Mengenalkan Masakan Ikan Mujair Ala Daun Bete

Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, dikenal dengan kampung penghasil gerabah/sempe. Ternyata bukan hanya itu saja, kepiawaian warga kampung itu menjaga masakan ikan mujair ala daun bete/daun talas. 

Hari itu, Sabtu (14/11) langit Sentani tak terlalu cerah, sebagian awan hitam melekat dilangit, seakan-seakan hendak mengeluarkan air hujan namun tertahan. Matahari mengeluarkan sebagian sinarnya membakar tubuh. Dermaga Pantai Yahim, Distrik Sentani, hari itu ramai, penuh manusia. Ada pasar kecil ditepi Dermaga itu.

Sejumlah warga bersiap-siap menunggu speedboat ke kampungnya, baik ditengah Danau Sentani, maupun ditepi danau. Lainnya lagi, terlihat sibuk membeli barang di pasar mini itu untuk dibawa ke kampungnya. Mayoritas barang yang didagangkan yakni buah pinang dan sayuran.

Begitu aktivitas di pagi itu, ketika saya tiba lebih dahulu sembari menunggu teman-teman dari Rumah Menulis Universal Papua (RUMPUN) sementara dalam perjalanan ke Dermaga Yahim. Ketika menunggu, saya bertemu dengan Hari Suroto, salah satu peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua.

Hari Suroto yang mengatur perjalanan ke Kampung Abar. Sebelumnya, Hari sudah lebih dahulu menghubungi Kepala Suku Abar, Naftali Felle untuk menjemput tim RUMPUN. Hari juga meminta Naftali menyiapkan narasumber di kampungnya untuk diwawancarai tim RUMPUN.  Tak terlalu lama menunggu, teman-teman RUMPUN tiba di Dermaga Yahim.

Begitu tiba,  karena lapar tiga teman saya Zakharias, Maria dan Merry berupaya mengisi perut. Tak menunggu lama, Maria melangkah dengan cepat membeli donat yang dijual oleh mama-mama Papua  di pasar kecil di Dermaga Pantai Yahim. Saya bersama tiga teman ini langsung menikamti adonan tepung yang sudah diolah menjadi kue donat itu.

Dermaga Pantai Yahim merupakan salah satu tempat persinggahan sejumlah speedboat dari sebagian Kampung ditengah Danau Sentani maupun tepi danau itu, seperti Kampung Hobong, Atamali, Yoboi dan Kampung Abar. 

Ketika tim tiba, Naftali Felle bersama Hari Suroto dan satu rekannya sudah menunggu. Selang beberapa menit kemudian, teman-teman Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua juga tiba di Yahim. Naftali sudah meminta salah satu warga Abar menyiapkan Speedboatnya, siaga berlabuh di Dermaga Yahim untuk menghantar kami ke Abar.

Langit sekitar Yahim tertutup awan hitam, tapi tak semua. Sebagian langit masih tertempel awan putih. Tim RUMPUN sempat ragu jangan sampai hujan ditengah Danau Sentani,  dalam perjalanan menuju Abar, lantaran langit Abar tertutup awan hitam.

Memang tak sebagian awan hitam menguasai langit Abar, sebagian langit masih terlihat awan putih melekat. Dari segelintir awan putih yang masih menempel di langit Yahim dan Abar itu, menguatkan tim RUMPUN untuk memutuskan menyebrang Danau Sentani dari Dermaga Yahim menuju Kampung Abar. Hari Suroto dan Naftali Felle menyuruh semua naik ke Speedboat yang sudah disiapkan.    

Perjalanan dari Pantai Yahim ke Abar memakan waktu kurang lebih sekitar 30 menit. Lumayan jauh kampung ini. Naftali Felle yang menggenggam stir motor jhonson  speedboat milik salah satu warganya. Air Danau Sentani, sedikit gelombang akibat angin sepoi-sepoi tertiup dari berbagai penjuru. Naftali berupaya membelokan Speedboat yang kami tumpangi melewati beberapa kampung, menuju ke kampungnya.

Ditengah perjalanan, hujan rintik-rintik membasahi tubuh, namun pakaian tak terendam air lantaran hanya beberapa detik saja, rintik-rintik hujan itu enyah tertiup angin. Ternyata, kami yang melakukan perjalanan ke Abar itu sebanyak 18 orang, terdiri dari tim RUMPUN, teman-teman Hari dari Arkeologi Papua dan Naftali Felle bersama warga pemilik Speedboat.

