Ketika Jayapura Jadi Tempat Persinggahan Jepang

Banyak peninggalan sejarah yang kini jadi saksi bisu, padahal dibalik itu, menyimpan kenangan dan pelajaran bagi generasi masa kini. Termasuk ketika Jayapura dijadikan tempat persinggahan Jepang. Peralatan perang dunia ke-II pun terancam hilang termakan lumut

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, demikian pesan yang disampaikan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Pesan ini pantas disematkan untuk menjaga dan merawat segudang peninggalan sejarah yang kini dianggap tak berarti. Seperti cerita Jepang dan Belanda yang pernah menjajah Indonesia, peralatan perang serta buah tangan yang tinggalkan ketika Jepang menjadikan Jayapura sebagai tempat persinggahan.

Jepang adalah salah satu dari beberapa negara yang pernah menjajah Indonesia. Kurang lebih tiga tahun sebelum perang dunia ke-II pecah. Untuk memperebutkan wilayah Indonesia, khususnya Papua pada 1944, di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jepang pernah membangun tiga pangkalan udara/Bandar udara di Jayapura untuk perang melawan Belanda.  Jayapura kala itu dikenal dengan sebutan Holandia.

Kisah tentang tiga pangkalan udara di Sentani dan peninggalan perang dunia ke-II itu terkuak ketika tim dari Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN) mendatangi Markas TNI Angkatan Udara di Sentani, Kabupaten Jayapura pada Sabtu, 7 November 2020. Tim ditemani Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua. Siang itu, langit Sentani cerah, ibarat seperti lautan, terik panas matahari terasa membakar tubuh ketika perjalanan menuju Markas TNI Angkatan Udara Silas Papare Jayapura.

RUMPUN menuju ke Markas TNI Angkatan Udara Silas Papare Jayapura setelah singgah di Kedai Kopi Indonesia, yang juga berada di Sentani, letaknya tidak terlalu jauh dari Markas TNI Angkatan Udara Silas Papare Jayapura. Perjalan dari kedai kopi ke Masrkas TNI Angkatan Udara kurang lebih sekitar lima menit. Jarum jam tepat di angka satu lewat tiga belas menit/tepat pukul 13.14 WIT, tim tiba.

Saat tiba, dua anggota tentara menyambut kami persis di gerbang pintu masuk. Rupanya, kedatangan kami sudah diketahui, lantas sebelumnya sudah dikomunikasikan oleh Hari Suroto. Kedua, anggota itu mengarahkan kami memarkir kendaraan roda dua/motor yang kami tumpangi. Sebelum masuk, keduanya menyuruh masing-masing antre untuk disemprot dengan cairan disinfektan guna mengantisipasi penyebaran COVID-19.

Ternyata, bukan hanya kedua anggota itu yang sudah mengetahui kedatangan kami, satu lagi anggota yang sudah siaga persis di samping markas juga sudah mengetahui maksud kedatangan tim. Satu anggota itu ditugaskan untuk mengantar kami. Setelah disemprot cairan disinfektan, satu anggota itu menuntun kami ke ruang pertemuan.

Sesampainya di depan ruang pertemuan, tampak beberapa anggota sudah siaga menyambut kedatangan tim. Sungguh, luar biasa tim RUMPUN siang itu, disambut layaknya seperti kunjungan pejabat dari pemerintah. Beberapa anggota yang berada di depan ruang pertemuan, mempesilahkan masuk lalu duduk di kursi yang sudah diatur disamping kiri kanan meja.

Seperti hendak mengikuti rapat resmi, diatas meja, tampak tersusun rapi air mineral botol berukuran kecil. Setelah beberapa menit kemudian, Komandan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Silaspapare Jayapura, Marsekal Pertama TNI  Dr. Budhi Achmadi,M.Sc memasuki ruangan. Roberth Yewen, pendiri RUMPUN mengawali pembicaraan dengan menjelaskan tujuan kedatangan RUMPUN ke Markas TNI Angkatan Udara Silas Papare Jayapura. Lalu, mahasiswa yang diajak serta aktivitas  organisasi yang didirikan itu.

Setelah mendengar penjelasan Danlanud Silaspapare Jayapura, Marsekal Pertama TNI  Dr. Budhi Achmadi menyambut baik. Danlanud memperkenalkan diri serta jabatan yang kini diemban kepada kami. Selannjutnya, membagi pengalamannnya terkait menulis feacture/artikel  dan pengalaman kerjanya. Ternyata, Marsekal Pertama TNI  Dr. Budhi Achmadi.MSc, sebelum menjadi tentara, suka menulis semenjak masih duduk di bangku kelas dua, Sekolah Menengah Atas (SMA) di Magetan, Jawa Tengah pada 1990.

