Mengungkap Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan di Abar

Pendidikan dan Kesehatan sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab tanpa pendidikan dunia akan mengalami krisis buta aksara. Sama halnya dengan kesehatan. Di mana, tanpa kesehatan dunia akan mengalami krisis humanity (kemanusiaan).

Kampung Abar, merupakan salah satu kampung yang terletak di pinggiran Danau Sentani. Kampung ini berada dibagian selatan dari arah Dermaga Yahim, Distrik Sentani. Abar berada di Sentani Tengah, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Sabtu, 14 November 2020, kami dari Tim Menulis Artikel yang tergabung dalam Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN) bersama-sama dengan para peneliti dari Balai Arkeologi Papua.

Kami bertolak dari Dermaga Yahim ke Kampung Abar sekitar pukul 11.15 Wit. Kami gunakan perahu motor dengan mesin 40 PK, yang dikemudikan oleh bapa Kepala Suku Abar, Naftali Felle.

Air Danau Sentani terlihat tenang. Kami melewati beberapa kampung yang berada di Danau Sentani. Sekitar 20 menit dalam perjalanan, akhirnya kami tiba di Dermaga Abar. Dermaga ini terbuat dari kayu balok dan papan serta ditutupi daun seng.

Dermaga Abar ini berada di tengah-tengah kampung. Tak jauh dari dermaga terlihat Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Ararat yang berada di atas perbukitan.

Setelah sampai, kami kemudian beristirahat beberapa menit di Dermaga Abar. Beberapa warga juga terlihat sedang berada di dermaga, mereka nampaknya menunggu perahu motor, untuk ke Dermaga Yahim di Distrik Sentani.

Setelah beristirahat, kami dari RUMPUN kemudian diajak oleh bapa Naftali, untuk melihat Sekolah Persiapan Negeri Abar dan Puskesmas Pembantu (Pustu) yang berada tak jauh dari Dermaga Abar tersebut.

Pendidikan dan kesehatan, merupakan bagian penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, pendidikan dan kesehatan, tidak boleh berpusat saja di daerah perkotaan, tetapi harus merata sampai ke daerah perkampungan/pedesaan.

Karena setiap orang mempunyai hak, untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang layak, termasuk masyarakat, terutama para generasi muda yang ada di balik gunung, lembah, laut, dan danau seperti misalnya, masyarakat dan para generasi muda di Kampung Abar.

Hanya Ada SD Negeri Persiapan Abar

Di Kampung Abar hanya ada Sekolah Dasar (SD) Negeri Persiapan Abar. SD ini dibangun pada tahun 2008 oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura. Namun, hanya memiliki 3 ruang kelas.

Para tenaga guru yang mengajar di SD Abar sendiri terdiri dari, 3 guru pegawai negeri sipil (PNS), 3 guru kontrak dan 3 guru honorer. 3 orang guru kontrak ini masing-masing berasal dari Batak, Medan Sumatera Utara, Solo Jawa Tengah dan Sentani, Kabupaten Jayapura

Citra Marlina Sihile, S.Pd, merupakan salah satu guru kontrak yang berasal dari Batak, Medan, Sumatera Utara (Sumut). Ibu guru yang akrab disapa Marlina ini, sudah menjadi guru kontrak sejak tahun 2016 bersama rekan gurunya yang berasal dari Solo, Jawa Tengah dan Sentani, Kabupaten Jayapura tersebut. Tak terasa 3 ibu guru ini telah bertugas 4 tahun di Kampung Abar.

Jika dilihat sarana dan prasarana gedung sekolah, seperti ruang kelas masih terbatas. Karena SD Abar hanya memiliki 3 ruang kelas. Padahal, para siswa yang diajarkan ini terdiri dari kelas I sampai kelas VI.

Meskipun, dalam masa pandemi virus Corona atau Covid-19 saat ini, tetapi hal ini tidak menganggu proses belajar mengajar di SD Abar. Di mana, para siswa dapat mengikuti proses belajar mengajar secara ofline atau tatap muka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Pada awal bulan Juni sampai dengan Agustus 2020, para guru mengajar setiap Senin sampai Sabtu di ruang kelas. Namun, pada bulan September sampai November 2020, para guru hanya menggunakan waktu 3 hari, untuk mengajar para siswa.

