Mengelola Kopi Papua Harus Dari Hulu ke Hilir

Pengelolaan kopi Papua, teryata harus dilakukan mulai dari hulu ke hilir. Di mana harus mulai dari para petani kopi sampai dengan para pengusaha kopi di daerah perkotaan. Hal ini penting, dalam mewujudkan kopi yang berkualitas dan siap disajikan kepada para penikmat kopi.

Cuma segelas kopi yang bercerita kepada kami bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan. Demikian kutipan bijak dari filosofi kopi tentang kehidupan yang begitu keras ini.

Sabtu, 7 November 2020, sekitar pukul 12.00 Wit siang, kami dari Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN) berada di Rumah Kopi Sentani milik Bapa Darmotanoyo yang beralamat di Jalan Raya Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

Sekitar beberapa menit kemudian, kami dihidangkan kopi panas dan gorengan. Kopi yang dihidangkan ini merupakan kopi asli Papua. Sambil menikmati kopi, kami sembari mendengarkan penjelasan, tentang proses pembuatan kopi di Papua dari lelaki berusia 53 tahun ini.

Bagaikan guru kepada anak muridnya, Bapa Darmotanoyo menjelaskan, tentang mata rantai panjang kopi Papua  dari hulu sampai hilir. Di mana, mata rantai ini tidak terpisahkan mulai dari petani kopi sampai ke pengelola kopi yang siap memproses  kopi, hingga matang dan siap disajikan kepada konsumen.

Pengelola kopi sangat bergantung dengan para petani kopi. Meskipun demikian, para pengelola kopi seperti bapa Darmotanoyo yang tergabung dalam Komunitas Kopi Numbay, saat ini mendapatkan pendampingan melalui program ekonomi hijau. Program ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris.

“Program ekonomi hijau ini melatih kami dari pengelola kopi, mulai dari sektor hulu sampai hilir. Yang bertanggung jawab mengelola kopi adalah bapak Giri Irawan,” katanya sambil memperkenalkan bapa Giri kepada kami.

Bapa Darmotanoyo kemudian memperkenalkan seorang petani kopi kepada kami, yang kebetulan hari itu membawa biji kopi, untuk dijual. Namanya Bapa Jhon Kasipka. Bapa Jhon merupakan petani kopi dari Kampung Peneli, Distrik Okbab, Kabupaten Pegunungan Bintang. Bapa Jhon adalah salah satu penyuplai kopi Papua dari negeri di dalam awan ini.

Sambil berdiri, bapa Darmotanoyo mengambil biji kopi berwarna hijau di dalam karung menggunakan tangan, sambil menujukkan biji kopi tersebut kepada kami. Biji kopi ini disebut green bean kopi, yang berada di lapisan buah kopi berwarna merah.

Pohon kopi yang ditanam, tentu membutuhkan proses yang cukup lama untuk tumbuh dan menghasilkan buah kopi. Umur pohon kopi yang berbuah rata-rata berusia sekitar 5 tahun. Kemudian, baru akan dilakukan proses pemanenan terhadap buah kopi tersebut.

Kopi yang ditanam sendiri pada umumnya dilakukan secara tradisional dengan jumlah yang terbatas, seperti misalnya 10-20 pohon kopi. Pohon kopi biasanya dimiliki oleh setiap warga masyarakat secara individu dan secara keluarga.

Tak hanya itu, penanaman pohon kopi ini dilakukan oleh orang Papua, karena notabene termotivasi dari sesama orang Papua lain yang sudah menanam dan menghasilkan uang dari hasil penjualan kopi tersebut.

Petani menanam pohon kopi, tetapi tidak dirawat secara baik. Selain itu, tidak ada pupuk tambahan. Hal ini yang membuat kopi tidak bisa berkembang dan tumbuh secara cepat. Meskipun demikian, kualitas kopi Papua sangat bagus, tetapi belum dikelola secara baik oleh para petani.

Bagi para petani kopi di Papua, yang terpenting saat ini adalah bagaimana kopi yang ditanam bisa dijual. Uang dari hasil penjualan kopi ini, bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di dalam keluarga.

Salah satu hal yang membuat para petani malas menanam kopi, karena tidak ada pembeli. Selain itu, proses perawatan yang dilakukan masih terkesan tradisional. Sebab penanaman pohon kopi sendiri baru dilakukan oleh masyarakat Papua dan bukan merupakan pohon yang ada sejak nenek moyang dahulu kala.

Selain itu, tidak ada mesin untuk mengelola kopi, sehingga dikerjakan secara manual dengan cara buah kopi dimasukan ke dalam noken, lalu digosong menggunakan tangan. Hal ini membutuhkan waktu kurang lebih seminggu baru selesai.

Selain itu, tidak ada orang yang membeli di tempat. Tentu hal ini membuat para petani harus membawa dan menjualnya sendiri di kota. Belum lagi jika kopi yang dipanen tersebut rusak, maka petani akan mengalami kerugian.

Biji kopi yang dipanen, akan terlebih dahulu dijempur beralaskan terpal, di lapangan bebas, dibawah teriknya matahari dan harus dikontrol secara baik, sehingga tidak rusak, apalagi sampai kena hujan, maka kopi bisa rusak dan tak bisa dijual.

Bapa Jhon sendiri terlihat membawa biji kopi sekitar 8 kilo dari Kampung Peneli, Distrik Okbab, Kabupaten Pegunungan ke Jayapura.  Ongkos transportasi menggunakan pesawat sebesar Rp. 900.000,-. Sedangkan ongkos pesawat kembali, dari Jayapura ke Pegunungan Bintang sebesar Rp. 1.2000.000,-.  Sebagai petani pihaknya merasa sangat rugi, karena penjualan kopi malah mengantikan transportasi udara yang digunakan, bahkan terkesan rugi.

Oleh karena itu, perlu ada orang atau badan usaha atau pemerintah yang siap membeli biji kopi milik masyarakat di tempat, sehingga para petani kopi tidak harus menggeluarkan biaya transportasi yang besar, hanya untuk menjual biji kopi ke Jayapura.

“Sebagai petani kopi kami harapkan ada yang siap membeli kopi kami di tempat, sehingga kami tinggal menjual kepadanya dengan harga yang terjangkau. Karena kalau petani sendiri bawa ke Jayapura lagi, maka jelas kami sangat rugi, apalagi  tiket pesawat mahal,” harap. (Bavo Valenditi Eperi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

38 − = 34