Kerusuhan Elelim, contoh perebutan kekuasaan di Papua

Hasil dari rebutan kekuasaan di level kabupaten di Papua. Terjadi kerusuhan dan pembakaran fasilitas publik di ibu kota Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua pasca putusan sengketa hasil Pilkada Yalimo pada Selasa (28/06) di Mahkamah Konstitusi (MK) Jakarta.

Ini belum jadi negara sendiri. Kalau jadi negara sendiri, bisa timbul perang saudara karena rebutan kursi Presiden West Papua.

Cerminannya bisa di lihat dari rebutan kekuasaan kursi ketua ULMWP dari Octovianus Mote ke Benny Wenda. Sampai sekarang api perseteruhan ini belum padam.

Demikian juga posisi Panglima tertinggi TPN OPM. Jenderal Goliat Tabuni adalah panglima tertingginya sesuai hasil putusan bersama Mubes TPN OPM di Biak, awal Mei 2012. Namun posisi Panglima Tertinggi TPN OPM sekarang sudah diambil alih Matias Wenda, yang memimpin West Papua National Army.

Perebutan atau kudeta posisi Panglima Tertinggi dari tangan Goliat Tabuni, dirancang oleh Benny Wenda dan Sam Karoba. Munculnya konflik internal rebutan kekuasaan dalam kelompok nasionalis Papua, membuat muncul kekuatiran akan PERANG SAUDARA di Papua, tinggal menunggu momentum muncul ke permukaan.

Tinggal dicari alat pemantiknya. Alat pemantiknya bisa isu rasisme, isu pilkada, isu gunung dan pantai, isu pro-M versus pro-O, pro-ULMWP versus pro-TPN OPM, dan isu – isu sensitif lainnya. Sangat mudah menyulut konflik dan kekerasan di Papua.

Orang Papua saat ini ibarat rumput kering. Dilempar korek api atau bara api, langsung terbakar. Ketika terbakar, bisa cepat membesar dan membakar siapa saja. Inilah karakteristik masyarakat Papua saat ini.

Mau merdeka dan menjadi negara sendiri dengan karakter masyarakat seperti ini ?. Mari kita berhitung dan mengakalkulasinya dengan baik. Gunakan akal sehat, karena hanya dengan logika dan akal sehat, kita bisa selamatkan masa depan Papua.

Oleh: Marinus Yaung

Akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − = 11