Meneropong Kampung Asey Pulau

Pagi itu, Sabtu, 17 Oktober 2020, panas matahari serasa membakar tubuh. Langit Sentani biru bagaikan lautan. Angin sepoi-sepoi dari berbagai arah datang dari Danau Sentani, menyegarkan tubuh kami ketika duduk menunggu bapa Corry Ohee untuk menyebrang ke Kampung Asey Pulau, Distrik Sentani Timur, Provinsi Papua.

Penumpang yang hendak ke Kampung Asey harus menunggu di Pantai Kalkote. Pantai itu menjadi tempat penampungan sementara untuk menunggu speedboat dan perahu motor Katamaran yang datang dari Kampung Asey Pulau, Ayapo dan Yokiwa. Pantai Kalkote masuk Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.

Di Pantai tersebut berdiri sebuah panggung, sementara beralih fungsi sebagai tempat menunggu perahu. Samping panggung itu, tulisan Pantai Kalkote berbahan almanium di polesi cat berwarna merah. Sambil menunggu perahu motor dan speedboat, biasanya penumpang berpose di tulisan itu. Teman-teman kami yang hendak ke Asey juga sempat mengabadikan tulisan itu di kameranya.

Sebenarnya, panggung dan tulisan Pantai Kalkote itu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura, untuk menyelenggarakan Festival Danau Sentani. Momentum akbar itu sudah masuk agenda rutin yang dilakukan tiap tahun. Tahun ini, COVID-19 mengakibatkan kegiatan tahunan itu dibatalkan. Festival digelar untuk mengangkat sekaligus memperkenalkan budaya warga Sentani.

Suasana di lokasi itu sejuk, lantaran panggung itu terbuka, sehingga angin bebas masuk menyegarkan kami dan penumpang yang hendak mengarungi Danau Sentani. Hanya beberapa menit menunggu, tiba-tiba motor merek megapro putih yang ditunggangi Corry Ohee masuk ke kawasan Pantai. Tim yang hendak ke Asey, termasuk saya, tak mengenal bapa Corry.

Hari itu, tim yang bersiap berangkat ke Asey yaitu Balai Arkeologi Papua, mahasiswa Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) di Tanah Papua, Balai Arkeologi Papua, kelompok menulis dari Rumah Belajar Menulis Papua (RUMPUN) dan tiga wartawan. Hari Suroto, dari Balai Arkeologi Papua mengenalkan bapa Corry ke kami, ini pak Corry yang akan mengantar kita ke Asey.

Tim mulai bergegas memegang tas bawaannya masing-masing lalu menuju dermaga tempat dimana perahu katamaran itu berlabuh. Perahu Katamaran berbahan serat fiber, berkapasitas menampung 30 orang. Modelnya seperti rakit, kiri-kanan perahu itu dipadukan. Perahu tersebut adalah Bantuan dari Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB).

Bapa Corry adalah salah satu warga asli Kampung Asey Pulau, ia diminta oleh Hari Suroto untuk mengantar tim ke kampungnya. Lelaki paruh baya itu, sehari-hari bekerja di Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, tapi juga sebagai seniman yang suka melukis diatas kulit kayu sejak masa mudanya hingga kini. Salah satu tujuan tim berangkat ke Asey yaitu untuk melihat buah tangan lukisannya diatas kulit kayu.

Bapa Corry tampak bersemangat pagi itu mengatur kami naik keatas perahu katamaran. “Ayo silahkan naik, pelan-pelan. Geser-geser supaya semua bisa dapat tempat duduk,” kata bapa Corry sambil mengarahkan kami naik kedalam perahu. Setelah semua penumpang naik di perahu, bapa Corry menyusul masuk ke dalam perahu. Meski sibuk mengatur kami naik kedalam perahu, tapi masih terus mengarahkan agar perahu didorong keluar dari dermaga.

Tak lama kemudian, mesin motor Jonson 40 peka milik Corry bunyi, perahu katamaran yang menghantar kami mulai berbalik arah menuju ke arah Kampung Asey. Sebelah kiri, kelihatan kabel listrik milik Perusahan Listrik Negara (PLN) yang terpasang dari Pantai Kalkote ke Kampung Asey. Sejumlah burung-burung kecil berwarna putih duduk berjejer diatas kabel itu.

Burung-burung itu seolah-seolah beristirahat sejenak setelah bersusah payah mencari ikan di seantero Danau Sentani. Beberapa teman-teman merogok hendphonenya dari dalam saku untuk memotret jejeran-jejeran burung-burung kecil itu. Air Danau Sentani teduh, bagaikan air dalam kuali. Samping kiri-kanan, depan-belakang kami, terhampar gunung-gunung mengitari Danau Sentani, sungguh susana hari itu memanjakan mata.

Pria beranak tujuh itu menggenggam erat-erat stir motor mesin Jonsonnya sambil bercerita, mulai dari kedalaman Danau Sentani, Pulau Naga dengan sebutan bahasa Sentani Oheei, rumah hantu, gunung nona, 12 mata air di Danau Sentani dan perpindahan marga Yepese. Sewaktu bercerita, tangannya bergerak kiri-kanan bagaikan seorang guru mengajar di belakang perahu katamaran yang membawa kami.

Perjalanan ke Asey memakan waktu kurang lebih sekitar 10 menit. Lelaki berusia 60 tahun itu, sengaja memutar jauh perahu yang kami naiki untuk menuntaskan certanya. Sejak perahu memutar Pulau Asey, semua sibuk mengeluarkan hendphone dan kamera mengabadikan keindahan kampung itu. Rumah-rumah warga berjejer rapi dipingir bibir danau, sungguh elok di pandang mata. Setelah memutar, perahu motor yang membawa kami sandar persis di depan rumah milik bapa Corry. Asey menyimpan mortir, tiang rumah leluhur dan alat makan tentara sekutu. Ada juga gereja tua di kampung ini. Warga yang berdomisili di wilayah itu pintar melukis diatas kulit kayu.

