Melihat Jayapura Ratusan Tahun Lalu dari Situs Tutari

Situs Megalitik Tutari bukan hanya salah satu peninggalan budaya prasejarah di Kabupaten Jayapura, Papua. Melalui situs ini kita bisa melihat kehidupan masa lalu kehidupan masyarakat Doyo lama yang telah mengenal budaya berladang ratusan tahun yang lalu. 

Pagi itu, Sabtu 24 Oktober 2020, saya bersama  tujuh anggota tim Rumah Menulis Universal Papua (RUMPUN) bergegas menuju lokasi Situs Megalitik Tutari di Jalan Sentani Genyem Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.  Kami menggunakan kendaraan roda dua ke tempat itu.

Dari Sentani, perjalanan  ke Situs Megalitik Tutari memakan waktu  10 menit.  Sementara dari kota Jayapura, perjalanan ke Tutari memakan waktu sekitar satu jam.  Situs Tutari ini berada  di kampung Doyo Lama atau sering disebut kampung laki-laki yang maknanya diambil dari bahasa asli Sentani, Do artinya laki-laki dan Yo berarti kampung. 

Perumahan warga terlihat berjejeran di pinggiran Danau Sentani  yang luas. Kami Mengawali perjalanan  dengan berdoa bersama kemudian berfoto dengan latar belakang papan nama yang terbuat dari besi untuk menandai tempat itu sebagai sebuah situs. Papan nama yang bertuliskan Situs Megalitik Tutari itu terlihat mulai berkarat disana-sini tulisannya pun mulai kelihatan pudar seperti tidak terawat dengan baik.

 Tepat pukul 11:30 WIT, kami mulai mendaki ke atas bukit Tutari.  Dalam perjalanan kami dapat  menghirup udara yang sangat sejuk dan bersih.  Kondisi jalan ke Bukit Tutari yang dibangun Dinas Pariwisata sejak Tahun 1991 sudah rusak.  Namun hal ini tidak mengurangi rasa sukacita tim dalam perjalanan ke Tutari. 

Di samping kiri-kanan jalan tumbuh dengan rimbun pepohonan Malaleuca Leucadendra atau sering dikenal sebagai kayu putih. Ada juga beberapa semak yang tumbuh dan bongkahan-bongkahan batu gabro dengan warna sedikit menghitam yang terhambur sana-sini. Sungguh buatan tangan Sang Pencipta yang sangat menawan jika dipandang.

Kurang lebih 10 meter perjalanan dari kaki bukit Situs Tutari, terdapat lokasi sektor satu dalam pembagian sektor-sektor di Bukit Tutari. Terdapat enam sektor pada lokasi situs ini. Situs Megalitik Tutari berada pada areal seluas  sekitar 60.000 hektar. Di situs ini tersebar peninggalan budaya Suku Tutari berupa lukisan-lukisan batu,batu pahlawan, batu menhir, batu lingkar dan jajaran batu-batu lainnya.

Suku Tutari sendiri merupakan sekelompok masyarakat zaman Pra sejarah yang dahulu kala mendiami bukit Tutari sekitar 600 tahun yang lalu di tepi Danau Sentani Barat. Nama kampung mereka adalah “Tutari Yoku Tamaiyako” atau sekarang lebih dikenal dengan Bukit Tutari.

 Menurut penuturan cerita dari penjaga bukit tersebut yang juga merupakan masyarakat Kampung Doyo Lama, bapak Hans Pangkatana, masyarakat asli Tutari pada waktu itu hidup dengan makmur dan damai karena  mendiami dataran luas yang subur dengan tumbuhan-tumbuhan dan  faunanya yang banyak serta danau yang kaya akan sumber ikannya. Namun akibat perang antara leluhur nenek moyang suku Doyo dan Suku Tutari pada masa lampau, Suku Tutari diperkirakan telah punah. 

Terdapat juga di sektor satu  sebuah gabro atau sejenis batu yang diukir pula dengan batu keras lainnya. Teknik ukiran ini disebut Rock Engraving atau digores agar  bisa membentuk ukiran. Pada batu-batuan di sektor satu ada dua batu yang terdapat ukiran dengan teknik tersebut.  

 Motif ukiran di atas batu pada sektor satu berbentuk manusia, ikan,kadal, tanda air, dan kura-kura. Jika dikalkulasikan motif manusia berjumlah 12, ikan 10 , kadal 7 dan  tanda air 10. Makna dari ukiran-ukiran di atas batu di sektor satu kebanyakan merupakan flora dan fauna yang dilihat oleh masyarakat Suku Tutari pada saat berburu, makan, dan beraktifitas. 

 Saat mengukir di atas batu, mereka percaya bahwa di dalam segala sesuatu misalnya hewan-hewan yang mereka temukan mempunyai kekuatan di dalamnya. Masyarakat Suku Tutari pada zaman purbakala meyakini adanya kekuatan-kekuatan lain di sekitar tempat ia hidup walaupun mereka belum mengenal agama resmi pada saat itu. Hal inilah yang membuat masyarakat Suku Tutari  zaman dahulu bermukim di atas  dataran tinggi. Sebab  mereka percaya bahwa roh-roh dan dewa-dewa yang mempunyai kekuatan, hidup dan berdiam di atas gunung-gunung. 

 Situs Megalitik Tutari merupakan warisan budaya dunia yang ada di Papua namun kurang terawat. Banyak sampah  berserakan di sekitar situs .Hal ini yang sangat disayangkan karena  belum adanya  upaya  Dinas Pariwisata  dan dinas terkait lainnya untuk menjaga dan merawat kelestarian Situs Megalitik Tutari ini. 

Cerita dan bahasa memang merupakan alat komunikasi untuk mewariskan budaya dari suatu suku namun jika tidak disertai dengan bukti fisik yang nyata maka kebudayaan itu akan menjadi sebuah dongeng belaka bagi generasi selanjutnya.

  Seperti kata  Mahatma Gandhi, tokoh perjuangan dari India yang berbunyi “Sebuah budaya bangsa tinggal di hati dan di dalam jiwa rakyatnya”. Hal inilah yang menggambarkan kehidupan masyarakat Doyo saat ini, melalui cerita-cerita yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi yang kami temukan di Situs Megalitik Tutari. (Merry Rumbino).

Satu tanggapan untuk “Melihat Jayapura Ratusan Tahun Lalu dari Situs Tutari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 3 =