GKI Filadelfia, gereja tua di Asey Pulau

Masih kah kau ingat waktu di desa, bercanda bersama disamping gereja, kala itu kita masih remaja yang polos hatinya bercerita. Waktu kini tlah lama berlalu, sudah sepuluh tahun tak bertemu, entah dimana kini kau berada tak tau dimana rimbanya. Hanya satu yang tak terlupakan dikala senja di gereja tua.

Demikian cuplikan syair lagu kelompok pemusik Pandjaitan Bersaudara atau lebih dikenal dengan singkatan Panbers yang diciptakan pada 1985 itu pantas disematkan untuk mengenang cerita gereja tua di Kampung Asey Pulau, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Kala itu, masyarakat masih polos, belum dipengaruhi apapun.

Kini mereka yang membangun gereja tua itu entah tak tau kemana rimbanya. Kisah gereja tua di Asey disampaikan oleh Corry Ohee, salah satu warga asli Kampung Asey Pulau. Bapa Corry menceritakan kisah pembangunan gereja itu kepada tim dari mahasiswa Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) di Tanah Papua, Balai Arkeologi Papua, kelompok menulis dari Rumah Belajar Menulis Papua (RUMPUN) dan tiga wartawan, saat mendatangi Asey pada 17 Oktober 2020.

Corry yang juga pelukis itu diminta oleh Balai Arkeologi Papua untuk menjemput tim di Pantai Kalkhote, Disrik Sentani Timur. Kedatangan tim ke Asey Pulau, sebenarnya untuk melihat langsung bagaimana bapa Corry melukis diatas kulit kayu. Namun, sebelum Corry mempraktekan bagimana melukis diatas kulit kayu, dia berkesempatan mengajak tim naik ke bukit yang letaknya persis di belakang rumah penduduk untuk melihat sebuah bangunan gereja tua.

Angin sepoi-sepoi datang dari Danau Sentani, hamparan gunung-gunung tinggi menghiasai keindahan danau tersebut. Suasana indah diatas bukit, terasa sejuk, seolah-seolah kami ingin berlama-lama diatas puncak bukit itu, sungguh indah buah tangan sang pencipta pagi itu. Di puncak bukit itu beridiri gagah sebuah gereja tua.

“Gereja itu adalah gereja termegah pada masanya dan sekarang telah menjadi gereja tertua dalam sejarah Pekabaran Injil di Papua,” kata Corry sambil menunjuk ke arah puncak bukit dimana gereja itu berdiri.
   
Sebelum gereja tua megah itu dibangun, nenek moyang masyarakat Asey Pulau membangun gereja sederhana. Meski kala itu, mereka hidup ditengah ancaman perang. Bukti imannya diwujudkan dengan membangun sebuah gereja beratap daun pohon sagu, beralas tanah dan berdinding gaba-gaba dari pelepah sagu. Sungguh sangat alami, tak ada bahan bangunan berupa seng, semen dan keramik dimasa itu.

Ketika tentara sekutu melihat bangunan gereja itu, mereka berpikir itu salah satu markas yang dibangun oleh tentara Amerika, sehingga membom gereja itu. Gereja berbahan ala kadarnya itu hangus dilahap habis si jago merah, terbakar. Tidak hanya gereja, Kampung Asey Pulau juga penuh api kena ledakan bom. Masyarakat kala itu ketakutan, mereka bercerai berai lari dari Asey ke tempat lain, mencari tempat aman.

Banyak warga Asey yang lari menyelamatkan diri ke Kampung Puay, Ayapo dan kampung-kampung lainnya disekitar Danau Sentani. Intinya, kampung yang berdekatan dengan Asey, tetapi mereka bisa aman terhindar dari ledakan bom. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 1940-1944, menurut penuturan  bapa Corry.

Setelah perang dunia berakhir, masyarakat Asey kembali lagi ke kampungnya. Walau gereja dan rumahnya hangus terbakar akibat bom, tak mengurung niat untuk membangun kembali. Masyarakat mulai dari nol, membangun kembali rumah lalu gereja baru menggantikan yang sudah terbakar. Mereka memilih bukit, menjadi lokasi pembangunan gereja. Pembangunan gereja kala itu, dipercayakan kepada seorang tukang kayu bernama Wolfwarm Wodong dan dibantu oleh masyarakat setempat.

Wolfwarm Wodong adalah salah satu tukang kayu asal Negara Jerman. Wolfwarm mendesain arsitektur bangunan gereja itu seperti di negaranya. Banyak jendela berukuran besar berbentuk kotak. Bangunan mirip gereja diluar negeri. Mungkin dipengaruhi latar belakang sekolah sang tukang yang menyelesaikan studinya di salah satu sekolah teknik di Jerman.

Gereja itu berbahan semen, beratap seng hardes, luasnya sekitar 12×40 meter persegi. Bangunan gereja itu menghadap ke arah barat Danau Sentani. Kerangka gereja itu berbahan kayu dan beralas dasar semen.Bagian dalamnya unik, tak ada palafon/loteng seperti bangunan gereja lainnya. Di depan mimbar, persis ditengahnya tertera tulisan “Bumilah alas kaki-Ku.”

Terlihat 10 tiang penyangga berbahan kayu. Tiang-tiang tersebut berjajar simetris disisi kanan-kiri masing-masing lima tiang. Dua tiang persis didepan, tepatnya di dekat pintu masuk. Sepuluh tiang gagah itu melambangkan 10 marga tertua di Asey Pulau yakni marga Ohee, Ongge, Pepuho, Asabo,Nere,Puhiri,Pouw,Kere, Modouw dan marga Yepese.

Patung dua manusia pertama yang diciptakan oleh Allah yakni Adam dan Hawa juga dibangun disamping kiri-kanan persis di pintu masuk gereja. Kedua patung itu memperindah muka gereja.Pengerjaan bangunan gereja itu cukup lama, kurang lebih sekitar tujuh tahun lamanya. Setelah tujuh tahun, gereja tua itu baru bisa diresmikan pada 1 Januari 1950 dengan nama GKI Filadelfia.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua menempatkan sebuah papan berbahan alamanium dan tiang pipa persis disamping gereja. Di Papan itu tertera tulisan “Situs Gereja Tua Asei.” Kelihatannya papan itu sudah lama, lantaran berkarat sana-sini.

Terlepas dari itu, sejak peresmian, banyak orang datang dan menyaksikan gereja pertama termegah dimasa itu. Gereja melambangkan Kasih Kristus bagi orang-orang Papua umumnya, lebih khusus masyarakat di Pulau Asey dimasa itu. “Hambhaya Imea” sebutan gereja dengan bahasa Sentani, mampu mengumpulkan banyak orang dalam kedamaian meski ketakutan menghimpit dan kematian mengintai mereka.

Gereja mampu mendamaikan dan megumpulkan masyarakat Asey dimasa lampau. Padahal sejak itu, tidak ada sistem pemerintahan, tak ada aparat kemamanan TNI/Polri, ketakutan akan perang dunia, perang suku, dan roh-roh orang mati masih terus menghantui. Ini bukti kehadiran sang pemilik bumi. (Merry Rumbino)

Satu tanggapan untuk “GKI Filadelfia, gereja tua di Asey Pulau

  • 02/11/2020 pada 00:59
    Permalink

    Sungguh luar biasa🙏😇

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 7 = 2