Setelah Genset, Aliran Listrik dari Jerman

Sinar matahari membantu menampung aliran listrik untuk warga Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Papua. Meski demikian, belum memenuhi kebutuhan listrik masyarakat kampung itu. Belakangan mereka harus merogoh dompet membayar teknisi demi menikmakti cahaya lampu di rumahnya.  

Cerita aliran listrik dari Jerman itu terkuak ketika tim Rumah Menulis Universal Papua (RUMPUN) mendatangi kampung tersebut. Siang itu, Sabtu,14 November 2020, RUMPUN datang ke Abar bersama tim dari Balai Arkeologi Papua. Sebelum berangkat ke Abar, tim berkumpul di Pantai Yahim.  

Yahim masuk Distrik Sentani Kota. Bagi penumpang yang hendak ke Kampung Abar  dan kampung lainnya seperti Yoboi, Hobong dan Ifale melalui Yahim. Speedboat dari beberapa kampung itu sandar di Dermaga Yahim. Dermaga ini adalah akses jalan melewati danau dengan menggunakan speedboat bagi masyarakat yang bermukim di sekitar danau terutama di daerah Sentani Barat.

Hari itu, langit Sentani tak bersahabat. Awan hitam melekat di langit Danau Sentai dan langit Abar. Hujan hendak turun namun tertahan. Masih ada sisah-sisah awan putih, matahari kelihatan dibalik awan-awan putih itu. Sinar matahari keluar melalui celah-celah awan putih. Sempat tim berpikir untuk tak menyebrang danau ke Abar karena  jangan sampai hujan ditengah perjalanan.

Menurut pandangan nenek moyang masyarakat Sentani, jika hujan, speedboat tidak bisa menyeberang sebab di tengah-tengah danau, gelombang. Tapi, pancaran sinar matahari dibalik awan putih itu meyakinkan tim memutuskan untuk menyebrang danau, setelah kurang lebih menunggu beberapa menit.

Danau yang tadinya bergelombang mulai teduh dan tenang. Awan hitam yang menutupi langit danau perlahan-lahan hilang tertiup angin. Naftali Felle, Kepala Suku Abar mengarahkan tim naik ke speedboat.  Jarum jam ditangan menunjukan pukul 11.02 WIT tim melakukan perjalanan dari Yahim menuju Abar. Ditengah danau, rintik-rintik hujan turun namun pakaian tidak terendam air.

Rintik-rintik hujan ditiup angin danau. Pemandangan indah gunung-gunung dan bukit-bukit yang mengitari Danau Sentani, memanjakan mata, ketika speedboat berada ditengah danau. Sungguh luar biasa buah tangan sang khalik.Rumah-rumah warga yang terbuat dari kayu dipolesi cat berwarna-warni tersusun rapi dibibir danau maupun ditengah danau, memperindah pemandangan muka danau siang itu.

Perjalanan ke Abar memakan waktu kurang lebih 30 menit, tiba di Abar. Satu-persatu tim turun dari speedboat yang ditumpangi. Ada dermaga, tempat masyarakat Kampung Abar menunggu speedboat jika hendak berpergian.

Disitulah tim berkumpul dan diberi arahan, setelah turun dari speedboat. Tugas untuk mewawancarai masyarakat di pertegas kembali oleh pembimbing kelas menulis di RUMPUN. Naftali Felle mendampingi tim untuk mencari narasumber. Abar dikenal dengan kampung penghasil gerabah. 

Masyarakat di kampung itu melestarikan gerabah secara tradisional. Tidak hanya gerabah, ada beberapa masakan tradisional yakni masakan ikan mujair ala daun bete.Kampung itu letaknya cukup jauh dari ibu kota Kabupaten Jayapura. Mungkin karena letak geografisnya, warga Abar kesulitan mendapatkan aliran listrik.

Listrik Jerman

Sebelum ada jaringan listrik, warga menggunakan mesin genset untuk mengaliri listrik agar lampu bisa menyala disetiap rumah. Terang lampu hanya pada malam hari atau pada acara-acara penting disiang hari demi menghemat biaya bensin. Setelah sekian lama memakai genset, pada 2015 masyarakat Abar mengenal listrik ramah lingkungan yang didukung oleh salah satu perusahaan asal Jerman dengan memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Isak Doyapo, salah satu tenaga teknisi jaringan listrik itu menjelaskan, PLTS kampung Abar adalah project yang dikembangkan oleh perusahaan swasta yaitu Electric Vine Industris (EVI) dari Jerman melalui PT Listrik Vine Indonesia (LVI). Bukan tanpa alasan, Abar dikenalkan dengan PLTS, sebab EVI berupaya menjadikan Abar sebagai contoh dalam mengenalkan sumber listrik ramah lingkungan.

