Inilah kesepakatan para tokoh adat dan pemuda Papua terkait Otsus

Papuaunik, – Inilah kesepakatan empat tokoh adat dan pemuda dari lima wilayah adat di Papua meminta agar Otonomi Khusus (Otsus) untuk terus dilanjutkan dan pemerintah pusat harus melaksanakan audit secara keseluruhan penggunaan dana tersebut.

Hal tersebut disepakati bersama saat menggelar rapat tertutup dalam forum yang diberi nama Forum Suara Adat Papua yang dilaksanakan di Koya Koso, Distrik Abepurs, Kota Jayapura, Papua, Rabu.

Adapun perwakilan para tokoh adat dan pemuda itu, di antaranya Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Nabire Socrates Sayori, Kepala Suku Besar Keerom (Wii-Kaya) Herman Yoku, tokoh adat Saireri di Jayapura Niko Mauri, Kepala Suku Wilayah Lapago di tanah Tabi Yulius Kogoya, Wakil Ketua Masyarakat Adat Lapago Atinus Wakur, Ketua DPD Pemuda Mandala Trikora Papua Albert A Kabiay, Wakil Ketua Ampera Eduardo Rumatrai, tokoh pemuda Lapago Meniron Wenda, tokoh pemuda Lapago Oplinus Lambe dan sejumlah tokoh lainnya.

Forum itu digelar mengingat dana Otsus yang sudah di gelontorkan oleh pemerintah pusat cukup besar, terhitung mulai tahun 2002 kurang lebih sekitar Rp127 triliun, maka semua tokoh yang hadir dalam Forum Suara Adat Papua tersebut sepakat untuk pemerintah pusat melakukan audit.

Kepala Suku Besar Keerom (Wii-Kaya) Herman Yoku mengatakan bahwa pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua sudah diterima baik oleh masyarakat Papua terlepas saat sekarang ini ada berbagai macam persoalan yang terjadi.

“Penolakan itu biasa, tapi saya mau katakan tolak baru minta referendum itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Prosesnya panjang dan melalui sidang-sidang dan lainnya sampai ke PBB. Tapi ini yang di depan mata, kita harus fikir untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua,” ujar Herman Yoku.

Lanjutnya, pelaksanaan Otsus selama ini penting untuk dilalukan audit secara keseluruhan, hal tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada rakyat Papua dan tentunya sebagai bahan evaluasi supaya penggunaan dana Otsus kedepan bisa lebih baik dan tepat sasaran untuk kesejahteraan masyarakat Papua.

“Harus diaudit menyeluruh supaya rakyat tahu di mana berhasil dan tidaknya. Selain itu menjadi bahan rujukan perbaikan kedepan,” kata Yoku.

Sementara, Tokoh Adat Saireri di Jayapura Niko Mauri sebagai salah satu pelaku sejarah Otsus tersebut mengungkapkan bahwa perjuangan pendahulu sehingga turunnya Otsus tersebut hendaknya menjadi perhatian bersama supaya tujuan awal dari Otsus itu lahir bisa tercapai, perbedaan pandangan hendaknya disingkirkan untuk kemajuan Tanah Papua.

“Otsus adalah berkat bagi Papua, untuk kemajuan dan kemakmuran Papua. Mari kita yang hadir dan banyak tokoh di Papua ini sudah berumur. Sehingga sepantasnya kita letakkan pondasi jembatan emas yang baik untuk generasi muda kita. Sehingga nantinya generasi kita ini tidak bingung melangkah, meraba-raba,” ucap Mauri.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Ketua LMA Nabire Socrates Sayori, sebelum Otsus dilanjutkan audit harus dilakukan. “Kita harus tegas meminta audit Otsus. Jangan kita memelihara kesalahan-kesalahan yang besar, karena kalau kita lakukan itu maka kita akan mati bersama,” tegas Socrates.

Socrates mengaku sebagai tokoh adat Seireri 2 (dua) tidak pernah menolak Otsus. Meski ada 6% dana untuk adat, dan tidak tahu penggunaannya. “Dana untuk adat tidak jelas kemana, padahal 6 persen hak untuk adat. Namun karena ini adalah Undang-Undang maka tidak bisa dihentikan, yang ada adalah dievaluasi dan lanjutkan,” jelasnya.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan pernyataan sikap para tokoh adat dan pemuda yang tergabung dalam Forum Suara Adat Papua ini, isinya meminta pemerintah melakukan audit secara menyeluruh penggunaan dana Otsus di Papua serta melakukan evaluasi atas seluruh program Otsus dan tentunya Otsus untuk Provinsi Papua tetap dilanjutkan.(Andi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

78 + = 86