Air Danau Sentani berubah menjadi teduh setelah rintik-rintik hujan hilang. Naftali terus menggenggam stir motor itu menuju kampungnya. Kurang lebih sekitar 30 menit perjalanan, Kampung Abar terlihat. Sungguh indah kampung itu. Rumah-rumah panggung milik warga Abar tersusun rapih berlabuh ditepi danau.

Ada hamparan bukit ditumbuhi alang-alang hijau bagaikan permadani berada di belakang kampung ini. Sungguh indah buah tangan sang pemilik hidup. Speedboat yang membawa kami sandar di Dermaga Kampung Abar. Dermaga cukup tinggi, papan tumpuan naik penumpang diatas kepala orang dewasa.

Meski demikian, tak menjadi masalah. Tim turun dengan baik berkat bantuan topangan tangan Naftali, pemilik Speedboat dan teman-teman menyandarkan Speedboat ke tepi papan, sehingga semua bisa naik keatas dermaga. Sebenarnya, tujuan tim RUMPUN ke Abar untuk menggali keunikan dan potensi kampung ini melalui wawancara. Salah satu keunikan di kampung itu yakni memasak ikan dengan menggunakan bumbuh daun bete/daun talas dan garam.

Daun bete

Daun bete/daun talas  adalah termasuk tumbuhan yang hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan yaitu bagian daun, tangkai daun, dan juga pelepah, umbinya baik itu induk maupun anakan dapat dimakan. Hanya bagian akar serabutnya yang tidak bisa dimakan atau belum diselidiki kemungkinan bisa dimanfaatkan. Ternyata tumbuhan yang termasuk liar ini banyak bermanfaat bagi kesehatan.

Talas yang merupakan suku Araceae memiliki nama latin Colocasia esculentia Schott. Di Indonesia tanaman ini mempunyai banyak nama tergantung dari daerahnya berasal. Di Sambas dikenal dengan keladi,Jawa dikenal dengan sebutan Gelo/Talesdi Flores ” Ufi lole”, di Makassar “Paco”, di Bugis “Aladi”, di Maluku “Bete” termasuk sebutan di Papua “Bete.” Tanaman ini juga dikategorikan sebagai tanaman semak karena memiliki daun yang lebat serta memiliki khasiat dan manfaat besar untuk kesehatan.

Khasiat dan manfaat daun talas bagi kesehatan di peroleh karena kandungan kimia yang terdapat didalam  umbi, tangkai daun dan daun Colocasiaesculenta mengandung polifenol. Demikian juga tangkai daun serta umbi yang mengandung saponin.

Selain itu, khasiat dan manfaat umbi daun talas (colocasia esculanta) adalah sebagai obat sakit maag ,sakit berak berdarah. Cara pengobatan penyakit maag yaitu ambil secukupnya umbi talas kemudian direbus dan dimakan seperti cemilan pada waktu bersantai. Sedangkan cara pengobatan berak berdarah yaitu sediakan kira-kira 100 gram umbi Colocasia esculenta kemudian dikupas lalu dicuci bersih, kemudian diparut dan diperas serta disaring airnya diminum sekaligus sampai habis.

Sedangkan khasiat dan manfaat kulit tangkai daun talas adalah untuk pembalut luka yang baru. Kulit tangkai daun talas diremukkan hampir halus dan dipakai untuk membalut luka yang ingin di sembuhkan. Selain itu, ternyata daun talas ini memiliki kandungan kandugan gizi yang tinggi sehingga bisa dijadikan obat untuk medis diantaranya Zat besi, Kalsium, Garam fosfat, Protein, Vitamin A, dan B. Zat – zat tersebut terdapat pada daunya yang sangat baik untuk mengobati berbagai penyakit medis diantaranya untuk mengobati diare,untuk mengobati disentri, Untuk mengobati biduren, Untuk mengobati radang ginjal, serta Untuk mengobati nyeri sendi dan otot.

Masak ikan

Kampung Abar lebih dikenal dengan kampung penghasil gerabah (sempe). Mayoritas  warga kampung ini mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, pintar mengolah tanah liat menjadi gerabah. Banyak pengunjug mendatangi Abar hanya untuk membeli sempeh. Ternyata, bukan hanya gerabah, masyarakat kampung ini menyimpan kreativitas mengolah masakan ikan mujair ala daun bete.

Ikan mujair ala tradisional itu dimasak ala kadarnya. Tak membutuhkan bumbuh lengkap, seperti memasak ikan umumnya pada masayarakat di Kota yang membutuhkan bumbuh lengkap seperti bawang, rica, daun serei dan daun kumangi serta olahan kuah kuning yang membuat cita rasa enak dan menggoda. Mama-mama di Kampung Abar tak membutuhkan banyak bumbuh untuk memasak ikan mujair. Masakan itu adalah peninggalan leluhurnya.

