Aksi TPN-OPM bisa dikategorikan kelompok teroris

Papuaunik, – Aksi Tentara Pembebasan Nasional Operasi Papua Merdeka (TPN-OPM) bisa dikategorikan sebagai kelompok teroris karena membakar pesawat milik Mission Fellowship (MAF) dengan nomor PK-MAX di bandara perintis Kampung Pagamba, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada Rabu (06/01).

Kepala Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua Frits Ramandey mengatakan dalam konteks HAM, aksi tersebut telah melanggar prinsip-prinsip HAM tentang pelayanan publik.

“Apapun alasannya membakar pesawat sebagai salah satu fasilitas publik, kelompok sipil bersanjata di Papua itu bisa dikategorikan kedalam kelompok teroris. Jadi, ini harus sangat hati-hati, karena kelompok ini bisa dinilai demikian,” katanya ketika dihubungi dari Kota Jayapura.

Ia menegaskan bahwa kejahatan itu berpotensi menjadi pintu masuk untuk kemudian gerakan sipil bersenjata di Papua itu bisa diketegorikan sebabai organisasi teroris.

“Jangan sampai ini terjadi. Karena ini yang dilakukan adalah mengancam (membakar) fasilitas publik, dan harus diingat bahwa semua penerbangan sipil, ketika diancam itu bisa memenuhi unsur untuk ditetapkan sebagai sebuah organisasi teroris,” katanya.

“Walaupun kalau kita lihat struktur TPN-OPM di Papua memang kita tidak bisa kategorikan sebagai organisasi teroris, memang tidak bisa? Tetapi dari tindakan-tindakan seperti ini (membakar/ancam) bisa dilakukan pendekatan-pendekatan untuk menumpas kelompok yang didalam tanda kutip begitu, kita tidak sangat diharapkan,” katanya.

Frits mengaku bahwa Komnas HAM belum sempat ke TKP di Kampung Pagamba, namun berdasarkan pengakuan di publik bahwa pesawat milik MAF itu sengaja dibakar.

“Dan kami akan mencoba berkomunikasi dengan juru bicara OPM untuk meminta dengan sangat hormat dan atas nama kemanusiaan agar hal ini tidak dilakukan lagi,” katanya.

Mantan Ketua AJI Jayapura itu juga mengemukakan bahwa peristiwa itu telah membuat sejumlah pihak bertanya-tanya kepada Komnas HAM.

“Komnas HAM telah mendapatkan beberapa pertanyaan atau klarifikasi terutama dari Kedutaan Besar Amerika Serikat dan kedutaan lain, tentang tindakan ini. Jadi, ini sangat disayangkan dan kita minta kepada juru bicara OPM untuk kemudian memberitahu kepada anak buahnya yang ada di belantara untuk tidak kemudian melakukan serangan-serangan dan sejenisnya kepada fasilitas publik dan sarana yang memberikan pelayanan publik,” katanya.

Pengancaman dan pembakaran pesawat milik MAF itu memberi pesan buruk kepada gerakan pembesasan kepada orang Papua, tapi juga sekaligus ini akan mengisolasi masyarakat di wilayan pedalaman.

“Kita harus ingat bahwa MAF itu punya Amerika, jadi jangan buat hal yang kurang pantas. Apalagi ada aksi dan pengakuan, bahwa itu sudah menjadi petunjuk, ini sangat disayangkan dan kemudian ini masuk dalam kategori pelanggaran hukum yang serius,” katanya.

Pesawat MAF PK-MAX yang di piloti warga negara Amerika Serikat atas nama Alex Luferchek dibakar oleh TPN-OPM di bandara perintis Kampung Pagamba ketika hendak kembali ke Nabire.

Beruntung pilot tersebut berhasil ditolong oleh para pendeta dan warga setempat dengan mengevakuasi ke Kampung Tekai perbatasan antara Kampung Bugalaga dan Kampung Pagamba, Distrik Mbiandoga Kabupaten Intan Jaya, sehingga luput dari aksi kekerasan TPN-OPM.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

59 − = 53