Billy Mambrasar bertemu Dirjen Dikti perjuangkan aspirasi dosen Papua

Papuaunik, – Setelah bertemu dengan Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen), Universitas Papua (Unipa) dan melakukan telepon video daring dengan para dosen, serta menerima surat aspirasi dari komunitas dosen asli Papua, Staf Khusus Presiden Bidang Pendidikan, Kewirausahaan, Pemuda dan Papua, Billy Mambrasar, berjuang, melanjutkan aspirasi tersebut ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud Ristekdikti).

Billy Mambrasar, bertemu langsung dengan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbud ristekdikti yakni Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, Asean Eng. Dirjen Dikti didampingi oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, M.P, bertempat di Kantor Kemendikbudristekdikti, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (07/06).

“Saya melakukan ini demi mendorong kemajuan pengembangan Sumber Daya Manusia di tanah kelahiran saya, yakni: Papua. Pendidikan di Papua maju, maka pembangunan akan juga maju, dalam segala bidang, karena manusia adalah kuncinya”, ujar Billy Mambrasar.

Pertemuan tertutup di ruang rapat Dirjen Dikti tersebut berlangsung hampir dua jam, diikuti dengan kunjungan ke pusat pengolahan data Dirjen Dikti, yang menunjukkan data langsung perkembangan Pendidikan tinggi di Indonesia, dalam sebuah sistem teknologi digital dan IT yang canggih.

Adapun berikut ini adalah lima aspirasi yang disampaikan langsung kepada Dirjen Dikti untuk dapat di tindak lanjuti:

  1. Akselerasi percepatan perubahan Status Satuan Kerja dari beberapa perguruan diubah menjadi PTN BH atau PTN BLU. Proses ini juga termasuk memberikan bantuan dan Pendampingan utk Akreditasi jurusan dan Fakultas demi tercapainya proses ini juga dapat dibantu.
  2. Pendampingan dan Fasilitasi utk Pencapaian status Guru besar, serta bantuan utk riset dan pengembangan teknologi dan pengetahuan, kepada dosen-dosen di Papua
  3. Adanya skema perekrutan secara khusus berbasis daerah dan kebutuhan lokal kampus untuk perekrutan tenaga kerja Orang Asli Papua (OAP) Karena kurangnya jumlah dosen OAP dibandingkan dengan Dosen Non OAP
  4. Kuota khusus kepada OAP untuk mengikuti program-program beasiswa untuk dapat melakukan studi baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dan meningkatkan batas usia menjadi 50 tahun karena banyak yang terlambat berkarir menjadi dosen karena berbagai faktor.
  5. Beasiswa Afirmasi diberikan kepada OAP. Verifikasi keaslian dikeluarkan oleh MRP, tidak perlu verifikasi Ijazah SD, SMP dan SMA lagi.

“Saya bersyukur bahwa aspirasi itu dapat diterima dengan baik, dan setelah ini saya akan terus mengawal. Saya mungkin juga akan menindak lanjuti dengan Lembaga lain, misalnya LPDP. Saya yakin, LPDP akan dengan terbuka menerima masukan aspirasi ini dengan Baik”, ujar Billy Mambrasar, yang juga adalah seorang penerima beasiswa LPDP.

Stafsus Presiden Billy Mambrasar, dalam momen tersebut memuji kinerja Dirjen Dikti, yang telah menggunakan teknologi berbasis data yang tinggi dan terintegrasi, untuk mengelola kemajuan Pendidikan Tinggi di Indonesia.

“Saya mengapresiasi penuh Kinerja Mas Menteri Nadiem, Pak Dirjen, Prof Nizam, dan Bu Sekretaris, Ibu Paristiyanti, beserta seluruh jajarannya, yang telah melakukan pembangunan sistem berbasis Data dan IT yang sangat canggih dan terintegrasi ini. Saya lihat bahwa apabila ini dilakukan di seluruh sektor dan kementerian di Indonesia, percepatan pembangunan akan dicapai, dalam waktu yang singkat”, Ujar Billy Mambrasar.(Humas Stafsus Billy Mambrasar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 2 =