Pro dan kontra penggunaan mahkota Cenderawasih saat PON

Papuaunik, – Belakangan ini muncul kampanye yang melarang penggunaan mahkota Cenderawasih sebagai sovenir untuk PON XX, kampanye ini kemudian menuai berbagai reaksi, ada yang pro namun banyak juga yang kontra

Redaksi Papuaunik.com mencoba berbincang dengan seorang antropolog sekaligus aktivis lingkungan di Papua, Yasminta Rhidian Wasaraka mengenai isu yang belakangan viral.

“Menurut saya harus didudukan dulu soalnya. Sebab dalam ilmu komunikasi dan antropologi ada yang namanya benda, simbol, makna dan nilai, semua berkaitan erat,” katanya mengawali pembicaraan.

Misalnya di Pulau Jawa ada motif batik tertentu yang hanya boleh dipakai oleh raja atau sultan dan tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata. “Jadi, mau itu motifnya dicetak di kain katun, sutra atau blacu tetap tidak boleh karena nilai sakralnya itu,” contohnya.

Dalam hal kampanye pelarangan mahkota Cenderawasih, kata Dian sapaan akrabnya, apa yang dilarang? Apakah mahkotanya karena dipakai oleh kepala suku atau panglima perang beberapa suku di Papua? Atau hanya burung Cenderawasih saja yang memang secara UU Konservasi dan masuk dalam daftar Red list IUCN dan CITES APENDIX II?

“Kalau mahkotanya yang dilarang maka, mau pakai imitasi atau asli yah tidak boleh, karena nilai dari mahkota itu sebagai benda budaya yang keramat, sakral dan suci yang hanya boleh dipakai oleh orang pemimpin,” jelas Sekretaris Eksekutif Perkumpulan Rumah Belajar Papua (RBP) itu.

Tapi kalau yang dikampanyekan adalah “burung cenderawasihnya” yang memang sudah langka, maka bukan hanya mahkota, tapi apapun yang menggunakan bagian dari burung cenderawasih patut dilarang.

Yayan Sopian

“Akan tetapi kalau imitasi harus diperbolehkan,” pungkas perempuan yang baru saja mendapatkan penghargaan dari Women Earth Alliace.

Dian yang juga dosen komunikasi antar budaya menambahkan, “Bicara konservasi satwa maka akan bicara tentang konservasi habitat, tapi itu tidak cukup…harus juga bicara tentang kesejahteraan manusianya,” katanya.

“Saat ini kami sedang menginisiasi program kopi hutan di beberapa tempat di Papua, yakni kaki gunung Cycloop, Wamena dan Korowai. Kami percaya apa yang kami lakukan walau pelan tapi akan berdampak besar, untuk fauna, hutan dan iklim global,” ujar Dian, ibu dua anak itu.

Sementara itu, Yayan Sopian Kepala Devisi Pendidikan Perkumpulan Rumah Belajar Papua (RBP) menegaskan bahwa masyarakat umum perlu diedukasi kenapa Cenderawasih dilindungi sebab jumlah populasi yang semakin menurun.

“Saya pikir saat ini sudah banyak masyarakat dan pejabat yang sadar akan pentingnya menjaga kelestarian cenderawasih.
RBP sendiri sudah memulainya sejak beberapa tahun lalu dengan memasukannya dalam materi PLH yang diinisiasi sebagai materi pendidikan untuk anak usia dini (PAUD dan TK) serta pendidikan atas (SMU),” ungkapnya.

Ketiganya, lanjut dia, adalah kampanye yang tepat, pendidikan lingkungan yang terus menerus dan alternatif mata pencarian bagi masyarakat, tentunya akan memberikan dampak yang lebih nyata dilapangan untuk perlindungan burung yang berjuluk burung surga ini.

“Saya kira harus lebih padu dan mengedepankan kearifan lokal,” jelas Yayan, jebolan S2 Virginia, Amerika Serikat itu.(dsb/Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 39 = 47