Tutari ditampilkan di Bali

Papuaunik, – Situs Megalitik Tutari berada di Bukit Tutari, tepi Danau Sentani, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. 

Permukaan Bukit Tutari terdapat bongkahan batu berlukis berjumlah 83 buah dengan rincian 80 buah bongkahan batu hanya mempunyai satu sisi bidang lukis, sebuah bongkahan batu mempunyai dua sisi bidang lukis, dan dua buah bongkahan batu mempunyai dua bidang lukis. 

Jumlah lukisan yang ada sebanyak 138 buah, 135 buah masih dapat diklasifikasikan bentuk lukisannya, sedangkan sisanya sudah sangat aus dan tidak jelas. Lukisan-lukisan tersebut yaitu bentuk manusia sebanyak 17 buah, biawak 17 buah, kura-kura 14 buah, satu ular dan satu burung, geometris sebanyak 15 buah, flora sebanyak 3 buah dan kapak batu sebanyak tiga buah.

Motif Megalitik Tutari harus dilestarikan, salah satu caranya yaitu dengan menghidupkannya kembali pada seni masa kini termasuk pada seni kontemporer. Ini adalah bagian dari kontribusi penelitian arkeologi pada ruang lingkup SDGs atau Sustainable Development Goals disebut juga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. 

Salah satu pelestarian Motif Megalitik Tutari yaitu dalam bentuk Seni virtual, Situs Megalitik Tutari dikemas dengan konsep koreografi lingkungan. Seni Virtual bertema Situs Megalitik Tutari merupakan kolaborasi antara Komunitas Tifa Kamp Wolker Waena Jayapura dengan ISBI Tanah Papua dan Balai Arkeologi Papua

Dalam koreografi lingkungan ini, mahasiswa ISBI Tanah Papua bergerak pada lingkungan di sekitar Situs Megalitik Tutari untuk berkarya, menari, melukis dan sebagainya. Mahasiswa dapat merespon objek itu.

Seni Virtual bertema Situs Megalitik Tutari ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali yang berlangsung 12 Juni-10 Juli 2021, bertempat di Taman Budaya Bali dan ISI Denpasar. Seni Virtual ini berjudul Aku Papua: dari Bali untuk Indonesia. 

Selain pemutaran film melalui kanal Youtube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali juga dilakukan diskusi tatap muka bertema Situs Megalitik Tutari dengan narasumber Prof. Dr. I Wayan Rai S selaku guru besar ISI Denpasar yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Rektor ISBI Tanah Papua, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha selaku kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali  dan Drs. Gusti Made Sudarmika, kepala Balai Arkeologi Papua.(Hari Suroto/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 53 = 63