Memanfaatkan waktu luang untuk melukis

Meski sibuk bekerja sebagai Aparat Sipil Negara di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, tetapi masih berupaya mempertahankan budayanya. Ia memanfaatkan waktu luangnya setelah pulang dari kantor untuk melukis diatas kulit kayu.

Namanya, Corry Ohee. Sosok Corry adalah salah satu seniman pelukis kulit kayu asal Kampung Asey Pulau. Lelaki berusia 60 tahun itu selalu berupaya memanfaatkan waktu luang sepulang dari kantor untuk melukis diatas kulit kayu. Tidak sembarang melukis, ia menguasai makna dari ukiran motif yang dituangkan diatas lembaran berbahan kulit kayu itu.

Melukis diatas kulit kayu ini merupakan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Kampung Asey Pulau. Kampung itu letaknya di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Perjalanan ke kampung itu, satu-satunya dengan menggunakan perahu motor katamaran dan speedboat kurang lebih sekitar 10 menit.

Pelabuhan tempat persinggahan perahu motor katamaran dan speedboat ke Asey bermarkas di Pantai Kalkhote yang juga Distrik Sentani Timur. Sabtu, 17 Oktober 2020, Corry diminta oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua untuk mengantar tim ke kampungnya. Tim yang kala itu terdiri dari Balai Arkeologi, mahasiswa dan dosen dari Institut Seni dan Budaya (ISBI) di Tanah Papua, Rumah Belajar Menulis Papua Universal (RUMPUN) beserta tiga wartawan.

Setelah mengarungi Danau Sentani, akhirnya tiba di rumah bapa Corry di Asey. Pria penyuka topi itu mempraktekan cara melukis diatas kulit kayu setelah membawa sekaligus menjelaskan kepada tim terkait menhir, tiang rumah peninggalan nenek moyangnya, mortir dan gereja tua yang dibangun oleh masyarakat kampung setempat.

Sebelum melukis, ia bersama salah satu penyanyi Alfred Titus Modouw yang juga keluarganya, bernyanyi dengan menggunakan bahasa daerah Sentani. Setelah menyanyi, lelaki muda senyum itu mulai mempraktekan bagimana melukis diatas kulit kayu. Baru saja memegang kuas ditangan, wartawan bersama tim dari RUMPUN menghujani pertanyaan terkait bagimana proses melukis diatas kulit kayu, sehingga banyak diminati.

Kemudian, bagimana ia pintar melukis diatas kulit kayu lalu mengajarkannya kepada anak cucu. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat bapa Corry tidak konsen untuk melanjutkan praktek melukis diatas kulit kayu. Corry berusaha berupaya menjawab satu-persatu pertanyaan yang diajukan.

“Keluarga saya, orang tua saya itu senang mengukir dan melukis, kalau mengukir diatas matra kayu seperti tifa dan lainnya. Tetapi kalau melukis itu diatas kulit kayu, bapa saya tiga orang bersaudara itu sudah turun temurun, sejak moyang,” kata Corry.

Sewaktu masih berusia remaja, hanya melihat orang tua mengukir dan melukis diatas kulit kayu, dengan sendirinya darah seni itu mengalir ke tubuh. Lelaki yang mudah berbaur itu mulai melukis diatas kulit kayu sejak 1985 hingga kini. Kala itu, beberapa wisatawan datang dari luar negeri untuk melihat bentuk bangunan gereja tua sekaligus lukisan kulit kayu.

Wisatwan yang datang, senang karena selalu diberi cenderamata khas hasil lukisan diatas kulit. Kala itu, Corry baru berumur 22 tahun. Ide yang didapatkan untuk melukis, datang dari model-model ragam hias yang sudah ada dari dulu menjadi budaya melukis di masyarakat Sentani seperti motif kura-kura, ikan dan kadal. Belakangan ini, dia terinspirasi untuk menciptakan ragam-ragam baru.

Model itu agak unik dari dari yang diturunkan oleh leluhurnya. Ragam hias baru yang dikembangkan dalam lukisan diatas kulit kayu itu seperti orang menari, memanah, umumnya orang beraktivitas itu dibawa dalam bentuk lukisan, namun tidak keluar dari budaya asli orang Sentani. Ternyata, ragam baru itu banyak diminati.

Pohon kombou yang kulitnya dibawa untuk diolah lalu dipakai sebagai lembaran untuk melukis. Waktu melukis diatas kulit kayu paling cepat 10 menit dan paling lama satu jam. Bahan yang digunakan untuk pewarna gambar dari bahan alami. Misalnya warna hitam dari arang kayu, putih dari kapur sirih yang dicampur dengan minyak kelapa dan merah dari serpihan batu. Jika salah memilih bahan maka motif yang dilukis dikulit kayu muda terhapus.

Panduan bagi lelaki ramah itu untuk melukis, mengacu pada satu buku yang ditulis oleh orang asing. Kemudian, satu buku lagi ditulis oleh Lembaga Antropologi Universitas Cenderawasih Jayapura lewat dua kawakan Antropologi asli Papua yaitu Daniel Konstantino Ayamseba dan Arnold AP.

Dua kawakan Antropologi asli Papua itu yakni Daniel Konstantino Ayamseba dan Arnold AP membawa gambar-gambar dari museum-museum yang ada di Eropa, disana ada banyak lukisan-lukisan orang Papua, didalamnya ada lukisan kulit kayu yang dibawah pergi oleh penjelajah Eropa dan Portugis ditahun 1.600 silam.

Ragam-ragam gambar itu yang diwariskan oleh orang tua di Kampung Asey Pulau. Sejak 1975 hingga 1976, ragam itu masuk budaya lokal Antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, kini di pajang di museum Antropologi Uncen. Pria berbadan ramping itu mengikuti ragam silam dan juga mengembangkan ragam moderen.

Cara mengajarkan anak-anak muda di Asey untuk tetap melestarikan budaya melukis itu praktis. Setelah para orang tuanya selesai melukis diatas kulit kayu lalu untuk mewarnai biasanya anaknya diminta untuk mewarnai motif yang sudah selesai dilukis oleh bapanya. Dengan begitu mereka merasa senang untuk mewarnai.

Modal meminta anak-anak untuk mewarnai motif, secara tidak langsung kecintaannya dan darah seni melukis dari orang tuanya mengalir ke tubuhnya. Kini, generasi muda di Asey Pulau mahir melukis diatas kulit kayu. Melukis diatas kulit kayu masih tetap ada di kampung itu, seluruh mayarakat disitu pintar melukis diatas kulit kayu.

“Saya tidak fokus untuk rutin melukis diatas kulit kayu, atau menjadi mata pencaharian, tetapi senang melukis untuk sekedar mengisi waktu kosong/hari-hari kosong, dan berupaya mempertahankan budaya melukis di Asey,” kata Corry yang kini menjabat Kepala Seksi Pelestarian dan Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura ini. (Maria Mayabubun)

2 tanggapan untuk “Memanfaatkan waktu luang untuk melukis

  • 27/10/2020 pada 11:21
    Permalink

    Mantul meii.. tetap semangat berkaya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 7