Kisah Kostan Daimoye jabat kepala desa selama 23 tahun

Berbekal pengalaman kerja sebagai kepala desa/kampung dan ilham dari Tuhan, menghantar lelaki itu memiliki segudang ilmu, mengubah Yakonde, pengalaman, dan menuai puluhan penghargaan selama memimpin Yakonde.

Desa/Kampung Yakonde adalah salah satu kampung di Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Namanya, Kostan Daimoye. Kostan pernah mengenyam pendidikan formal di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen (SD YPK) Sosiri pada 1968 hingga 1970, namun tak selesai. Ia putus sekolah. Tapi semangat melanjutkan sekolah tak kendor. Lelaki kelahiran Yakonde, 4 Juni 1958 itu berupaya menyelesaikan pendidikan melalui paket.

Pada 2006 Kostan menyelesaikan paket A setara dengan Sekolah Dasar (SD).Kemudian, pada 2008 lulus mengikuti paket B setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah itu tak dilanjutkan. Selama enam tahun, Kostan tak ada waktu untuk melanjutkan paket C lantaran sibuk mengerjakan tugas yang diemban yakni kepala desa.

Kostan baru bisa berhasil tamat paket C setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada 2014. Meski hanya mengejar paket agar memiliki ijzah sekolah layaknya sekolah normal, tapi kaya pengalaman kerja. Setelah pendidikannya tuntas, ayah lima anak ini separuh waktunya berburu. Sejak 1970 sampai 1983 saban hari berburu di hutan. Selama 19 tahun, ditemani anjing pemburu.

Pengalaman

Martina Ibo, istri tercintanya terus mendukung pekerjaan yang dilakukan sang suami, meski hanya berburu di hutan guna mempertahankan hidup keluarganya. Pada 1983 sampai 2017 bekerja di ladang Tuhan. Kala itu, Kostan dipilih sebagai majelis jemaat GKI Ebenhaezer Yakonde. Sementara bekerja sebagai majelis jemaat, di 1983 hingga 2000 terpilih sebagai sekretaris jemaat GKI Ebenhaezer Yakonde.

Memasuki 1987 sampai 1994 diberi tanggung jawab sebagai sekretaris panitia pembangunan gedung gereja GKI Ebenhaezer Yakonde hingga gereja itu selesai dibangun dan diresmikan. Kostan menjalankan tugas sekecil apapun yang dipercayakan, sehingga masyarakat Yakonde tak henti-henti memintanya mengkordinir kegiatan. Pada 1992 diminta menjadi sekretaris pembangunan tugu pekabaran injil.

Disela-sela kesibukannya melalui pekerjaan Tuhan dan belajar melakukan tanggung jawab kecil, pada 1986 hingga 1990 bekerja di world vision international (WVI) sebagai pimpinan pos Kampung Yakonde. Modal bekerja di ladang Tuhan dan pengalaman di WVI, pada 1992 hingga 1997 menerima nota tugas dari almarhum Nimbrot Enok sebagai Kepala Desa Yakonde. Setelah menyelesaikan tanggung jawab itu, bupati mulai melirik gaya kepemimpinannya di pemerintahan paling bawah ini.

Jabatan Kepala Desa berturut-turut melekat selama 18 tahun lamanya setelah menjadi pejabat sementara. Secara aturan, melanggar namun itu realita yang dialami Kostan. Bukan karena ambisi tetapi karena kepercayaan dan kinerja yang dinilai baik.

Pada 1997 hingga 2006 lelaki yang suka berburu di hutan ini, menjabat Kepala Desa Yakonde menggantikan Nimbrot Enok berdasarkan surat pernyataan dari tokoh masyarakat Kampung Yakonde. Meski lama dengan jabatan itu, Kostan tak menggerutu. Pada 2012 sampai 2018 Kostan resmi dipilih oleh masyarakat Kampung Yakonde sebagai Kepala Kampung/Desa Yakonde.

Delapan belas tahun lamanya menjabat Kepala Desa Yakonde. Tak punya pendidikan tentang bumi, tapi sewaktu masih menjadi kepala desa pada 2012, pernah bekerja di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Kelas III Genyem, berdasarkan Surat Keputusan Nomor UM.112/07 VII/GYM-2012 dari Kepala Stasiun Klimatologi kelas III Genyem.

Walaupun hanya mengecap pendidikan melalui paket dan tidak berpengalaman guru, namun pernah diberikan kepercayaan mengatur sekolah. Berdasarkan surat Keputusan Kepala SD, SMP Satu Atap Kanda, Kabupaten Jayapura, Nomor 422/074/2013, Kostan dipilih sebagai Ketua Komite periode 2013 sampai 2018. Tak hanya itu, Badan Pekerja Klasis Waibu Moi mengeluarkan surat keputusan bernomor : 082/G.11.b/IX/2017 sebagai koordinator persekutuan kaum bapa (PKB) periode 2012 sampai 2022. .

Dengan modal ijazah paket C, pada 2019 masyarakat Kampung Yakonde mempercayakan Kostan duduk dikursi empuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jayapura hingga 2024 di komisi C. Setelah terpilih, di 2019 hingga 2024 dipercayakan sebagai ketua bidan kehormatan dan kaderisasi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Jayapura.

“Profil ini bukan saya mencari muka dan menunjukan kehebatan dan kebolehan saya, namun saya menyampaikan jalan-jalan hidup serta memberikan keteladanan bagi generasi muda-mudi sebagai penerus kampung atau jemaat serta bangsa dan negara ini,” kata Kostan Daimoye.

