Pengadaan Alutsista bekas dalam situasi resesi ekonomi

Membaca tulisan Kompas tanggal 5 Oktober 2020 tentang Pertahanan Negara, saya perlu memberi penjelasan sebagai mantan Komandan Satgas Yekda PFK.

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 1992, pengadaan kapal-kapal eks Jerman Timur berjumlah 39 kapal, terdiri dari 16 Korvet kelas Parchim, 14 LST (Landing Ship Tank) Frosch, Class dan 9 kapal perang Penyapu Ranjau Kondor Class.

Menurut technical assesment dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat itu kapal-kapal tersebut usia pakainya dibatasi 10 tahun. Pada saat itu alasan utamanya adalah lebih banyak didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menutup “operational gap” dalam rangka penegakan hukum dan kedaulatan di wilayah laut yurisdiksi nasional Indonesia.

Sesuai arahan Presiden Soeharto kepada Pak Habibie selaku Menristek & Kepala BPPT, pemerintah akan segera menggantikan dengan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) baru yang diproduksi PT. PAL Indonesia.

Namun dalam perjalanan waktu terjadi resesi ekonomi, sehingga rencana pemerintah tersebut tidak dapat dilaksanakan. TNI-AL menyadari bahwa Motor Pendorong Pokok (MPK) Alutsista tersebut tidak layak untuk operasional di “tropical waters” dan kemudian dirubah design MPK-nya sesuai dengan persyaratan “tropical waters” dengan jarak jelajah yang memadai untuk penegakan hukum dan kedaulatan di wilayah laut yurisdiksi nasional Indonesia.

TNI-AL kemudian mengambil langkah penyesuaian yang bijaksana antara lain dengan menggantikan elemen utama Alutsista tersebut, yaitu Motor Pendorong Pokok (MPK). Dengan demikian kapal-kapal tersebut masih memiliki usia pakai 15 tahun ke depan.

Kebijakan Pimpinan TNI-AL saat itu adalah segera menyebrangkan Alutsista tersebut dari Jerman ke Indonesia dan MPK-nya diganti
di PT. PAL Indonesia. Karena ini proyek khusus maka segala biaya yang diperlukan bagi pengadaan Alutsista tersebut termasuk penggantian MPK-nya di PT. PAL Indonesia ditanggung oleh BPPT.

Kenyataannya sampai saat ini artinya setelah 25 tahun ternyata sekitar 60 persen dari keseluruhan Alutsista eks Jerman Timur tersebut masih operasional di Indonesia.

Oleh: Laksamana Madya TNI (purn) Freddy Numberi

Mantan Komandan Satuan Tugas Pengadaan Kapal Parchim (Korvet), Frosch (LST) dan Kondor (Penyapu Ranjau)/Satgas Yekda di Jerman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

43 − = 41