Memasak ikan mujair menggunakan daun bete ternyata sangat sederhana dan tidak memungut biaya, bahkan dibilang masakan tradisional yang sederhana namun kualitas enaknya tak kalah saing dengan ikan kuah kuning masakan warga di kota. Dalam bahasa sentani hebehelo artinya (kuah asli). Memasaknya hanya menggunakan daun bete dan garam, tanpa menaruh bumbuh lainnya.

Bumbuh-bumbuh untuk memasak ikan mujair ala tradisional itu yaitu menyiapkan daun bete, ikan mujair yang sudah di bersihkan, gerabah yang terbuat dari tanah liat (sempeh). Kemudian di dalam belangah tanah itu, ditaruh dua penggal kayu di dalam belanga, sehingga ikan tidak terkena pantat belanga yang sudah berisi air  secukupnya dan dibubuhi garam.  

Selanjutnya, jangan lupa menyiapkan daun bete kering yang telah diasar di atas asap api dan sebuah batu ceper. Daun bete yang sudah diasar itu ditaruh lebih dahulu didalam belanga atau gerabah. Setelah daun bete asar itu sebagai alas diatas dua kayu yang ditaruh dalam belanga atau gerabah itu, kemudian ikannya dimasukan selang-seling, dua ekor ikan ditutup dengan daun bete.

Selanjutnya, ditaruh lagi dua ekor ikan selang seling lalu ditaruh daun bete, bergantian seperti itu sampai ikan yang disediakan habis. Jumlah ekor ikan yang dimasak tak ditentukan, tergantung ikan yang tersedia. Diatas permukaan ikan itu ditutupi lagi dengan daun bete kemudian ditindis dengan batu ceper paling atas sebagai tutup belanga atau gerabah.

Untuk memasak ikan ini, membutuhkan waktu paling lama dua jam di biarkan diatas tungku api. Setelah dua jam, masakan ikan mujair ala tradisional itu matang. Alhasil, kuahnya bening agak kecoklatan. Meski menggunakan bumbu ala kadarnya, cita rasanya tajam, malah lebih dari ikan yang dimasak dengan menggunakan bumbuh lengkap.

Lebih enaknya lagi, jika di masak dan di makan hari ke dua atau ke tiga. Bahkan ikan daun beteh ini bisah bertahan sampai lima hari dan ketika semakin lama disimpan, maka semakin enak rasanya. Ikan mujair racikan bumbuh daun bete ini memiliki manfaat kesehatan yang sangat baik untuk tubuh, jika di konsumsi. Lantaran tidak menggunakan bumbuh-bumbuh yang berbahan kimia, seperti bumbuh ikan kuah kuning pada umumnya.

Namun sayang, masakan ikan ala tradisional itu sudah tak lagi diminati generasi muda di kampung itu.Saban hari, nyaris tak ada masakan ikan mujair ala tradisional. Anak-anak muda masa kini di Abar mengganggap ikan  mujair berbumbuh daun beteh, air dan garam tak begitu enak, lantaran kurang bumbuh lengkap, seperti layaknya ikan kuah kuning yang dimasak warga yang tinggal di kota.

Kepala Suku Abar, Naftali Felle mengatakan, meski masakan ikan mujar ala tradisional itu sudah tak lagi diminati anak-anak muda, tetapi masih saja disajikan oleh para orang tua di Abar pada momen-momen besar yang dihadiri pejabat dan orang dari kota. Semisal, pada setiap kesemapatan festival di Kampung Abar, akan diadakan makan papeda dengan lauk ikan mujair daun bete.

Masakan ikan itu, memiliki keunikan tersendiri jika disajikan di acara festival. Kebanyakan orang kota yang datang, sangat suka dan lebih memilih menikamati masakan ikan mujar ala tradsional ini. Masakan ikan itu, mampu mendongkrak pendapatan ekonomi masyarakat setempat.

Walaupun anak-anak di Abar tak lagi meminati masakan itu, namun masih terus di kembangkan dan dilestarikan. Karena, masakan ikan ala tradisional itu memiliki nilai budaya tradisioanl yang sangat unik dan bernilai ekonomis tinggi, bahkan banyak diminati orang banyak.

Naftali berharap kepada generasi muda agar mampu mempertahankan masakan tradisional ikan mujair ala daun bete tersebut. Sehingga menjadi makanan tradisional khas kampung Abar yang kemudian dikenal dengan salah satu masakan lokal yang unik. Tapi juga bisa dikembangkan menjadi wisata kuliner di Kabupaten Jayapura. (Gelda Asrouw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − 15 =