Mereka Sulit Mendapatkan Air Bersih

Warga Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, masih kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka masih menggantungkan hidupnya pada air Danau Sentani dan sumur bor. Meski demikian, kampung itu sudah dialiri aliran listrik.     

Sabtu, 31 Oktober 2020 tim Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN) kembali lagi mengunjungi Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, setelah sebelumnya mendatangi kampung itu pada Sabtu, 17 Oktober 2020. Siang itu, langit Sentani cerah, serasa panas matahari membakar tubuh, namun tak ada keringat, ketika menunggu teman-teman yang belum tiba di Pantai Kalkote, Kampung Harapan Sentani yang juga masuk Distrik Sentani Timur.

Angin dari sejumlah penjuru menyeruak masuk menyegarkan tubuh ketika menuggu teman-teman yang menyusul dari belakang ke Pantai Kalkote. Lantaran menunggu lama, tim dari Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Papua berserta guru SMA Negeri 1 Sentani, dan Hari Suroto lebih dahulu berangkat ke Asei dengan menggunakan speedboat.

Setelah beberapa  menit menunggu, teman-teman yang menyusul, tiba. Kami pun mencari transportasi speedboat untuk dipakai ke Kampung Asei. Perjalanan ke Asei memakan waktu kurang lebih sekitar 10 menit, melewati Danau Sentani. RUMPUN sepakat kembali ke Asei untuk melengkapi informasi yang dirasa kurang setelah kunjungan pertama.  Salah satu data yang perlu dilengkapi adalah informasi terkait bagimana warga Asei mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari.

Setelah tiba di Asei sekitar pukul 11.15 WIT, kami menjalankan tugas masing-masing dari pembimbing. Saya bersama teman saya, Zakarias Agapa, menggunakan speedboat menuju ke Asei kecil untuk menemui  Antoneta Ohee, Kepala Kampung Asei. Perjalanan ke rumah kepala kampong sekitar 10 menit. Rumah kepala kampong persis dipinggir Danau Sentani, berhadapan dengan Kampung Asei yang berada ditengah danau.

Salah satu tujuan menemui kepala kampung, yakni untuk meminta keterangan terkait air bersih yang dipakai oleh warga Asei untuk memenuhi kehiidupan sehari-hari. Sebelum wawancara, kami memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan mendatangi Antoneta. Perempuan empat anak ini ramah dan mau menerima. Cerita kami pun dimulai.

Antoneta menyebutkan, warga yang dipimpinnya kesulitan mendapatkan air bersih. Kini, mereka menggunakan sumur bor, tepat didekat rumahnya. Sebelumnya, warga Asei menggunakan air Danau Sentani, untuk mencuci piring, masak dan mandi atau lebih dikenal dengan sebutan MCK (mandi, cuci, kakus). Namun, bencana banjir bandang Sentani pada Maret 2019 lalu menyebabkan warga sudah tidak lagi menggunakan air Danau Sentani untuk masak dan air minum.

Pasca banjir bandang itu, warga menggunakan air dari sumur bor untuk masak. Masyarakat Asei saban hari, menggunakan speedboat memuat jerigen berukuran lima liter sampai 20 liter ke lokasi sumur bor yang berada dipinggir danau, untuk mengambil air bersih untuk memasak. Selain banjir, banyak mata air mengalir dari Kota Sentani, masuk ke danau sehingga warga was-was untuk menggunakan air Danau Sentani.

Meski demikian, Air Danau Sentani masih tetap digunakan untuk mandi dan cuci pakaian. Sumur bor itu sangat membantu, tapi sering menyumbur ke kulit danau ketika air danau naik, sehingga kadang mereka kesulitan untuk mengambil air. Tetapi, berkat pertolongan sang pencipta, warga masih bisa mendapat air bersih dari sumur bor itu. 

Kesulitan lain dari sumur bor ini adalah ketika musim panas, sumur bor itu kering, padahal berada di bibir Danau Sentani. Padahal ada tiga titik sumur bor. Ketika sumur bor kering, warga Asei kesulitan mendapatkan air bersih. Dengan berbagai cara, mereka berupaya untuk mendatangkan air bersih demi untuk mempertahankan hidupnya.

Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) setempat belum bisa memasang pipa air ke Asei. Mungkin kesulitan, karena pipa harus dipasang di dasar danau. Meski menyebalkan, repot, sulit tetapi upaya menddapatkan air bersih itu menguji kesabaran. Walau lalu lalang untuk menimba air bersih dari sumur bor, warga Asei sudah mengenal air galon. Segelintir warga sudah memakai air galon untuk minum. 

Tidak hanya bergantung pada sumur bor dan air Danau Sentani, ketika dating hujan, warga Asei berupaya menampung air untuk dipakai. Air Danau Sentani, sumur bor dan air hujan sangat berharga bagi lantaran mempertahakan hidup masyarakat Kampung Asei. Semoga masyarakat Asei mendapatkan air bersih seperti warga kota.

Masyarakat Kampung Asei sudah menikmati listrik. Sejak 2003, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memasang kabel dari Pantai Kalkote ke kampung tersebut. Selain memasang kabel, PLN juga memasang instalasi listrik disetiap rumah warga. Berkat pemasangan kabel dan menginstalasi listrik, mayarakat Asei menikmati lampu. Kampung Asei terang benderang diwaktu malam hari. Semua rumah warga sudah dialiri listrik, lampu di Asei menyala siang malam seperti ditengah kota. (Valentinus Mafiti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 1