Danrem 172/PWY terima audiensi dengan Rumah Belajar Papua

Papuaunik, – Komandan Korem (Danrem) 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan menerima audiensi dengan Rumah Belajar Papua (RBP) di Makorem Padang Bulan, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat siang.

Dalam audiensi itu, ketua rombongan Rumah Belajar Papua Yasminta Rhidian Wasaraka datang bersama sejumlah anggotanya yakni Yayan, Heri dan Alfian memperkenalkan diri dan organisasi yang intens disejumlah bidang seperti lingkungan dan pendidikan.

“Kenalkan, kami dari Rumah Belajar Papua. Saya Yasminta Rhidian Wasaraka akrab dipanggil Dian, dan ini tiga rekan saya Yayan, Heri dan Alfian,” katanya membuka percakapan dengan Danrem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan yang didampingi Kasiter Letkol Inf Nur Heru.

Pada momentum itu, Dian menjelaskan sejumlah hal terkait sepak terjang organisasi yang dibentuknya bersama sejumlah pihak yang sangat peduli dengan lingkungan sekitar, termasuk apa saja yang telah dan akan dilaksanakan oleh Rumah Belajar Papua.

“Bersama sejumlah pemangku kepentingan, Rumah Belajar Papua telah menggelar sejumlah kegiatan di antaranya Festival Cycloop yang dilakukan sejak 2018, pendampingan kepada anak-anak yang alami perundungan, juga berbagai pelatihan literasi, salah satunya bekerjasama dengan Facebook Indonesia,” jelas Dian.

Mendengar hal itu, Brigjen Izak memberikan apresiasi kepada Rumah Belajar Papua yang begitu peduli dengan pelestarian lingkungan terutama di Cagar Alam Cycloop.

“Terkait Cycloop yang mengalami kerusakan sehingga terjadi bencana, ini perlu kita selamatkan. Tapi kita harus bijak sikapi masalah ini. Kita perlu sama-sama memberikan solusi, karena pemerintah sedang konsen bersama. Saat ini, saya lagi rekornas terkait bencana via zoom,” katanya.

Apalagi, lanjut mantan Danrindam XVII/Cenderawasih, Korem 172/PWY memiliki wilayah yang cukup luas hingga ke arah pegunungan sehingga perhatian bukan saja soal masalah keamanan tetapi bagaimana membantu warga setempat dalam melestarikan lingkungan dengan memberikan solusi yang baik.

“Banjir ini juga kan ulah manusia. Tapi kita harus dorong semua pihak untuk peduli, kalau hanya sosialiasi lewat buku mungkin belum maksimal tapi perlu dorongan, ini kita perlu strategi untuk bagaimana memelihara, manusia bisa menjaga lingkungan dan hidup bersama,” ujarnya.

Upaya penanaman kembali di Cagar Alam Cycloop, kata dia, perlu dilakukan dengan cara tumpang sari, misalnya pohon besar diselingi dengan tanam vanili yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

“Dengan begitu warga di sekitar Cagar Alam Cycloop tidak akan menebang pohon sembarangan karena ada vanili yang mempunyai nilai ekonomi. Ini adalah salah satu ide untuk membantu menyelamatkan Cycloop. Kita harus gaungkan ini,” katanya.

Alumni Akabri 1990 itu, menambahkan bahwa penanaman pohon dengan cara tumpang sari perlu diberikan contoh, sehingga warga sekitar bisa tertarik dan ikuti jejak tersebut.

“Harapannya Rumah Belajar Papua bisa mendorong ini dengan melibatkan warga sekitar juga pemangku kepentingan,” pinta Brigjen Izak.

Menangapi hal itu, Dian bersama sejumlah rekan-rekannya mengaku sepakat dengan ide dari jenderal bintang satu itu.

“Kami bangga jika jenderal peduli lingkungan, hal ini akan menjadi contoh atau salah satu solusi dalam penyelematan Cycloop,” katanya.

Diakhir audiensi, Dian memberikan buku tentang Suku Koroway kepada Danrem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan sebagai referensi tentang salah satu kehidupan suku di pedalaman Papua.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

27 + = 35