Catatan kecil Paulus Waterpauw untuk tim Voli PON Putri Papua

Papuaunik, – Setelah melihat pertandingan uji coba empat tim Voli PON berlaga di GOR PPOP Ragunan Jakarta pada Sabtu (28/08), Komjen Pol Paulus Waterpauw mencatat sejumlah hal terkait kelemahan ataupun kelebihan dari tim Voli Papua.

Dalam uji coba ini diikuti empat provinsi antara lain Papua, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Sebuah catatan saja sebagai masukan tim putra atau putri pertama, secara individual pemain putra atau putri PON Papua rata-rata memiliki kemampuan spiker lebih baik dari Tim DKI dan beberaoa tim lainnya,” kata Kepala Badan Intelejen Keamanan (Kabaintelkam) Polri itu.

Hanya saja, kemampuan service masih sangat standart atau belum memiki daya serang ke pertahanan lawan, akibatnya lawan mudah mengatur pola serangan secara variatif atau balik menyerang.

“Pertahanan para pemain saat terima service lawan cukup baik, namun masih sering tidak bereaksi cepat saat lawan menyerang dengan bola “plesing” dimana menempatkan bola tipuan diposisi 6 dan tidak ada reaksi yang cepat dari tiga pemain belakang,” kata mantan Kapolda Sumatera Utara itu.

Kecenderungan ini, kata dia, masih sering terjadi dan terlihat saling berharap untuk siapa yang mendahului atau berinisiatif mengambil bola tersebut sehingga menguntungkan lawan untuk mendapat poin dengan sangat mudah.

Lalu, penyakit gagal service bola masih terlihat bagi tim putri Papua, dimana saat lawan tim DKI terhitung beberapa kali kegagalan. Tim Papua sangat sering mati atau tersangkut net diset awal sehingga menyebabkan lawan tanpa bekerja keras sudah bisa memetik beberapa poin akibat dark kegagalan service bola.

“Mohon hal ini menjadi perhatian khusus korps pelatih dalam mengatur ritme permainan, karena dalam catatan saya dan beberapa teman penyelenggara sebagai mantan pemain voli ada ketidakjelian pelatih, menjadi salah satu penyebab utama kegagalan tim Voli putra atau putri Papua,” ungkapnya.

Komjen Pol Paulus Waterpauw berikan cenderamata kepada perwakilan tim voli PON putri Papua

Alasannya, pertama yakni terlalu memaksa pemain para inti yang sudah tidak performa lagi baik dalam daya serang maupun reaksi akibat kelelahan bermain saat pagi hari melawan Tim Jateng, padahal banyak negara sudah menggunakan konsep pemain pengganti adalah pembunuh tim lawan sesungguhnya.

“Hal ini tidak sesegeranya mengoreksi kelemahan tim akibat gagal service bola pertama atau posisi pemain karena sangat sering terlihat belum padu,” ujarnya.

Para pelatih, tidak segera mengoreksi terkait reaktif mengambil bola-bola plesing lawan diposisi 6. “Karena dalam pengamatan kami, bahwa kecenderungan pemain pada posisi 1-6-5 sangat sering membentuk pertahanan belakang setengah lingkaran sehingga area posisi 6 terlalu “kosong” dan tidak ada pembagian tugas untuk mengcover area kosong posisi 6 yang secara kasat mata dimanfaatkan lawan berulang-ulang dengan tipuan maupun plesing diposisi tersebut,” katanya.

Komjen Pol Paulus Waterpauw menggaris bawahi bahwa keberhasilan sebuah tim di lapangan tidak hanya oleh kemampuan individu dan kekompakan para pemain.

“Tetapi akan sangat tergantung kejelian dan strategi yang dimainkan oleh seorang pelatih dan jajarannya. Semoga ini menjadi catatan bagi tim putri (putra juga) PON Papua yang sudah hampir memasuki waktu dua tahun dalam pelaksanaan TC, dimana Pengprov PBVSI Papua menjadikan target utama tim putri bisa mempersembahkan emas dalam PON XX Oktober 2021 yang tersisa 35 hari lagi karena sebagai tuan rumah yg memiliki kans besar untuk capai target tersebut,” ujarnya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 1 =