Disela-sela cerita pengalaman menulis dari jenderal bintang satu itu, beberapa anggotanya menjamu kami dengan minuman jahe atau sering disebut sarabah panas, kue yang diisi dipiring berbalut plastik diatasnya. Seusai panjang lebar menceritakan pengalaman, Dr. Budhi Achmad mengisahkan peninggalan tiga pangkalan udara/bandar udara di Sentani. Tiga bandara itu dibangun oleh Jepang. Konon, Jayapura kala itu sebagai tempat persinggahan, lantaran pangkalan utama Jepang di Australia.

Pangkalan udara pertama, berada kurang lebih sekitar 100 meter di belakang Markas TNI Angkatan Udara Silas Papare Jayapura di Sentani. Selanjutnya, pangkalan udara kedua di Yonif 751 Sentani. Kemudian, pangkalan udara ketiga yang kini di kembangkan yakni Bandar Udara Sentani. Sebenarnya, pangkalan udara pertama hendak di kembangkan menjadi Bandara namun landasan pacu pesawat pendek. Sementara landasan pacu pangkalan udara ketiga cukup panjang sehingga dimanfaatkan.

Dua pangkalan udara yang dibangun oleh Jepang kala itu, kini hanya tinggal kenangan, tak dimanfaatkan. Malah pangkalan udara pertama di belakang Markas TNI AU Silas Papare Jayapura, kerap  dipakai sebagai tempat untuk Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Setelah itu tak difungsikan. Nasibnya sama seperti pangkalan udara di Yonif 751 Sentani. Kisah tiga bandara ini terancam hilang dimakan waktu, lantaran jarang diceritakan kepada gerenasi muda.

Selain ketiga peninggalan pangkalan udara itu, Dr. Budhi Achmad menyebutkan kebanyakan, peninggalan perang dunia ke-II di Jayapura merupakan semi permanen, atau bagunan setengah beton yang kini lebih banyak digunakan sebagai markas tentara, seperti Markas TNI Angkatan Udara Silas Papare di Sentani, Resimen Induk Kodam (Rindam) XVII Cenderawasih di puncak Ifar Gunung Sentani. Selanjutnya, Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) X di kawasan Hamadi, Kota Jayapura,

Tak hanya bangunan semi permanen, ada juga bangkai-bangkai besi kapal, tenki peninggalan sekutu, dan beberapa peningalan foto-fofo serta tugu MacArthur di Rindam XVII Cenderawasih di puncak Ifar Gunung Sentani. Banyak peninggalan lainya seperti bangkai kapal di Hamadi, Teluk Youtefa, tenki teng di Demta, Sentani.  Hingga kini hanya tugu MacArthur yang masih dikenal dan ceritanya diwariskan.

Tugu MacArthur adalah tempat bersejarah yang terletak di puncak Ifar Gunung. Tugu ini berdiri sejak Perang Dunia II dan didirikan oleh pasukan sekutu Amerika yang dipimpin oleh jenderal bintang lima asal Angkatan Darat Filipina. Jendral yang dikenal dengan strategi “Loncat Katak”-nya ini berperan penting dalam Perang Pasifik pada Perang Dunia II.

Pasukan Sekutu mendarat di Teluk Humboldt atau Teluk Hamadi pada 22 April 1944. Douglas Mac Arthur memerintahkan para pasukannya untuk mendirikan Markas Besar Umum Daerah Pasifik Barat Daya di Distrik Sentani, tepatnya di Ifar Gunung. Tujuan tugu Mac Arthur didirikan di markas besar adalah sebagai pembuktian atau simbol bahwa Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur dan para sekutunya telah mendarat di New Guinea dan menguasai Jayapura (Hollandia) pada perang dunia kedua. Saat Perang Dunia II, Jayapura menjadi markas pertahanan untuk menetralisir pertahanan Jepang di Rabual, Papua Nugini.

Benda-benda peninggalan perang dunia ke II di Kota Jayapura, banyak yang tak ada dalam pengawasan, dan tak terawat. Sebagian yang terawatt, itupun kebanyakan dirawat oleh anggota tentara lantaran dijadikan markas. Sementara yang berada diluar itu, hanya nama, tak terawatt, terancam hilang karena termakan lumut. Seharusnya, pemerintah berpikir untuk merawat benda-benda peninggalan sejarah perang dunia ke-II ini dengan menyediakan sebuah Museum khusus untuk menyimpannya, sehingga ada pelestarian, tapi juga bisa menjadi obyek wisata sejarah.(Gelda Asrouw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

60 − = 50