Membudayakan Gerabah Melalui Mimbar dan Salib

Masyarakat Abar membudayakan gerabah melalui mimbar berbentuk gerabah dan salib yang tertanam didalam gerabah. Itu pertanda, tak melupakan warisan nenek moyang, terus dilestarikan sampai saat ini.

Pagi itu, Sabtu, 14 November 2020, tim Rumah Menulis Papua  Universal (RUMPUN) berupaya melakukan perjalanan ke Abar. Tim sepakat berkumpul di Expo, Waena, Abepura, Kota Jayapura, karena sebagian anggota belum pernah ke Abar. Setelah kumpul, jarum jam ditangan menunjukkan pukul 10.30 WIT, tim mulai bergegas menuju ke Sentani.

Rupanya, pagi itu cuaca Jayapura tidak bersahabat. Langit Abepura tiba-tiba berubah diselumuti awan hitam menempel dilangit. Ditengah perjalanan, hujan turun. Perjalanan tim tak lancar. Tiga kendaraan roda dua/motor  yang membawa tim singah-singah untuk berteduh. Meski hujan seakan menghalangi, tapi tak mematahkan semangat tim melakukan perjalanan ke Sentani lalu ke Abar.

Sekitar pukul 11.30 WIT, tim RUMPUN tiba di Dermaga Yahim untuk menunggu speedboat ke Abar. Dermaga Yahim adalah salah tempat persinggahan speedboat dari beberapa kampung di Danau Sentani dan tepi danau tersebut, seperti Kampung Hobong, Atamali, Yoboi dan Kampung Abar. Yahim masuk Distrik Sentani Kota. Disitu, ada pasar kecil yang dikelola oleh mama-mama asli Sentani.

Pasar mini itu hanya menjual buah pinang dan sayuran. Didekat pasar itu, ada kios yang mayoritas menjual air dalam kemasan botol. Beberapa pedagang dari luar seperti penjual roti dan bakso juga saban hari diijinkan untuk berdagang disitu. Pasar itu membantu masyarakat yang hendak ke kampungnya.

Kebanyakan mereka membeli sayur tapi juga buah pinang untuk dibawa ke kampungnya. Hari itu, tak hanya tim RUMPUN yang ke Abar. Ada juga tim dari Balai Arkeologi Papua. Setelah tim RUMPUN tiba, beberapa pegawai dari Balai Arkeologi juga sampai. Sebanarnya, perjuangan RUMPUN menerobos hujan ke Abar dengan tujuan ingin mengetahui keunikan serta kreativitas masyarakat Abar, salah satunya gerabah.

Naftali Felle, kepala suku Kampung Abar sudah siaga menunggu di Dermaga Yahim. Naftali siap karena sebelumnya sudah dihubungi oleh Hari Suroto dari Arkeologi Papua untuk menghantar tim ke kampung Abar. Dari komunikasi yang dibangun, Naftali meminta salah satu warganya menyiapkan speedboatnya untuk dipakai Pulang Pergi (PP) Yahim-Abar dan sebaliknya Abar-Yahim. 

Sempat tim ragu-ragu menyebrang Danau Sentani ke Abar lantaran awan hitam menutupi langit Abar dan Yahim. Tapi tak semua, sebagian langit masih kelihatan awan putih. Matahari masih terlihat, sinarnya melewati cela-cela awan membakar tubuh. Dari terik panas matahari itu, menyakinkan tim untuk melanjutkan perjalanan ke Abar.

“Ayo, teman-teman mari kita naik speedboat,” kata Hari sembari mengajak tim naik ke speedboat. Naftali mengambil alih kemudi memegang stir motor jhonsons peedboat. Baru beberapa mil dari Dermaga Yahim, rintik-rintik hujan turun ditengah perjalanan, tapi pakaian kering, tak basah. Hanya sebentar saja rintik-rintik hujan, setelah itu hilang terbawa angin danau.

Setelah perjalanan melewati beberapa kampung di Danau Sentani selama kurang lebih 30 menit, tim tiba di Kampung Abar. Dermaga Abar cukup tinggi, papan tumpuan pertama penumpang persis diatas kepala orang dewasa jika berdiri diatas speedboat. Meski demikian, perlahan tim mengatur langkah untuk turun.

Setelah sampai di Dermaga, masing-masing anggota RUMPUN melakukan peliputan sesuai tugas yang diberikan.  Salah satu tugas adalah mencari informasi terkait salib yang tertanam didalam gerabah. Selain itu, mimbar dalam Gereja Kristen Injili (GKI) Ararat Kampung Abar terbuat dari gerabah. Salib dan mimbar itu dibangun sejak gereja itu berdiri.

