Melihat aktivitas pelukis kulit kayu di Pulau Asey

Pada 17 Oktober 2020 di Pantai Khalkote pukul 10:35 WIT, sekelompok mahasiswa dan dosen Insitut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) di Tanah Papua, Balai Arkeologi Papua, dan beberapa wartawan.

Kami menaiki perahu motor milik nelayan di Kalkhote. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan perahu ini pasca banjir bandang di Sentani, Maret 2019. Rencananya kami akan mengunjungi rumah Corry Ohee.

Corry Ohee atau biasa disapa bapak Corry merupakan seniman pelukis kulit kayu di Asey Pulau. Pria yang berusia 60 tahun ini telah melukis di atas kulit kayu selama 30 tahun terakhir.

Pada saat perjalanan, kami mendengarkan beberapa cerita dari bapak Corry. Ia menceritakan tentang gunung-gunung yang ada di sekitaran pulau tersebut. Salah satunya adalah Gunung Nona.

Sekitar 10 menit, perahu kami tiba di Asey Pulau. Kami bersama bapa Corry menuju ke situs sejarah batu menhir dengan motif Fouw yang berbentuk lingkaran. Bapa Corry menjelaskan Fouw adalah motif milik ondoafi (pemimpin adat) yang bermakna kekeluargaan, kebersamaan dan perdamaian.

Setelah itu kami pun mengunjungi seperti Tiang Rumah, morthir bekas perang dunia kedua dan Gereja Filadelfia, yang biasa disebut warga sebagai gereja tua. Gereja ini dibangun warga sejak tahun 1944.

Dari gereja tua kami langsung ke rumah bapa Corry. Di rumah yang terbuat dari kayu ini, bapa Corry menunjukkan cara melukis kulit kayu dari pohon Kombou. Ia mengungkapkan waktu melukis kulit kayu minimal 10 menit dan paling lama 1 jam.

Sebelum melukis, biasanya bapa Corry menyiapkan peralatan antara lain, cairan pewarna, kuas, kulit kayu dan gerabah untuk wadah cairan pewarna. Bapa Corry menggunakan pewarna dari bahan alami. Misalnya warna hitam dari arang kayu, putih dari kapur sirih yang dicampur minyak kelapa dan merah dari serpihan batu di sebuah bukit.

Dalam lukisan bapa Corry biasanya menggunakan sejumlah motif seperti, kura-kura, ikan, kadal, perempuan yang menari, perahu dan ondoafi. Motifnya bercerita tentang kehidupan dan penggambaran hewan-hewan di dalam keseharian warga Asey Pulau.

“Lukisan kulit kayu adalah sebuah kesenian yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Kini lukisan kulit kayu sudah menjadi sebuah hasil seni yang terkenal luas di seluruh penjuru Indonesia dan dunia,” tutur bapa Corry.

Hasil karya lukisan bapa Corry dijual dengan harga paling murah Rp 5.000 – Rp 5 juta. Para pembeli karya bapa Corry dari Jayapura, Wamena, Jakarta, Makassar, wisatawan asing baik dari benua Asia, Eropa dan Amerika.

Dari hasil penjualan lukisan kulit kayu, bapa Corry mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai pendidikan tujuh anaknya dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Asey Pulau adalah seperti sebuah paket lengkap wisata di sekitar Danau Sentani. Pulau ini kaya akan budaya seperti lukisan kulit kayu. Tempat ini adalah aset Papua yang begitu berharga sehingga harus tetap terjaga kelestariannya,” harap bapa Corry. (Merince Maria Pigai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 1 =