Abar Negeri Gerabah di Tepian Danau Sentani

Banyak kampung selalu dijuluki dengan keunikannya masing-masing. Seperti misalnya, kampung Salor di Merauke, yang dijuluki sebagai kampung candi alam. Tak hanya itu, ada juga kampung yang dijuluki sebagai kampung internet dan lain sebagainya. Penobatan terhadap kampung, perlu juga dinobatkan kepada Kampung Abar, sebagai kampung gerabah yang berada di Sentani Tengah, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Sabtu, 14 November 2020, sekitar pukul 10.45 Wit, kami dari Rumah Menulis Papua Universal ( RUMPUN ) bergegas dari Terminal Expo, Waena menuju ke Dermaga Yahim, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

 Sekitar 30 menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Dermaga Yahim. Sesampai di sana, kami di sambut dengan baik oleh Kepala Suku Kampung Abar, bapa Naftali Felle dan para peneliti dari Balai Arkeologi Papua yang sudah terlebih dahulu datang di Dermaga Yahim.

Sebelum bertolak ke Kampung Abar, kami mendapatkan arahan dari Pendamping RUMPUN, kakak Musa Abubar dan kakak Roberthus Yewen, berkaitan dengan penugasan penulisan kami di Abar nanti.

Sekitar pukul 11.15 Wit, kami bertolak menggunakan perahu motor dengan mesin 40 PK dari Dermaga Yahim dengan tujuan Kampung Abar. Perahu motor ini dikemudikan oleh bapa Naftali. Perjalanan ke Abar, kami harus menyelusuri Danau Sentani.

Sekitar 20 menit perjalanan, kami akhirnya tiba di Dermaga Abar. Dermaga ini berada di tengah-tengah Kampung Abar. Satu per satu turun dari perahu motor secara berhati-hati.

Abar, merupakan salah satu kampung yang berada di pesisir Danau Sentani. Posisinya berada di bagian Sentani Tengah, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Tak hanya itu, Abar dikenal juga sebagai negeri gerabah.

Gerabah dalam bahasa Sentani disebut Helay. Gerabah telah diwariskan oleh para leluhur di Kampung Abar sejak dahulu kala sampai sekarang.Sekaligus, gerabah merupakan salah satu kerajinan tangan dan sumber pendapatan bagi masyarakat Abar.

Oleh karena itu, gerabah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat di Aba, sehingga tak heran jika sebagian besar masyarakat di Abar sangat mahir dalam membuat gerabah.

Gerabah dibuat dari tanah liat. Di Abar ada 5 jenis warna tanah liat yang biasa digunakan untuk membuat gerabah, yaitu tanah liat warna hitam, merah, coklat, kuning dan tanah liat berwarna campuran.

Di Rumah Gerabah, terdapat berbagai jenis gerabah yang sudah dibuat, mulai dari gerabah jenis are-are (tali pusar balita), pot bunga, tempat putar papeda, tempat masak ikan, tungku api dan berbagai jenis lainnya.

Tak hanya itu, ukurannya juga berbacam-macam dengan harga yang bervariasi, mulai dari ukuran kecil, sedang dan ukuran paling besar. Harga setiap gerabah mulai dari 25000,- sampai dengan 300.000,-.

Di depan Rumah Gerabah, terdapat 3 buah alat, berupa roda putar yang berfungsi sebagai penghalus gerabah. Roda putar ini dibeli oleh Pemerintah Kampung Abar di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara.

Selain itu, terdapat tungku berukuran besar yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura. Tungku ini berfungsi untuk mengeringkan gerabah yang masih basah. Namun sayang, tungku ini tak dapat digunakan lagi oleh masyarakat di Abar.

Tak hanya itu, terdapat juga mesin penggiling kopi di samping tungku tersebut. Namun sayang, mesin ini tak digunakan, sebab masyarakat Abar hanya membuat gerabah, bukan mengelola kopi.

Tak lama kemudian, datang seorang mama dari samping kanan Rumah Gerabah, dengan membawa gerabah berukuran kecil ditangannya. mama ini bernama Mince Dayapo. Mama Mince adalah istri dari Kepala Kampung Abar.

Mama Mince, kemudian menunjukkan gerabah yang telah dibuat olehnya di dalam Rumah tersebut. Di dalam rumah itu, terdapat bermacam-macam gerabah dengan berbagai jenis dan ukuran.

Gerabah ini dibuat sesuai dengan pesanan. Seperti gerabah berbentuk pot yang dibuat oleh mama Mince ini, merupakan gerabah yang dipesan oleh Ketua PKK Kabupaten Jayapura, sekaligus istri Bupati Jayapura, Ny. Magdalena Awoitauw.

“Uang dari hasil penjualan gerabah ini, saya gunakan untuk kebutuhan hidup keluarga sehari-hari, tetapi juga untuk pendidikan anak-anak,” ungkap ibu 6 anak ini.

Mama Mince sendiri sudah membuat gerabah sejak berusia 14 tahun. Tak heran, jika dalam sehari mama Mince bisa membuat 10-20 gerabah berukuran sedang dan besar.

Pembuatan gerabah sendiri mudah, mulai dari pengambilan tanah liat yang berada di sekitar Kampung Abar. Tanah liat ini dimasukan dalam karung berukuran kecil dan ditaru selama 3 sampai 4 hari, sambil disiramkan air di dalamnya.

Kemudian, batu-batu kecil yang terdapat di tanah liat akan dipilahkan. Tujuannya, agar gerabah yang dibuat ini tidak retak. Gerabah yang telah dibuat akan dihaluskan dan dikeringkan menggunakan cahaya sinar matahari dan api.

Selama ini, gerabah yang dijual sesuai dengan yang memesan. Tak hanya itu, belum ada pasaran, sehingga pembuatan gerabah disesuaikan dengan para pembeli.

“Diharapkan pemerintah bisa membangun tempat yang dikhususkan untuk menjual gerabah. Hal ini agar budaya pembuatan gerabah ini terus diwariskan kepada generasi muda,” harap ibu kelahiran Kampung Abar, 10 Januari 1977 ini. (Santi Tuu).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 84 = 92