Yang Tertinggal dari Peninggalan Perang Dunia Kedua di Papua

Beberapa daerah di Papua menyimpan sejumlah benda-benda dan peralatan perang dunia kedua, baik di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Seperti misalnya Goa Jepang atau biasa disebut Goa Binsari di Biak-Numfor, Situs Binker di Kabupaten Manokwari, dan Tank di Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat.

Sabtu, 7 November 2020 sekitar pukul 13.45 Wit, kami dari Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN), Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto bergegas meninggalkan Rumah Kopi Indonesia Sentani menuju ke Lanud Silas Papare, Jayapura. Markas Lanud Silas Papare tidak begitu jauh dengan lokasi Rumah Kopi tersebut.

Di Markas Lanud Silas Papare ini, satu per satu dari kami harus diseprot menggunakan disinfektan di tangan dan belakang tubuh kami. Setelah itu, kami diantar oleh salah satu anggota Lanud Silas Papare dan dipersilahkan masuk ke dalam sebuah ruangan. Nampaknya ruangan ini sudah dipersiapkan sebelumnya, untuk menyambut kedatangan kami.

Tak lama kemudian, datanglah Komandan Lanud Silas Papare, Jayapura, Marsekal Pertama TNI, Dr. Budhi Achmadi, M.Sc. Kami kemudian saling menyapa.  Setelah perkenalan, jenderal bintang satu dari angkatan udara ini mulai bercerita kepada kami, tentang menulis feature atau artikel sampai dengan peninggalan benda-benda perang dunia kedua di Papua.

Salah satunya adalah, Goa Binsari atau dikenal dengan Goa Jepang. Goa ini berada di Biak Kota, Kampung Sumberker,  Distrik Samofa,   Kabupaten Biak-Numfor. Goa ini berada secara alami tanpa campur tangan dan buatan manusia. Terdapat banyak sekali stalagtit indah yang menggantung di dinding-dinding goa tersebut.

Di dalam goa ini, banyak prajurit Jepang yang di kubur hidup-hidup. Tak hanya itu, terdapat juga tulang berulang dari para tantara Jepang yang tewas saat peristiwa pemboman oleh pasukan Sekutu.

Perlu diketahui, Jepang mendarat dan tiba di Papua pada tanggal 7 Desember  1941. Pada waktu itu, Jepang menguasai seluruh wilayah pasifik, termasuk Papua.   Kehadiran Jepang di Papua, secara perlahan-lahan mampu membuat pelabuhan, menjadikan Kota Hollandia sebagai kota perdagangan regional dan sebagai pusat kekuasaan.

Jepang banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan, saat perang dunia kedua di Papua. Sebut saja misalnya, di Kabupaten Biak-Numfor, Manokwari, Kabupaten Tambrauw di Provinsi Papua Barat dan daerah lainnya.

Nama asli dari Goa Jepang, yaitu Abyab Binsari. Dalam bahasa Biak disebut bahwa Bin artinya perempuan dan Sari artinya tua. Oleh karena itu, tak heran jika Goa Binsari dikenal oleh warga setempat sebagai Goa Nene.

Sebelum tantara Jepang menempati Goa Binsari ini, sebenarnya sejak dahulu di goa ini ditinggali oleh seorang nene. Namun, saat tentara Jepang datang ke goa ini, maka tiba-tiba nene tersebut menghilang dan tak tahu keberadaannya sampai saat ini. Goa ini digunakan oleh tentara Jepang, sebagai tempat pertempuran melawan tentara Sukutu.

Perang dunia kedua sendiri terjadi pada tanggal 27 Mey 1944 sampai dengan tanggal 20 Juni 1944. Perang dunia kedua yang berlangsung sekitar sebulan ini mengakibatkan banyak pasukan Jepang yang tewas dalam pertempuran.

Sekutu melakukan penyerangan menggunakan bom yang diluncurkan kearah Gua Binsari. Akibatnya, banyak tentara Jepang yang meninggal dari serangan bom tersebut.

Goa ini kini jadikan sebagai museum alam. Menyimpan  berbagai peninggalan sejarah yang ternilai, seperti tulang-berulang dari para tentara Jepang dan tertata secara rapi di dalam satu ruangan.

Tak hanya itu, di dalam gua ini terdapat artefak, senjata api, alat makan, seragam, mortir tank, dan barang pribadi dari para tentara jepang yang telah gugur tersebut. Kini goa ini dijadikan sebagai museum yang dikunjungi oleh para wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri.

Peninggalan perang dunia kedua ini tak hanya di Biak, tetapi ada juga dibeberapa daerah lainnya di Papua Barat, seperti misalnya di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat.

Di wilayah darat Kabupaten Manokwari, terdapat beberapa peninggalan Situs Bunker Jepang, seperti misalnya di Pertigaan Akper Kampung Ambon Atas, Kompleks Misi Brawijaya, depan Hotel Arfak Brawijaya, samping markas Desatemen POM, dan di samping Kantor Lurah Manokwari Timur.

Sedangkan di wilayah perairan laut Pulau Mansinam terdapat beberapa Situs Bunker, seperti misalnya Bunker Maggewa, Jepang Salobar, Horepyar 1, Horepyar 2, dan Bunker Air Panas.

Bunker ini merupakan tempat perlindungan tentara Jepang dari serangan udara maupun darat tentara Sekutu selama perang dunia kedua berlangsung. Fungsi bunker sama halnya dengan fungsi goa bagi tentara Jepang selama perang dunia kedua.

Bunker digunakan untuk sebagai tempat perlindungan dari serangan musuh. Bunker sendiri seperti halnya dengan benteng. Biasanya melalui proses pembuatan. Keberadaan bunker-bunker Jepang di Kabupaten Manokwari menunjukkan bahwa Kabupaten Manokwari dulunya menjadi area pusat pertempuran antara pasukan Jepang dan pasukan Sekutu saat perang dunia kedua.

Selain itu, di Gunung Meja terdapat tugu Jepang. Tugu ini dibangun atas kerja sama antara Pemerintah Jepang dan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manokwari. Tugu ini sebagai wujud dari mengenang tentara Jepang yang telah gugur dalam perjuangan.

Selain itu, terdapat peninggalan perang dunia kedua di Kabuapten Tambrauw. Tercatat ada dua lokasi peninggalan peralatan perang dunia kedua. lokasi pertama, terdapat lima tank dan lokasi kedua, terdapat empat tank.

Peninggalan Jepang berupa sembilan tank ini diselimuti pepohonan dan lumut. Ini merupakan tank artileri atau pasukan. Bentuknya masih utuh. Roda-roda dan rantai melingkar di tank dan tidak terlepas dari tempat semula. Tank-tank ini berupa kendaraan perang amfibi atau landing vehicle tranck

Tank ini berada di Distrik Kwor Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Tank-tank ini kini dirawat secara baik dan menjadi salah satu tempat wisata sejarah di negeri penyu belimbing ini.

Peninggalan benda-benda sejarah selama perang dunia kedua di berbagai wilayah yang ada di Papua, perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak, terutama pemerintah dalam menjaga dan merawatnya secara baik. Sehingga menjadi tempat-tempat wisata sejarah yang dikunjungi oleh para wisatawan lokal, regional, maupun wisatwan manca negara.

“Perlu dibuatkan museum yang menyimpan benda-benda sejarah selama masa perang dunia kedua diberbagai daerah, terutama yang terdapat benda-benda sejarah perang dunia kedua, sehingga menjadi objek wisata yang dikunjungi oleh wisatawan,” ucap jenderal alumnus Akademi Militer Angkatan Udara tahun 1991 ini. (Santi Tuu).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + = 12