Batu Penghubung Manusia dan Dewa di Situs Tutari

Deretan Batu-batu ini bukan batu biasa. Namun, terdapat makna yang mendalam dibalik deretan batu tersebut. Semakin tinggi suatu tempat semakin suci daerah tersebut. Hal inilah yang tergambarkan dalam batu bulat yang berjejer di sektor lima Situs Megalitik Tutari ini.

Situs Megalitik Tutari telah berdiri sejak masa prasejarah atau masa manusia mulai mengenal bercocok tanam. Menurut Cerita, tempat ini dahulu kala ditinggali oleh suku Tutari. Namun Akibat perebutan wilayah, maka mereka (Suku Tutari) harus berperang melawan Suku Doyo lama, sehingga mengakibatkan Suku Tutari hingga kini telah punah dan tiada.  

Suku Doyo Lama sendiri, berasal dari pulau yang berada di Danau Sentani,  yaitu Pulau Kwadeware. Sementara Suku Tutari sendiri merupakan suku asli. Mereka tinggal dipinggiran Danau Sentani dan melakukan aktifitas seperti orang danau pada umumnya.

Sekitar pukul 13.00 Wit siang, kami dari Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN), dosen dan mahasiswa Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Papua, mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Cenderawasih, dan guru bersama para siswa SMA Negeri 1 Sentani  mulai meninggalkan sektor empat. 

Kami mulai berjalan secara perlahan-lahan menyusuri Jalan setapak yang menanjak, melewati deretan pohon kayu putih untuk menuju ke sektor lima. Sektor ini berada di atas ketinggian perbukitan Situs Tutari. 

Dalam perjalanan, kami ditemani oleh seorang Penjaga Situs Tutari, sekaligus Kepala Perang, Bapa Hans Martin Pangkatana. Bapa, Hans sendiri sehari-hari bekerja di bagian Budaya dan Purba Kala, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Papua.

“Dulu ada saya bersama dua orang teman saya yang ditugaskan untuk menjaga situs ini, tetapi sekarang tinggal saya sendiri. Hal ini karena kedua teman saya telah meninggal,” kata pria berusia 58 tahun ini sambil mengenang kedua temannya.

Kurang lebih empat menit menyelusuri jalan setapak dan mendaki perbukitan. Kami akhirnya tiba di sektor lima. Dari kejauhan terlihat sebuah pondok persinggahan yang berada di sisi kanan sektor lima. 

Pondok berbahan semen dan daun seng ini sama persis seperti yang berada di sektor dua dan sektor empat. Kelihatannya pondok ini sengaja dibangun sebagai tempat beristirahat, bagi para pengunjung yang hendak mengunjungi dan melihat langsung benda-benda prasejarah yang berada di Situs Tutari.

Matahari siang itu terasa sangat panas, seakan-akan membakar seluruh tangan kami. Namun, surya ini tak menyurutkan semangat kami untuk menjelajahi dan melihat langsung situs tersebut.

Pandangan kami langsung menuju ke jejeran pagar kawat yang terlihat sudah usang dan berkarat. Pagar kawat ini berada disebelah kiri kami. Terlihat pintu berukuran sekitar satu meter sebagai penunjuk arah menuju ke sektor lima. 

Berbeda dengan sektor satu dan sektor empat yang menampilkan berbatuan bersimbol dan berlukis. Di sektor lima ini terdapat batu berbentuk bulat yang tersusun rapih memanjang seperti jalan raya.

Batu-batu ini sengaja dibawa oleh para nenek moyang Suku Tutari. Diatur seperti jalan yang menghubungkan antara makhluk hidup di bumi dengan para arwah yang sudah meninggal. Sektor lima ini diyakini sebagai jalan arwah, karena menghubungkan antara kehidupan yang masih hidup dengan kehidupan yang sudah meninggal.

Batu yang berada di sektor lima ini disebut oleh masyarakat setempat sebagai batu wanita. Dalam bahasa Sentani disebut “Mie”. Ini merupakan batu asli disini dan bukan batu yang dibawa oleh manusia dari tempat mana pun. 

”Konsep prasejarah sendiri, dimana semakin tinggi suatu tempat maka semakin suci. Jadi Dunia yang semakin lebih dekat dengan Tuhan. Tidak ada simbol-simbol apa-apa lagi selain batu,” kata Hari Suroto, saat ditemui di sektor lima. 

Situs Megalitik Tutari ini merupakan suatu Warisan Budaya yang ditinggalkan oleh para leluhur. Oleh karena itu, perlu perawatan dan pemeliharaan secara serius dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat, sehingga benda-benda prasejarah ini tetap terpelihara dan terjaga dengan baik. 

Dengan demikian, maka diharapkan dapat menjadi perhatian serius dari semua pihak, terutama pemeritah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, dan pihak-pihak terkait lainnya yang ada di bumi cenderawasih, khususnya negeri Khenambay Umbay, sehingga salah satu situs peninggalan yang berada di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura ini tetap terpelihara dengan baik.  (Maria Mayabubun).

Satu tanggapan untuk “Batu Penghubung Manusia dan Dewa di Situs Tutari

  • 06/11/2020 pada 23:25
    Permalink

    Artikel yang sangat bermanfaat karena menambah pengetahuan saya tentang situs sejarah yang ada di Indonesia. Terima kasih untuk penulis, semoga sukses selalu 👍👍👍

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 7 =