehatan ke masyarakat secara otomatis berhenti tapi jangan salahkan para nakes karena ini bukan kehendak mereka.

“Para nakes hadir dan melayani di Kabupaten Pegunungan Bintang bukan untuk membunuh apalagi dibunuh,” ujarnya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

97 − = 94