Mendagri : kasus COVID-19 pandemi global

Papuaunik, – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia Jendral Pol (Purn) Prof Muhammad Tito Karnavian mengatakan kasus COVID-19 merupakan pandemi global dan situasi di Papua, termasuk di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom dan Kabupaten Mimika meningkat kasus yang positif, semenjak kasus COVID-19 terjadi di Wuhan, Cina pada Desember 2019.

“Sementara itu, kita di Indonesia juga tenang-tenang saja dengan COVID ini karena dianggap jauh, namun hingga hari ini semakin banyak kasus positif di Indonesia,” katanya dalam pengarahan kepada Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Provinsi Papua di Kota Jayapura, Jumat.

Dalam waktu lima bulan, di seluruh dunia, dari 216 Negara semua terinfeksi dengan COVID-19, antara lain kasus terkonfirmasi 10.321.689 kasus dan yang meninggal sekitar 507.435 orang. “Pandemi COVID-19, ini bagi saya merupakan pandemi terluas secara pandemi yang pernah terjadi di seluruh dunia,” katanya.

Ada dua pandemi besar yang memakan korban jiwa banyak, yaitu pertama, pada abad ke-14 yaitu pandemi The Black Death (1347-1351) membunuh 1/3 hingga 2/3 Populasi di Eropa, kedua pandemi Spanish Flu (1918) yang mengakibatkan korban meninggal dunia sekitar 50 juta orang, ini hanya terjadi di nnegara Spanyol setelah perang dunia ke II, inilah pandemi terluas di dunia.

“Dengan adanya pandemi COVID-19 ini terjadinya demand yang disebut permintaan barang semakin berkurang oleh pembeli, dengan demikian terjadi banyaknya pengangguran, PHK, karyawan dirumahkan maupun krisis sosial. Ada suatu dilematis antara mengutamakan kesehatan publik atau mau menyelamatkan ekonomis atau keuangan,” katanya.

Kata dia, ini harus dicarikan keseimbangan, artinya ekonomi dan kesehatan berjalan bersama. Ini merupakan krisis ekonomi maupun sosial, pemerintah daerah harus extra generic.

“Oleh karena itu, kita harus berinovasi membalance sesuai kondisi objektif daerah masing-masing dan perlu adanya kerja sama, mobilisasi antara pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, Ormas, dan masyarakat sendiri yang harus mempunyai kesadaran yang tinggi dan menjadi ujung tombak dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19,” katanya.

Ia menegaskan bahwa COVID-19 merupakan pandemi Global yang dimana masing-masing negara sibuk mengurusi dalam negerinya sendiri, sehingga, kata mantan Kapolri itu, pandemi virus corona harus dihadapi dengan Prinsip Tsun Zhu yang artinya adalah prinsip strategi perang dengan mengenali kondisi musuh atau penyakit yang dialami.

“Papua ini termasuk fiskal yang rendah, disini jauh lebih kecil dari transfer pusat, diatas 60 persen, sekitar Rp15 triliun APBD. Kita melihat bahwa mempelajari anatomi virus ini sangat penting karena virus ini bukan benda mati dan bukan benda hidup, dia berada di luar sel inang tubuh, dan menjadi benda hidup ketika virus tanpa selimut atau virus tanpa envelope, kedua virus envelope dengan selimut,” katanya.

Virus COVID-19 adalah virus yang berselaput atau berenvelope, selaput lemah, yang dimana protein RNA yang mengatur perkembangan sel. Dimana, yang paling rentan terpapar COVID-19 adalah orang tua atau lansia diatas 60 tahun, kurang makan bergizi dan organ tubuh melemah tidak sekuat pada saat muda.

“Kedua orang dengan penyakit kronis, yang memiliki Kardiovaskular atau jantung, paru – paru, diabetes, kanker, dan darah tinggi.Yang dapat mematikan virus itu sinar Ultraviolet atau matahari, untuk itu kita sangat bersyukur hidup di daerah Panas, jika tidak ada sinar Ultraviolet kita bisa membuat dengan Ultra violet light,” katanya.

Maka itu, diharapkan kepada semua pihak untuk melakukan ‘local wisdom’ atau ‘social wisdom’ dengan menggandeng tokoh gereja atau tokoh agama, tokoh adat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat secara luas. Karena masyarakat pada uumnya yang menjadi ujung tombak dalam memutus mata rantai COVID-19 dengan memperhatikan protokol Kesehatan antara lain menggunakan masker, cuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir serta jaga jarak.

“Secara Kuratif, kekebalan tubuh harus di jaga. Untuk itu, pemerintah harus menyiapkan tempat karantina, dengan agresif mencari siapa yang positif dengan melakukan Rapid tes serta tes PCR,” katanya.(Ian/dsb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

38 − = 37