Setelah Abar, pemakaian listrik ramah lingkungan diterapkan didaerah lain di Papua maupun luar Papua di Indonesia seperti di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Biaya pemasangan listrik ramah lingkungan itu tak sedikit. EVI membantu biaya pemasangan PLTS sebesar Rp 2 miliar. Meski demikian, masih tidak cukup, biaya itu masih kurang.

Demi kebutuhan akan aliran listrik, masyarakat Abar  berupaya menambah sisah dana melalui swadaya. Alhasil, mereka mengumpulkan dana sebesar Rp 400 juta. Berkat uang yang ditanggung oleh masyarakat dan EVI, proyek PLTS mulai dikerjakan di kampung tersebut. Pada 20 Juni 2015 listrik ramah lingkungan tuntas dan diresmikan.

Kehadiran PLTS menolong masyarakat Kampung Abar. Mereka tidak lagi kesulitan aliran listrik. Keunggulan dari PLTS ini adalah tidak pernah ada pemadaman lampu. Pengoperasian PLTS di lakukan secara interkoneksi ke jaringan seluler (ponsel) dan dapat dipantau dari jarak jauh secara online melalui perangkat lunak khusus bawaan dari meteran.

Pengoperasian aliran listrik itu juga mudah, cukup masyarakat membeli aliran listrik menggunakan sistem prabayar dengan cara mengirim Short Message Service (SMS)  dari ponsel mereka untuk membeli pulsa token listrik langsung masuk ke meteran, sehingga mereka tidak perlu lagi menekan nomor token meteran. Masyaarkat mengisi pulsa listrik seperti mengisi pulsa telepon.

Nomor rekening listrik sendiri adalah nomor ponsel milik warga. Proses ini adalah kombinasi kemampuan monitoring jarak jauh untuk seluruh aset perangkat lunak, masyarakat menikmati listrik setelah membeli pulsa. Bagi rumah tangga yang tak memiliki barang-barang elektronik seperti TV dan kulkas, cukup membeli pulsa 20 ribu sampai 50 ribu untuk satu bulan. Sementara mereka yang punya banyak barang elektronik harus mengisi pulsa 50 ribu hingga 100 ribu untuk sebulan.

Meski demikian, PLTS memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari PLTS adalah warga hanya rugi satu kali artinya bahwa mereka hanya perlu membayar biaya pemasangannya saja setelah itu tidak lagi membayar listrik setiap bulannya. Selain itu, sumber atau daya penghasil listrik yang dimilikinya dari energi matahari, di dapatkan secara gratis dalam jumlah yang besar.

Listrik itu memang membuat masyarakat senang, tapi sayang tak bertahan lama. Kekurangan dari PLTS ialah daya listrik yang bersumber dari matahari tidak bisa di prediksi tiap harinya. Hal ini di sebabkan kondisi cuaca di Indonesia yang tidak menentu. Selain itu biaya pemasangan yang cukup besar, biaya perawatan perangkat listrik secara berkala yang bisa naik drastis sesuai kebutuhan.

Apalagi sekarang ini penggunaan PLTS di Abar sudah tak lagi menggunakan sistem Online tetapi Offline, sehingga masyarakat sedikit kesulitan dengan biaya perawatan berskala besar di rumah masing-masing. Lantaran listrik sudah tak lagi didapatkan melalui membeli pulsa.

Aliran listrik yang tadinya cukup membeli pulsa di hendphone sudah menikmati listrik, kini sudah tak demikian. Sistem online mengisi pulsa langsung dengan nomor handphone sudah tidak bisa. Penarikan listrik langsung dari gardu sehingga masyarakat kesulitan.

Untuk mendapatkan aliran listrik,masyarakat biasanya merogoh uang dari dalam dompetnya, sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu  untuk membiayai teknisi memasang jaringan kabel listrik ke rumahnya, ketika mengalami gangguan. Hal inilah yang seringkali membuat warga Abar mengeluh. Mereka berharap kebutuhan listrik di Kampung Abar bisa di perhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura. ( Merry Rumbino)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 5 =