Menengok Peninggalan Perang Pasifik di Asey Pulau

Kampung Asey Pulau, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, menyimpan piring makan, belanga, sendok, pisau, garpu, panci dan mortir. Separuh dari perkakas dapur dan satu alat perang itu termasuk bekas peninggalan perang pasifik.

Kampung Asey adalah salah satu kampung di tepi Danau Sentani. Kampung itu berbentuk pulau memanjang. Perumahan warga mengelilingi pulau, rata-rata rumah warga beratap seng, sebagian atas seng sudah kelihatan karat lainnya dipolesi cat berwarna biru.

Mayoritas dinding rumah warga berbahan papan hasil sensor, berdinding batu tela dan sebagian kecil masih menggunakan gaba-gaba atau pelepah sagu sebagai dinding rumah. Rata-rata rumah panggung, sebagian rumah batu.

Pada 17 Oktober 2020, langit Sentani cerah, panas matahari terasa membakar tubuh. Tim Rumah Menulis Papua Universal (RUMPUN), tim dari Mahasiswa Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) di Tanah Papua beserta dua dosen, dua wartawan, dan Balai Arkeologi Papua, bersiap berangkat ke Asey.

Corry Ohee, terlihat mempersiapkan Perahu Katamaran berbahan serat fiber. Perahu itu berkapasitas menampung 30 orang. Tim naik kedalam perahu tersebut.

“Saudara-saudara geser-geser supaya semua bisa dapat tempat duduk,” kata lelaki berusia 60 tahun itu mengarahkan tim. Setelah itu, pria berkulit hitam manis itu naik kedalam perahu, sambil meminta tim mendorong perahu keluar dari dermaga Pantai Khalkote.

Druum… druum bunyi mesin jonson 40 peka di perahu ini. Perahu mulai mundur lalu berbelok ke kampung Asey. Perjalanan ke Asey memakan waktu sekitar 10 menit dengan menggunakan perahu menyusuri Danau Sentani.

Dalam perjalan, persis sebelah kiri danau, terlihat kabel listrik milik
PLN terpasang dari Pantai Khalkote menuju Kampung Asey. Diatas kabel itu, tampak sejumlah burung- burung kecil berwarna putih duduk berjejeran diatas kabel, seolah-olah melepas lelah setelah mencari ikan di danau.

Siang itu, Danau Sentani teduh, seakan-akan mengijinkan kami melewatinya. Corry menggenggam stir mesin jonson disebelah tangan kirinya, tangan sebelah kanannya bergerak kiri-kanan seperti seorang guru yang mengajar di depan kelas, bercerita.

Mulai dari kedalaman Danau Sentani, Pulau Naga dengan sebutan bahasa Sentani Oheei, rumah hantu, gunung nona, 12 mata air di Danau Sentani dan perpindahan marga Yepese, demikian cerita lelaki beranak tujuh itu menghibur kami sepanjang perjalanan sampai tiba di pinggir Dermaga Kampung Asey.

Tim turun dari perahu naik keatas rumah bapak Corry, langsung digiring menuju ke batu menhir yang konon berasal dari peninggalan nenek moyang orang Asey. Di tengah batu itu, ada motif ukiran berbentuk bulat, orang Asey menganggap motif itu simbol perdamaian, kekeluargaan dan kebersamaan.

Setelah dari menhir, lelaki penyuka topi flatcap ini mengantar tim ke salah satu tiang rumah peninggalan para leluhur. Simbol dari tiang itu sama dengan ukiran di batu menhir.

Pria yang suka bercanda itu membawa tim ke depan salah satu peninggalan alat perang pasifik atau perang dunia ke-II. Sekitar tahun 1939-1945 mortir dibawa oleh tentara sekutu masuk ke Kampung Asey, begitu cerita Corry salah satu warga asli Kampung Asey.

Selain mortir, ada peninggalan perang dunia Ke-II lainnya, seperti garpu, senduk, piring makan, belanga, dan panci. Corry tidak menunjukan tempat tinggal perkakas dapur ini. Cerita mengenai alat dapur itu diselingi dengan cerita mortir. (Hubertus Dogomo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

49 − 47 =