Rindu Melihat Mama di Hari Terakhirnya

Mama adalah tiang penompang dan merupakan bagian terpenting di dalam keluarga. Urusan anak-anak, selalu ada di pundaknya. Setiap detik, menit, dan setiap hari ada di dalam hidupnya. Hal inilah yang membuat anak mempunyai ikatan emosional yang sangat kuat dengan mama, dibandingkan dengan bapa. Inilah yang saya rasakan saat ini. Rasa yang membuat saya rindu melihat sosok mama di hari terakhirnya.

“Saat ku sendiri, ku lihat foto dan video bersamamu yang telah lama ku simpan. Hancur hati ini, melihat semua gambar ini yang tak bisa ku ulang kembali. Ku ingin saat ini engkau ada di sini, tertawa bersamaku seperti dulu lagi, walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah, bukannya diri ini tak terima kenyataan, hati ini hanya rindu”.

Demikian lagu ciptaan Andmesh Kamaleng, yang dirilis pada tanggal 26 April 2019 ini pantas disemayatkan, untuk mengenang hari-hari bersama mama. Meskipun, selama beberapa tahun belakangan ini, tak lagi saya dengar canda, tawa, bersama-sama dengan mama. Mungkin memang hati ini hanya rindu.

Setiap sore menjelang malam, wanita berambut keriting, dibalut keriput kulit di tubuhnya, badannya kurus akibat termakan oleh usia, terlihat sedang menggendong noken dibagian kepala, ketika pulang dari pasar. Dari kejauhan terlihat dengan jelas kelelahan di wajahnya, karena seharian bertarung dengan teriknya matahari.

Meskipun demikian, senyum kebahagiaan itu timbul seketika, ketika melihat kami menjemputnya di depan halaman rumah. Wanita itu bernama Bertha Hay. Perempuan yang saya hormati sepanjang hidup saya. Kini ucapan mama yang biasa kusemayatkan kepadanya, sudah tak pernah saya panggil lagi beberapa tahun belakangan ini.

Ya, sudah sekitar 7 tahun perpisahan saya bersama mama. Sosok dibalik layar yang berjuang siang dan malam, untuk mengantarkan saya meraih gelar sarjana sosial (S.Sos) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih (Uncen) pada bulan Maret 2014.

Bertha Bernadetha Hay. Itulah nama mama saya. Wanita hebat dari Kampung Ases Distrik Ases Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat ini adalah sosok ibu yang luar biasa dalam kehidupan keluarga kami.

Untuk menyekolahkan anak-anaknya, mama selalu berjualan di pasar. Mulai dari pagi sampai malam setiap harinya, kecuali hari Minggu. Mama sendiri mempunyai satu orang saudari perempuan bernama, Yosephita Hay. Mereka berdua adalah adalah sosok ibu yang mengajari kami banyak hal.

Hampir sebagian besar hidup mama dihabiskan di Pasar Wosi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, untuk berjualan. Hal ini dilakukan mama hanya untuk membiayai pendidikan kami anak-anaknya.

Ketika Bapa meninggal dunia pada tahun 2011. Mama hanya mengandalkan pensiunan bapa setiap bulan, sembari tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Apalagi, di tahun 2011 saya sudah kuliah dan berada di semester 5. Saya kuliah di Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih.Tentu membutuhkan biaya kuliah tidak murah.

Mama adalah sosok inspirasi bagi keluarga kami, terutama saya. Sebab, semangatnya dalam mendidik dan mendukung kami ketika sekolah sangat luar biasa. Bahkan, kesuksesan saya meraih gelar sarjana tidak terlepas dari kehebatan mama di belakangnya.

Wisuda Terakhir Bersama Mama

Saya adalah anak yang paling beruntung, sebab dari semua saudara dan saudari kandung di dalam keluarga, baru saya yang berhasil menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Semua keberhasilan yang saya raih hari ini, tidak terlepas peran serta mama.