Gerabah menghantar Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, naik daun, dikenal dimana-mana. Salah satu peralatan dapur berbahan tanah liat itu merupakan tinggalan leluhur masyarakat kampung setempat. Tak hanya masyarakat membuat gerabah dan menjualnya tetapi mengajarinya dari generasi ke generasi hingga kini.

Mimbar dan Salib

Masyarakat membudayakannya agar generasi tetap mengigat sejarah gerabah di kampungnya. Persis dibelakang Kampung Abar, ada bukit. Warga memanfaatkan bukit itu untuk membangun gereja yang diberi nama GKI Ararat Kampung Abar. Gereja itu dibangun pada 2010.  Ada enam tiang dalam gereja itu. Tiang itu  melambangkan suku-suku  yang ada  di Kampung Abar  seperti , Doyapo,  Egapo,  Wowoyei,  Liboye,  Felle,  dan Weleh.

Mimbar dalam gereja itu unik berbeda dengan mimbar-mimbar digereja lainnya. Mimbar gereja tersebut berbentuk gerabah.  Mimbar itu mempunyai filosofi. Dulu, leluhur masyarakat Abar menggunakan satu gerabah berukuran besar untuk menampung sagu. Suatu ketika sagu yang disimpan di gerabah besar itu habis. Akhirnya, mereka membaca mantra, sambil menusuk-nusuk gerabah itu dengan menggunakan bulu bambu. Seketika itu, sagu terus bertambah banyak dalam gerabah tersebut.  

Sagu yang mulai banyak didalam gerabah itu diambil lalu dibagi-bagi ke semua orang di kampung itu. Namun, tak pernah  habis. Bagi siapapun yang hendak mengambilnya dipersilahkan. Bagi masyarakat yang lapar datang lalu mengambilnya untuk masak papeda (masakan khas Papua). Meski demikian, sagu itu tidak habis-habis dari gerabah. Cerita itu masih melekat dibenak masyarakat Abar. Mereka percaya bahwa gerabah memberi hidup sehingga  ketika Gereja Ararat dibangun, mereka sepakat membangun mimbar berbahan tanah liat yakni gerebah. 

Mimbar gerabah dalam gereja itu simbol memberi hidup kepada nenek moyang warga Abar. Hingga kini mimbar gerabah itu tak diubah-ubah tetap, sejak gereja berdiri sampai saat ini. Selain simbol memberi hidup, gerabah adalah satu-satunya pengganti loyang untuk masak papeda dan lauknya ikan mujair Danau Sentani. Itupun, kepala suku yang lebih dahulu makan papeda.

Sementara mengenai salib, konon masyarakat Abar menguasi Danau Sentani, mulai dari Kampung Abar sampai Kampung Ayapo. Zaman itu, ada musibah.  Begitu musibah itu datang, orang asli Sentani mulai punah. Akhirnya, ketika Gereja Ararat tuntas dibangun, masyarakat membangun sebuah tuguh salib disamping gereja itu. Salib yang dibangun itu berdiri didalam gerabah. Simbol  dari salib berdiri didalam gerabah itu artinya mereka hidup atas kebenaran firman Tuhan. Tapi juga merasakan kasih Tuhan nyata dalam hidupnya.

Pendeta  Yosepina Yom yang bertugas di GKI Ararat Abar mengatakan gerabah sebagai simbol hidup tapi juga simbol perjamuan kudus.  Gereja dan salib yang ada didalam gerabah itu dibangun oleh mahasiswa Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua. Tugu salib dalam gerabah dibangun pada tahun 2009.

Gerabah mengikat kekeluargaan, kebersamaan dan mengikat beberapa suku yang ada disekitar kampung tersebut. Sehingga jemaat Abar, berharap saat beribadah pendeta mengunakan  bahasa  daerah  untuk  khotbah  bahkan menyanyi juga dengan menggunakan bahasa daerah yakni bahasa Sentani. Tujuannya hanya satu, untuk  mempertahankan budayanya.

“Sebab  pelayan  yang  melayani,  jika menggunakan bahasa  Indonesia, mereka merasa tak ada jati diri, bahkan dalam ibadah mereka tak nyaman, lantaran mereka sudah menyatu dan kental dengan bahasa daerah. Pendeta yang bertugas disitu meski bukan orang Sentani, semisal dari Ambon, Biak, Manokwari, Serui dan lainnya, harus belajar bahasa Sentani.’’kata pendeta Yosepina.”

Selain menjaga budayanya, tapi tak kalah penting lagi, masayarakat Abar harus diisi terus menerus dengan  Firman  Tuhan  supaya menjadi modalnya diselamatkan dan masuk surga,” kata pendeta asal Sentani ini. (Vallentinus Mafiti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 3 =