Pembakaran pesawat MAF preseden buruk perjuangan pembebasan dan langgar HAM

Papuaunik, – Pembakaran pesawat Mission Fellowship (MAF) dengan nomor PK-MAX oleh kelompok TPN-OPM pada Rabu (06/01) di bandara perintis Kampung Pagamba, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Papua dinilai menjadi preseden buruk bagi perjuangan pembebasan dan melanggar HAM dibidang pelayanan publik.

Demikian hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua Frits Ramandey ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Kamis siang.

“Kami memang mendapatkan informasi publik tentang adanya pembakaran pesawat MAF itu. Ini tentu sangat disayangkan dari aspek kepentingan publik. Jika kemudian ada pesawat yang dibakar,” katanya lewat sambungan telepon seluler.

Menurut Frits, maskapai MAF sudah beroperasi di tanah Papua berpuluh-puluh tahun dan mempunyai misi kemanusian, sehingga sangat disayangkan jika ada kelompok-kelompok yang memberi ancaman bahkan sampai membakar salah satu armada ini.

“Ini menjadi preseden buruk terhadap masyarakat internasional terhadap gerakan pembebasan Papua (merdeka). Memang kita telah mendengar bahwa mereka memberi ancaman, jika ada pesawat yang diduga membawa penumpang aparat dan lain sebagainya bahwa itu ancaman. Namun, harus diingat, bahwa mereka (MAF) itu selain mempunyai misi kemanusian, mereka mempunyai misi bisnis, ini harus dipisahkan,” katanya

“Jadi, organisasi misi ini telah ada berpuluh-puluh tahun berada di Papua. Mereka (AMF) mempunyai misi kemanusiaan. Apa misi kemanusiaan itu, pertama mereka membuka lapangan-lapangan perintis untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dan pelayanan keagamaan dan sosial, itu pertama,” lanjutnya.

Yang kedua, kata majelis di Gereja GKI Maranatha Polimak I, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura itu, MAF menjadi jembatan informasi kepada pihak luar, tentang bagaimana keadaan masyarakat yang ada di wilayah pedalaman.

“Dan ini bagian dari misi yang sedang melaksanakan tanggung jawab publik, dan lembaga-lembaga seperti itu yang bekerja untuk kepentingan publik, itu tidak bisa kemudian diintimidasi dan mendapat ancaman nyata secara langsung, ini sangat disayangkan,” tegasnya.

Mestinya, lanjut mantan wartawan Jubi itu, serangan (pembakaran,red) tersebut seharusnya itu ditujukan kepada militer atau kepada instalasi dan fasilitas militer, bukan kemudian terhadap penerbangan sipil.

“Karena dalam konteks HAM ini juga melanggar. Jadi, sekali lagi dalam perspekstif HAM ini, melanggar prinsip-prinsip HAM tentang pelayanan publik,” ujarnya.

Pesawat MAF PK-MAX yang di piloti warga negara Amerika Serikat atas nama Alex Luferchek dibakar oleh TPN-OPM di bandara perintis Kampung Pagamba ketika hendak kembali ke Nabire.

Beruntung pilot tersebut berhasil ditolong oleh para pendeta dan warga setempat dengan mengevakuasi ke Kampung Tekai perbatasan antara Kampung Bugalaga dan Kampung Pagamba, Distrik Mbiandoga Kabupaten Intan Jaya, sehingga luput dari aksi kekerasan TPN-OPM.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + 1 =