Lukisan

Masyarakat di Kampung Asey Pulau, termasuk Corry mahir melukis diatas kulit kayu. Mereka menorekan berbagai motif diatas kulit kayu. Motif yang dilukis bermakna. Peralatan yang disiapkan untuk melukis antara lain, cairan pewarna, kuas, kulit kayu dan gerabah untuk wadah cairan pewarna. Bapa Corry menggunakan pewarna dari bahan alami. Misalnya warna hitam dari arang kayu, putih dari kapur sirih yang dicampur minyak kelapa dan merah dari serpihan batu di sebuah bukit.

Sejumlah motif yang dilukis diatas kulit kayu itu seperti, kura-kura, ikan, kadal, perempuan yang menari, perahu dan ondoafi. Motifnya bercerita tentang kehidupan dan penggambaran hewan-hewan di dalam keseharian warga Asey Pulau. Lukisan diatas kulit kayu itu sudah terkenal baik di Papua maupun diluar Papua hingga Luar Negeri.

Lukisan ini dibeli dengan harga yang sudah ditentukan. Pembelinya dari Jayapura, Wamena, Jakarta, Makassar, hingg benua Asia, Eropa dan Amerika.Bapa tujuh anak ini mengatakan lukisan itu dijual dengan harga paling murah Rp 5.000-Rp 5 juta. bapa Kulit kayu yang biasanya diambil yaitu dari pohon Kombou.

Mortir, menhir dan tiang rumah

Kamung Asey menyimpan piring makan, belanga, sendok, pisau, garpu, panci dan mortir. Separuh dari perkakas dapur dan satu alat perang itu termasuk bekas peninggalan perang pasifik. Satu peninggalan alat perang pasifik atau perang dunia ke-II yaitu mortir. Sekitar tahun 1939-1945 mortir dibawa oleh tentara sekutu masuk ke Kampung Asey, begitu cerita Corry salah satu warga asli Kampung Asey.

Selain mortir, ada peninggalan perang dunia Ke-II lainnya, seperti garpu, senduk, piring makan, belanga, dan panci. Corry tidak menunjukan tempat tinggal perkakas dapur ini. Cerita mengenai alat dapur itu diselingi dengan cerita mortir.

Terlihat batu menhir salah satu peniggalan nenek moyang orang Asey, persis disamping jembatan itu.Batu itu berbentuk tegak, tinginya sekitar 50 cm dan lebar sekitar 30 cm, ditengahnya ada motif ukiran berbentuk lingkaran, dalam bahasa Sentani di sebut Fouw yang artinya simbol perdamaian, kekeluargaan dan kebersamaan.

Simbol itu dikenal di Kampung Asey, tapi juga diseluruh wilayah Sentani. Fouw dianggap sakral, tidak sembarang diukir, hanya ada di tiang rumah Ondoafi dan kepala suku. Selain menhir, ada tiang rumah peninggal nenek moyang Asey dari jenis kayu Merbau. Dari cerita, tiang itu dibawah oleh Corry ke Asey untuk disamakan dengan tiang rumah moyang mereka.

Ternyata, tiang itu sama dengan batu menhir. Akhirnya disepakati bersama untuk di tancapkan. Pada 17 Agustus 2019, Ondoafi bersama Kepala Kampung Asey dan masyarakat setempat meresmikan tiang itu sebagai simbol perdamaian, kekeluargaan dan kebersamaan seperti simbol di batu menhir.

Gereja tua

Setelah perang dunia pasifik berakhir, masyarakat Kampung Asey membangun rumah dan gereja baru menggantikan yang sudah terbakar karena bom. Mereka memilih bukit, menjadi lokasi pembangunan gereja. Pembangunan gereja kala itu, dipercayakan kepada seorang tukang kayu bernama Wolfwarm Wodong dan dibantu oleh masyarakat setempat.

Wolfwarm Wodong adalah salah satu tukang kayu asal Negara Jerman. Wolfwarm mendesain arsitektur bangunan gereja itu seperti di negaranya. Banyak jendela berukuran besar berbentuk kotak. Bangunan mirip gereja diluar negeri. Gereja itu berbahan semen, beratap seng hardes, luasnya sekitar 12×40 meter persegi. Bangunan gereja itu menghadap ke arah barat Danau Sentani. Kerangka gereja itu berbahan kayu dan beralas dasar semen.Bagian dalamnya unik, tak ada palafon/loteng seperti bangunan gereja lainnya.

Terlihat 10 tiang penyangga berbahan kayu. Tiang-tiang tersebut berjajar simetris disisi kanan-kiri masing-masing lima tiang. Dua tiang persis didepan, tepatnya di dekat pintu masuk. Sepuluh tiang gagah itu melambangkan 10 marga tertua di Asey Pulau yakni marga Ohee, Ongge, Pepuho, Asabo,Nere,Puhiri,Pouw,Kere, Modouw dan marga Yepese.

Patung dua manusia pertama yang diciptakan oleh Allah yakni Adam dan Hawa juga dibangun disamping kiri-kanan di bagian depan gereja. Pengerjaan bangunan gereja itu cukup lama, kurang lebih sekitar tujuh tahun lamanya. Setelah tujuh tahun, gereja tua itu diresmikan pada 1 Januari 1950 dengan nama GKI Philadelphia.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua menempatkan sebuah papan berbahan alamanium dan tiang pipa persis disamping gereja. Di Papan itu tertera tulisan “Situs Gereja Tua Asei.” Kelihatannya papan itu sudah lama, lantaran berkarat. (Zakarias Agapa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 2