Papua kawasan strategis dalam perang Pasifik

Papuaunik, – Dalam perang Pasifik, Papua termasuk kawasan strategis Panglima Tertinggi Komando Daerah Pasifik Barat Daya, Jenderal Douglas Mac Arthur dalam rangka serangan balik menuju Tokyo.

Demikian hal ini diungkapkan oleh Hari Suroto, arkeolog senior di Papua, Minggu.

Menurut dia, pasukan sekutu yang terdiri Amerika, Australia , Inggris dan Belanda menyerbu Jayapura atau Hollandia pada 22 April 1944, armada Sekutu yang begitu besar jumlahnya mendekati Pantai Hollandia.

Tidak kurang 215 kapal perang didukung kira-kira 800 pesawat terbang membayangi kesatuan-kesatuan sekutu yang mendarat dari dua arah.

Dari Teluk Tanah Merah (Depapre) dan Teluk Humboldt (Pantai Hamadi). Operasi ini diberi sandi “reckless” dipimpin Jenderal Douglas Mac Arthur dibantu Laksamana D. E. Barbey dan Letnan Jenderal R. L. Eichelherger dari atas kapal induk Nashville. Pukul 10.00 pagi tanggal 22 April 1944 Jenderal Douglas Mac Arthur mendarat di Pantai Hamadi.

“Jenderal Douglas Mac Arthur setelah berhasil menguasai lapangan terbang Sentani, kemudian menjadikan Ifar Gunung sebagai markas besarnya,” katanya.

Markas ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas pendukung militer. 

Mac Arthur memilih Ifar Gunung sebagai markas, dengan beberapa alasan, yaitu berada di ketinggian sehingga bisa mengawasi pergerakan pesawat di lapangan terbang Sentani. 

“Udara Ifar Gunung sangat sejuk pada pagi hingga sore hari serta dingin pada malam hari, Mac Arthur sangat menyukainya, sangat alami dan tidak diperlukan AC,” katanya.

Ifar Gunung banyak ditumbuhi pohon pinus dan pohon kasuari, berpanorama indah perbukitan hijau seperti daerah subtropik Amerika.

Hal inilah yang membuat Mac Arthur dapat berpikir tenang dalam menyusun strategi lompat katak sebagai serangan balik menuju Tokyo. 

Saat di Ifar Gunung, Mac Arthur sangat menyukai es krim. Es krim selalu tersedia di kulkas sang jenderal.

Jika Mac Arthur menyukai es krim, lain halnya dengan pasukannya.

Berdasarkan temuan bekas minuman berupa botol milik pasukan Sekutu di Ifar Gunung, diketahui tentara Amerika sangat menyukai coca cola.

Selain itu di Ifar Gunung ditemukan pecahan-pecahan botol bir buatan Eropa, rupanya tentara Belanda dan Australia memiliki kebiasaan minum bir. 

Lain halnya dengan pasukan Inggris, mereka memiliki kebiasaan minum teh pada pagi dan sore hari.

Minuman-minuman ini sebagai pengobat rindu dengan kampung halaman, juga sebagai pelepas kejenuhan perang yang belum diketahui berakhir kapan.

“Musuh Sekutu waktu itu adalah pasukan Jepang. Menariknya, botol-botol minuman sake banyak ditemukan di bekas markas Jepang di Sarmi dan Biak,” ungkapnya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

45 − = 35