Batu Menhir dan Tiang Rumah di Asey

Kampung Asey, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, terdapat batu menhir dan tiang rumah kayu Merbau. Keduanya, simbol perdamaian, kekeluargaan dan kebersamaan bagi masyarakat Sentani.

Pantai Khalkote adalah tempat untuk menunggu speedboat dan perahu katamaran dari Kampung Asey Pulau, Ayapo dan Yokiwa.

Siang itu, Sabtu,17 Oktober, kami dari Rumah Belajar Menulis Universal Papua (RUMPUN), mahasiswa dan dosen dari Istitut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) di Tanah Papua, Balai Arkeologi Papua dan dua wartawan, menunggu perahu ke Asey.

Beberapa menit kemudian, Corry Ohee datang menyapa kami,lalu mempersiapkan perahu motor katamaran. Corry adalah warga Kampung Asey yang sudah di hubungi untuk menghantar kami ke kampungnya. Tak lama kemudian, Corry menyuruh naik ke perahu lalu bertolak menuju Asey.

Air Danau Sentani teduh, perahu katamaran yang ditumpangi melaju dengan perlahan, Corry menghibur kami dengan cerita sampai tiba di dermaga Asey. Perjalanan ke Asey memakan waktu kurang lebih sekitar 10 menit, dengan menyusuri Danau Sentani. Kami turun dari perahu. Corry langsung mengantar kami menuju batu menhir.

Angin sepoi-sepoi datang dari arah Danau Sentani menyegarkan tubuh. Ada sebuah jembatan kecil di samping rumah warga. Terlihat batu menhir salah satu peniggalan nenek moyang orang Asey, persis disamping jembatan itu.

Batu itu berbentuk tegak, tinginya sekitar 50 cm dan lebar sekitar 30 cm, ditengahnya ada motif ukiran berbentuk lingkaran, dalam bahasa Sentani di sebut Fouw yang artinya simbol perdamaian, kekeluargaan dan kebersamaan.

Simbol itu dikenal di Kampung Asey, tapi juga diseluruh wilayah Sentani. Fouw dianggap sakral, tidak sembarang diukir, hanya ada di tiang rumah Ondoafi dan kepala suku.

Kami terkagum-kagum melihatnya. Silih berganti satu persatu berpose di depan menhir. Corry masih terus bersemangat menjelaskan tentang batu tersebut. Dari penjelasannya, hanya sisah batu itu yang masih berdiri kokoh, itu tiang rumah leluhur.

Selain menhir,Corry membawa kami ke salah satu tiang rumah peninggalan nenek moyang Asey. Tiang rumah itu di temukan oleh Corry di dalam Danau Sentani.

Lalu, tiang itu dibawah ke Asey untuk disamakan dengan tiang rumah moyang mereka. Ternyata, tiang itu sama dengan batu menhir. Akhirnya disepakati bersama untuk di tancapkan. Tiang itu adalah jenis kayu Merbau.

Pada 17 Agustus 2019, Ondoafi bersama Kepala Kampung Asey dan masyarakat setempat meresmikan tiang itu sebagai simbol perdamaian, kekeluargaan dan kebersamaan seperti simbol di batu menhir.

Batu menhir itu tidak terawat dengan baik, terlihat ada jembatan yang dibangun tak jauh dari menhir sehingga tidak kelihatan dari jauh. Bahkan ada rumah warga yang berdekatan dengan menhir, seolah-olah terhimpit antara jembatan dan rumah warga. Sedangkan tiang rumah kayu merbau ditancapkan di depan kuburan.

“Bapak Corry berharap masyarakat Kampung Asey menjaga dan merawat batu menhir dan tiang rumah karena keduanya adalah simbol kebersamaan bagi warga Sentani,” kata lelaki beranak tujuh ini. (Fallentinus Mafiti).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

53 − 46 =