“Hari Senin kami ajarkan kelas I dan II, hari Selasa kami ajarkan kelas III dan IV, dan hari Rabu kami ajarkan kelas V dan VI,” kata ibu guru Marlina.

Meskipun, proses belajar mengajar tetap dilakukan selama pandemi Covid-19 di SD Abar, tetapi hal ini berbanding terbalik dengan semangat para siswa, dalam proses belajar mengajar yang terlihat semakin hari semakin menurun.

Para guru menduga, hal ini disebabkan oleh orang tua yang kurang memberikan perhatian kepada siswa atau bisa disebabkan oleh faktor lain, sehingga membuat semangat siswa belajar semakin menurun.

Disisi lain, ada kesalahan persepsi dari para siswa mengenai proses belajar mengajar. Di mana, dalam satu minggu belajar 1 kali berdasarkan kelasnya masing-masing.

Hal ini membuat para siswa menganggap mereka selama 1 minggu kedepan masih libur, padahal, para guru sudah menjelaskan bahwa hari yang sama dalam seminggu kedepan, proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa di kelas yang sama.

Sang Revolusioner, sekaligus Presiden pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela mengatakan, “the most powerfull weapon to change the word is education” (senjata paling ampuh dalam mengubah dunia adalah pendidikan).

Pustu dan Polindes di Kampung Abar

Kesehatan sendiri, merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat. Oleh karena itu, pelayanan terhadap kesehatan harus merata sampai ke kampung-kampung.

Karena jika kesehatan terganggu, maka akan mempengaruhi semua aspek kehidupan. Dengan demikian, maka kesehatan merupakan kebutuhan primer yang harus diperhatikan secara serius sampai ke kampung-kampung.

Di Kampung Abar, terdapat dua fasilitas kesehatan, yaitu Puskesmas Pembantu (Pustu). Pustu ini berada di belakang SD Persiapan Negeri Abar. Pustu ini dibangun pada tahun 2011. Tak hanya itu, terdapat juga Pos Persalinan Desa (Polindes) yang bersebelahan dengan GKI Jemaat Ararat. Polindes ini dibangun sejak tahun 2009.

Meskipun memiliki dua fasilitas sarana dan prasaran kesehatan, tetapi tenaga medis masih sangat minim dan terbatas. Di mana hanya terdapat 1 orang perawat bernama Rosalina Wally, Amd.Kep, 2 orang bidan, dan 1 orang dukun.

Pustu ini melayani masyarakat selama 24 jam setiap harinya. Sehingga, masyarakat yang sakit, bisa langsung datang dan akan dilayani oleh ibu Rosalina, selaku perawat yang sehari-hari bertugas di Pustu tersebut.

Sementara untuk, peralatan dan bahan bantu, biasanya didatangkan dari Puskesmas Ebungfauw, baik berupa obat-obatan, spuit, alkohol swap, kelambu, intra vena, dan alat kesehatan lainnya.

“Mayoritas dominan penyakit yang dialami oleh masyarakat adalah, infeksi saluran pernapasan (ISPA), malaria, rematik, luka-luka. Selain itu, di Kampung Abar juga zona hijau atau bebas dari virus Covid-19,” kata alumni D3 Poltekkes Jayapura ini.

Sementara itu, untuk pelayanan Polindes sendiri dilakukan selama 1 bulan sekali. Pelaksanaan Polindes ini dilakukan pada minggu ketiga hari Senin.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas medis dan para kader kampung di Polindes ini meliputi, pemeriksaan ibu hamil, imunisasi, penimbangan bayi, penyuluhan gizi, berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan persalinan.

Sedangkan, dua bidan sendiri tinggal di Kampung Putali. Oleh karena itu, para ibu-ibu yang hendak bersalin atau melahirkan, biasanya dibantu oleh dukun dan para kader kampung untuk diantarkan ke Putali.

“Perjalanan dari Kampung Abar ke Kampung Putali sekitar 10 menit,” kata Rosalina. (Zakarias Bolt Agapa).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 57 = 67