Kostan mengatakan, jika mendapat pekerjaan atau jabatan, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, jangan bekerja untuk mengejar materi, tetapi berkat itu datang sendiri akibat dari kerja baik dan benar. Rajin beribadah, rajin berdoa dan rajin membaca buku suci/Alkitab setiap hari.

Program kerja

Meski memimpin pemerintahan paling bawah, selama menjabat kepala desa/kampung, Kostan Daimoye memprioritaskan tiga program yakni pertama pembangunan infrastruktur, kedua meningkatkan bidang ekonomi dan terkahir peningkatan sumber daya manusia (SDM). Program pembangunan infraktur diutamakan lantaran kala itu Yakonde dikenal dengan kampung kumu. Kostan berupaya mengubah citra buruk dengan kampung itu menjadi kampun model.

Konseptor yang membantu Kostan merancang pembangunan Yakonde yakni Alpius Toam. Sejak itu, Alpius mejabat sebagai ketua LKMD yang kini dikenal dengan sebutan Lembaga Perencanaan Masyarakat Kampung (LPMK). Kini, Alpius menjabat Kepala Dinas PUPR Kabupaten Jayapura. Pembagunan infratruktur yang dikerjakan adalah membangun rumah tinggal satu model, penataan kampung, listrik masuk kampung, air bersih, dan mandi cuci kakus (MCK).

Selanjutnya, pembagunan SD dan SMP satu atap Kanda, prona sebanyak 123 kaplin, pembangunan kantor kampung, pastori jemaat, gereja dan aula jemaat. Proda kedua, di bidang ekonomi lebih pada meningkatkan komoditi unggulan Kampung Yakonde, budidaya ikan air tawar dan berternak. Kala itu, ternak sapi sebanyak 230 ekor dibagikan ke masyarakat dan populasinya berkembang, budi daya ikan air tawar keramba dibangun 126 petak. Sejak itu, mantan Bupati Jayapura, Habel Melkias H Suwae mencangkan masyarakat dari Kabupaten Jayapura wajib tanam kakao.

Selain itu, Kostan juga mencanangkan masyarakat Yakonde wajib pelihara sapi dan bangun keramba ikan. Program terakhir dari Kostan selama menjabat kepala kampung yaitu peningkatan sumber daya manusia dengan mengedepankan pemberantasan buta huruf/aksara, tak ada lagi anak putus sekolah. Hingga tahun 2000 tak ada anak asli Kampung Yakonde yang menyelesaikan pendidikannya hingga ke jenjang perguruan tinggi dan menyandang gelar sarjana/strata satu (S1).

Namun, ketika Kostan mendorong usaha ekonomi masyarakat, diakhir jabatan Kostan sebagai kepala desa pada 2008 sebanyak 56 anak asli Yakonde menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi yakni strata satu (S1). Tak hanya itu, dua anak Yakonde berhasil menyelesaikan strata dua (S2). Kostan berpesan diujung masa jabatannya mempimpin Yakonde dalam sambutannya mengatakan siapa anak Yakode yang akan merai gelar doktor.

Sertifikat dan piagam 

Kostan Daimoye yakin keberadaannya  untuk menjadi pemimpin, bukan hanya dia saja, semua orang bisa menjadi pemimpin. Tapi, tidak semua pemimpin untuk memimpin. Tak semua pemimpin bisa memimpin organisasi kemasyarakatan.Tak hanya itu,tak semua pemimpin memiliki kemampuan untuk memimpin lembaga adat, agama, pemerintah dan lembaga politik. 

Dari memimpin desa, padat ilmu, nasihat dan didukung segudang  berkas berupa surat, sertifikat dan piagam penghargaan. Nyaris tiap tahun mendapat surat keterangan dan menerima sertifikat. Lelaki asal Yakonde itu pernah mendapat surat tanda tamat latihan pengembangan masyarakat desa (PMD) dari world vision international (WVI) pada 1986.

Kemudian, sepanjang 1996, dua kali Kostan menerima surat keterangan terkait pelatihan dan surat dari Dinas Pendidikan. Kala itu, ia mendapat surat keterangan mengikuti pelatihan pembangunan desa terpadu Kabupaten Jayapura. Masih 1996, menerima surat keterangan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jayapura. Pada 1997 mendapat surat keterangan dari Bupati KDH tingkat II Jayapura.

Setelah sembilan tahun berlalu, Kostan kembali menerima surat keterangan atas capaian penilaian kerja yang diraih. Pada 2006 mendapat sertifikat dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten Jayapura. Selanjutnya, pada 2008 menerima sertifikat dari Yayasan Pendidikan Kristen (YPK). Pada 2009 mendapat sertifikat dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua.

Di 2001 ia menerima sertifikat dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tak hanya dari KPU, mantan kepala desa itu menerima sertifikat dari Balai Bahasa Papua dan Papua Barat. Memasuki  2011, mendapat sertifikat dari ICS Papua.

Kementerian, Pemerintah Kabupaten Jayapura dan institusi lainnya salut dengan memberikan penghargaan atas torehan yang sudah dicapai selama memimpin Yakonde tapi juga aneka pelatihan yang diikuti. Pada 1986 menerima piagam penghargaan P4 pola 17 jam dari pemerintah tingkat II Jayapura.

Selanjutnya, 1993 menerima piagam penghargaan dari Kementerian Pendidikan atas keberhasilan desa Yakonde/Kanda. Selanjutnya, pada 1995 menerima piagam penghargaan dari camat/distrik Sentani. Lalu di 1998 silam, menerima piagam penghargaan dari Danrindam VIII. Dedikasi yang diraih Kostan terus menjadi catatan tersendiri pemerintah kabupaten setempat. Pada 2005 lalu, kembali menerima penghargaan dari bupati Jayapura. (Tinus/MA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

52 + = 55