Mama tidak hanya berperan sebagai seorang ibu, tetapi sekaligus mengambil alih peran bapa, terutama dalam mencari nafkah untuk kehidupan dan pendidikan kami di dalam keluarga. kesuksesan yang kami raih sebagai anak-anak tidak terlepas dari buah tangannya.

Bulan Maret 2014, mama datang ke Jayapura. Ini merupakan kali pertama mama ke Jayapura. Kedatangan mama di negeri mata hari terbit ini adalah, untuk melihat saya wisuda sarjana di Universitas Cenderawasih.

Kebahagiaan seorang anak adalah, ketika melihat mamanya hadir dalam acara wisudanya. Saat wisuda, mama tampil sederhana. Bagi mama kebahagiaan anaknya, merupakan impiannya selama ini.

Kebahagiaan dalam wisuda tahun 2014, teryata merupakan kebahagiaan terakhir saya bersama mama di Kota Jayapura. Setelah syukuran, mama pulang kembali ke Manokwari. Sesampai di Manokwari, kira-kira bulan Juni 2014, mama mulai jatuh sakit.

Mama harus rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manokwari. Saya sempatkan diri dari Jayapura ke Manokwari, untuk melihat mama yang sedang sakit. Kemudian saya balik lagi ke Jayapura. Akibat sakit, mama tidak lagi berjualan di pasar seperti biasanya.

Ketika saya di Jayapura beberapa hari. Saya tiba-tiba sakit berat. Kaki saya tidak bisa bergerak. Saya tiba-tiba lumpuh dan tidak bisa berjalan. Saya harus berobat sana dan sini. Sampai terakhir saya ke Sarmi sekitar akhir bulan Juli 2014, hanya untuk berobat.

Hati bercampur rasa sedih yang mendalam, karena disaat saya sakit, mama juga sakit. Pikiran tidak tenang, karena seharusnya saya bisa lihat dan rawat mama, tetapi saya juga harus terkapar. Ini merupakan cobaan luar biasa dalam keluarga kami.

Sekitar dua bulan opname atau berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manokwari, mama minta pulang ke rumah, karena tidak tahan lagi berada di rumah sakit. Ketika beberapa hari di rumah. Mama akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 27 Juli 2014.

Rindu Melihat Mama Yang Terakhir Kalinya

Ketika perjalanan pulang dari Sarmi. Selama di dalam mobil saya teringat mama di Manokwari. Sesekali air mata saya tiba-tiba keluar dari mata dan membasahi pipi. Perasaan saya hari itu tidak enak, sebab perasaan kecil saja mengatakan mama sudah pergi untuk selama-lamanya.

Meskipun, saat itu saya masih dalam kondisi sakit dan tidak bisa berjalan, tetapi saya tetap berusaha untuk kuat. Saat sampai di Asrama Mahasiswa Tambrauw di Jayapura, saya lihat kakak perempuan sudah menunggu di depan pintu. Lantas, di hati kecil saya mengatakan, mama sudah pergi untuk selamanya.

Malam itu berubah menjadi duka cita yang mendalam. Karena disaat saya sedang sakit, mama harus pergi untuk selama-lamanya. Saya harus menahan rasa sakit di hati, karena wanita inspirasi dan panutan dalam keluarga kami selama ini telah pergi untuk selama-lamanya.

Hanya bisa tidur sambil menangis. Tak bisa berbuat apa-apa, karena sosok yang kami harapkan selama ini, untuk menjadi mama, sekaligus menggantikan peran bapa selama ini, harus pergi dan kembali kepada pangkuan sang Ilahi.

Saya rindu, karena tidak bisa melihat dan memeluk mama diakhir hayat hidupnya. Hati ini hanya rindu. Karena sosok teladan, pekerja keras dan penyayang itu telah pergi tanpa saya melihatnya. (***).

Penulis: Roberthus Yewen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

48 − = 38