Piter Gusbager, contoh pemimpin daerah perhatikan OAP

Segenap pemuda dan komponen masyarakat harus memberi dukungan kepada bupati Keerom, bapak Piter Gusbager. Menurut saya , salah satu pemimpin daerah yang memiliki kesungguhan untuk mempersiapkan Orang Asli Papua (OAP) adalah beliau.

Bahkan jika hari ini kita amati pada 40 kabupaten kota di Papua dan Papua Barat, menurut saya beliau termasuk yang menunjukan komitmen untuk mengatasi marginalisasi OAP. Kita bisa lihat bagaimana penempatan OAP dalam jabatan-jabatan dan posisi strategis dalam pemerintahan. Hal ini menjadi konsen beliau.

Memang, bahwa dengan menempatkan OAP dalam posisi strategis tidak serta merta masalah selesai. Tetapi paling tidak melalui upaya tersebut, OAP diberi kesempatan untuk menunjukan kompetensi dan kerja keras.

Saya pikir itu sebuah langkah maju. Dan saya yakin pak Piter akan memastikan melalui kontrol bahwa OAP yg menempati posisi tersebut tidak boleh main-main.

Kita tidak bisa begitu saja mengatakan OAP tidak mampu. Ada dua faktor utama yang membuat stigma tidak mampu ini berkembang. Pertama kesempatan belum diberikan. Dan yang kedua kesempatan sudah diberikan tetapi sistem tidak berjalan untuk mengawasi.

Contohnya soal dana otsus. Ada pandangan yang mengatakan OAP tidak mampu mengelola. Kita seolah lupakan bahwa sistem pengawasan seperti hukum, kepolisian, kejaksaan dan KPK misalnya itu menjadi kewenangan Pemerintah pusat. Soalnya kemudian ialah mengapa lembaga-lembaga ini tidak memainkan peranannya?

Mengapa pemerintah pusat tidak memastikan lembaga-lembaga ini untuk perketat pengawasan, bila perlu tangkap pejabat yang nakal? Tentu tidak salah jika ada pandangan bahwa pemerintah pusat sengaja mendesign ketidakmampuan OAP. Alasannya sederhana: pemerintah pusat tidak memainkan fungsi pengawasan.

Saya sungguh berharap melalui kepemimpinan bung Piter Gusbager, kita mendapatkan contoh dan standar yang tinggi tentang seorang kepala daerah yang mampu memberi peluang kepada OAP tetapi mengawal ruang tersebut dengan pengawasan yang baik.

Keteladanan adalah hal yang kita perlukan menghadapi apatisme terhadap pemerintahan seperti saat ini di Indonesia. Saat ini untuk wilayah adat Tabi, langkah pak Piter sudah terlihat. Dalam 100 hari kerja beliau saja hal ini sudah terlihat.

Karena itu saya menghimbau juga kepada DPRD Kabupaten Keerom supaya menyatukan langkah untuk mengawal apa yang sudah dilakukan pak Bupati. Jangan lagi perbedaan politik saat pilkada masih terbawa-bawa. Jika DPRD tidak mengawal proses ini bukan tidak mungkin masyarakat Keerom akan menghukum partai dan calonnya di pemilihan legislatif mendatang.

Saya berharap langkah beliau di pemerintahan bisa secara bertahap dikembangkan ke bidang wirausaha. Saya pikir hal ini sudah barang tentu dipikirkan oleh pak bupati. Kuncinya ada dua, berikan kesempatan dan awasi.

Ada tanggung jawab besar dipundak pak bupati Keerom yaitu membuktikan bahwa stigma OAP tidak mampu adalah kekeliruan berpikir. Dan untuk itu, selalu ada doa untuk pak Bupati semoga Tuhan selalu memberi hikmat untuk memimpin dan mengangkat harkat dan martabat OAP khususnya di kabupaten Keerom.

Habelino Sawaki, SH., MSi (HAN), Pemerhati pemerintahan daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 18 =