Hutan Sagu di Abar, Warisan Nenek Moyang

Sagu, merupakan kebutuhan primer atau pokok bagi masyarakat Papua, terutama di kampung-kampung. Sagu dapat mengantikan beras. Oleh karena itu, menjaga hutan sagu, merupakan bagian yang harus dilakukan oleh masyarakat di Papua, seperti yang telah dilakukan oleh masyarakat di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Sabtu, 14 November 2020, sekitar pukul 11.15 Wit, kami dari Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN) bersama-sama dengan para peneliti dari Balai Arkeologi Papua, bergegas dari Dermaga Yahim, Distrik Sentani menuju ke Kampung Abar Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura.

Untuk sampai ke Kampung Abar, kami harus menggunakan perahu motor dan menyelusuri Danau Sentani. Kali ini kami menggunakan perahu motor yang dikemudikan oleh bapa Naftali Felle. Bapa Naftali adalah Kepala Suku di Kampung Abar, sekaligus Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional Titian Hidup.

Sagu merupakan salah satu makanan khas Papua. Tak heran, jika sampai saat ini mayoritas masyarakat Papua, khususnya yang ada di kampung-kampung masih menjadikan sagu sebagai makanan pokok mereka setiap harinya. Hutan sagu sendiri mayoritas tumbuh di wilayah Indonesia Timur, misalnya di Maluku dan Papua. Meskipun demikian, hutan sagu di Papua mulai berkurang. Hal ini disebabkan oleh pembangunan yang semakin pesat. Selain itu, hutan sagu sebagian besar digantikan dengan perusahaan kelapa sawit.

Meskipun demikian, masih ada sebagian besar masyarakat Papua, terutama yang berada di kampung-kampung masih mempertahankan dan menjaga dengan baik hutan sagu mereka. Salah satunya di Kampung Abar. Di mana, sampai hari ini masyarakat masih menjaga hutan sagu, peninggalan nenek moyang mereka sejak dahulu kala dengan baik.

Hutan sagu yang ada di Abar, merupakan peninggalan dari para nenek moyang yang kini dinikmati oleh anak cucu saat ini. Sedangkan, generasi saat ini tidak menanam pohon sagu.Dipinggiran Danau Sentani terdapat 24 kampung. Setiap kampung dan setiap keluarga memiliki dusun sagunya masing-masing. Dengan kepemilikan yang beragam. Ada juga dusun sagu milik pribadi.

Dusun sagu ini dikuasai oleh ondofolo dan kepala suku. Ada sagu yang bisa bisa diambil dan dikonsumsi oleh masyarakat, tetapi ada juga sagu yang tak boleh diambil dan dikonsumsi oleh masyarakat.Cara mengelola sagu bagi masyarakat Sentani adalah meramu sagu. Sagu merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat di pesisir Danau Sentani. Selain itu, di setiap daerah memiliki cara pengolahan sagu yang berbeda-beda.

Untuk menghasilkan sagu, terlebih dahulu pohon sagu ditebang, kemudian dibelah menjadi dua bagian. Setelah itu, para laki-laki akan memangkur sagu  secara tradisional menggunakan kapak batu, berbentuk seperti angka tujuh. Sedangkan, para wanita akan meramas  sari sagu menggunakan air, sehingga sagu menjadi seperti tepung.

Namun sayang, saat ini benda-benda seperti kapak batu untuk memangkur sagu sudah jarang digunakan, karena digantikan dengan mesin pemarut sagu, mesin pengayak sagu, mesin pengedap sagu, mesin pemeras sagu, oven pengering sagu, mesin peniris air sagu dan mesin penepung sagu.

Memang semua sudah berubah banyak. Di mana benda-benda tradisional dalam mengolah sagu sudah digantikan dengan cara modern, cuma cara tradisional yang masih digunakan adalah pola meramas sagu.

Di Danau Sentani ada sekitar 29 jenis sagu yang berkualitas dan hasilnya berbeda-beda. Sagu yang paling bagus adalah sagu duri yang isinya berwarna merah. Sagu merah ini biasanya dikhususkan untuk anak perempuan yang sudah berkeluarga.

Sagu yang telah diolah, akan dijual dengan harga  perkarung berukuran kecil seharga 200.000,- sampai 300.000,-. Namun jika memasuki bulan Desember, harga sagu perkarung bisa mencapai 500.000,- sampai 600.000,-. Tingginya penjualan sagu ini, disebabkan juga karena hutan sagu yang semakin berkurang.

Pembangunan infranstruktur yang begitu cepat saat ini di wilayah Sentani, dikuatirkan dapat menganggu, bahkan menghilangkan hutan sagu yang ada disepanjang pinggiran Danau Sentani.

“Diharapkan agar hutan sagu tetap dijaga dengan baik, sehingga menjadi salah satu makanan pokok bagi masyarakat disepanjang pinggiran Danau Sentani,” harap Naftali. (Viktoria Kandam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 3 = 4