Tolak Otsus, atas dasar apa?

Atas dasar apa berani katakan tolak Otonomi Khusus (Otsus. Pilihannya hanya dua. Pertama, jalankan Otsus atau revisi/amandemen atau, kedua uji materi pasal yg mau ditambahkan atau dikurangkan.

Jika kamu yang mengaku mahasiswa yang ada demo pakai batu dan kayu itu cerdas !! Harusnya manfaatkan ruang dan celah yang ada secara legal diatas.

Kamu kira tolak Otsus terus langsung jalan menuju merdeka terbuka lebar? Trada (tidak) sayaang, Otsus hilang yaa Papua kembali seperti Irian Jaya (nama provinsi sebelum berubah ke Papua).

Trada afirmasikah, kekhususankah. Siap-siap saja Papua punah (kurang perhatian). Karena segala ruang, kesempatan, dan segala remah-remah yang ada di Papua jadi milik bersama satu republik ini. Trada batas membatasi.

Jika mau ada perubahan untuk Papua, bahkan merdeka sekalipun. Kembali ke kamorang (kalian mahasiswa). Berjuang secara elegan. Sekarang bukan era otot dan ngotot. Sekarang eranya otak dan strategi.

Kasih kuat “peluru” (ilmu dan lobi) dulu. Sekolah baik, jadi pejabat atau orang penting, dominasi semua elemen tata kelola pemerintahan (eksekutif), legislatif. Baru mainkan talenta dan ruang yang ada.

Kamorang yang ada demo ini, jang (jangan) bilang besok ada baku rampas (daftar) status pegawai negeri (PNS/ASN). Tidak apa-apa kalau jadi PNS tapi idealisme masih terpelihara, jangan su (sudah) jadi pegawai tapi idelisme luntur, tergiur dengan korupsi, perempuan lapis (plus) kekuasaan, langsung lupa perjuangan jaman kuliah.

Mereka yang dulu berjuang treak (teriak-teriak) atas nama rakyat, mereka yang dulu berkata saya idealis, mereka itu yang sekarang ada duduk manis korupsi bokar (besar), lupa janji perjuangan dulu.

Jangan sampe (sampai) siklus berputar sama saja. Itu sa (saya) bilang kam (kalian) omong kosong. Model begitu, 10 dekade kedepan juga Papua tidak akan bisa merdeka (maju).

Kalau mau tolak Otsus itu dari awal sekali. Bukan sudah berjalan 19 tahun baru mau tolak, ibarat bapa bicara ke anak, “ini ko makan kue supaya diam, jang menangis, supaya jang main diluar” terus anak ko (kamu) terima, makan kue sampe tinggal sepanggal (sedikit) dusta trus menangis bilang “sa tra mau kue, sa mau main diluar rumah”, trus lempar kue ke bapak, yang ada bapak ambil kue yang anak ada lempar, anak dapat rotan trus tra (tidak) boleh main diluar.
jang lain baku jual, lain tolak Otsus.
Intinya…

“Mau ubah sistem, ko harus masuk dalam sistem”

Penulis: Eko Paul AW

Pemerhati Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

63 + = 65