Pentingnya profesionalisme guru dalam meningkatkan pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mendapat perhatian cukup serius di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang.

Hal ini dapat dimaklumi karena kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam kemajuan satu negara. Jepang yang hancur lebur dalam Perang Dunia kedua, segera bangkit kembali karena memberi perhatian yang serius pada pendidikannya.

Melalui pendidikan, berbagai keterampilan, terutama keterampilan hidup, dapat dikembangkan, di samping tentu saja berbagai pengetahuan dan sikap yang perlu dikuasai dan ditampilkan oleh setiap orang jika mau hidup secara layak dalam dunia yang berkembang sangat pesat ini.

Salah satu faktor yang berperan besar dalam dunia pendidikan dan yang sering dikaitkan dengan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan formal adalah guru. Peran guru ini menjadi semakin penting karena sebagaimana yang diungkapkan oleh Wardani dan Julaeha (2011), perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) yang sangat pesat membawa berbagai perubahan dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Perkembangan IPTEKS yang pesat ini juga membuat peran pendidikan semakin penting karena pendidikan diasumsikan mampu mentransfer segala perubahan tersebut kepada peserta didik.

Dalam kaitan ini, guru memegang peran yang sangat vital karena melalui gurulah diharapkan segala perubahan tersebut akan sampai kepada peserta didik. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa guru memegang peran yang sangat penting dalam pendidikan suatu bangsa.

Kualitas pendidikan sangat banyak tergantung kepada guru, di samping berbagai komponen pendidikan lainnya, seperti kebijakan pemerintah, sarana prasarana, keluarga, masyarakat. Tentunya, belum semua guru mampu memainkan peran yang penting tersebut karena kualitas guru juga beragam, lebih-lebih jika guru tidak mau berkembang, sehingga semakin jauh dari sosok guru profesional yang diamanatkan ole hUU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen.

Berkaitan dengan hal ini, topik tentang pengembangan kemampuan profesional atau profesionalisme guru menjadi penting untuk dikaji. Guru dituntut untuk mampu menjadi model bagi para guru atau calon guru yang dididiknya. Sebagaimana yang ditekankan oleh Swennendan Van der Klink (2009), pemodelan merupakan aspek sentral dalam pekerjaan seorang pendidik guru serta merupakan keterampilan yang sangat kompleks dan mempersyaratkan pemahaman yang mendalam tentang mengajar dan peran sebagai pendidik guru.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau disingkat KBBI (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,1997), profesi diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu, sedangkan istilah profesional yang merupakan kata sifat dimaknai sebagai sesuatu yang bersangkutan dengan profesi.

Dengan demikian, pekerjaanprofesionaladalahpekerjaan yang memerlukan kepandaian khusus untuk melakukannya dan mengharuskan adanya pembayaran bagi pelakunya (lawan dari amatir).

Selanjutnya, profesionalisme yang merupakan kata benda, dimaknai sebagai mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri satu profesi atau orang yang profesional.

Tidak jauh berbeda dengan KBBI, Oxford Advanced Learner’s Dictionary (Wehmeier, 2015:1205), mendefinisikan profesionalisme sebagai suatu standar tinggi yang kita harapkan dari seseorang yang terlatih dengan baik dalam pekerjaan tertentu, atau “great skill and ability”.

Sejalan dengan pengertian di atas, menurut Darling-Hammond dan Goodwin (2010:156), setiap pekerjaan professional mempunyai persamaan karakteristik, yang membedakannya dari pekerjaan non-profesional. Karakteristik tersebut adalah: (1) pekerjaandilandasi/ dilaksanakan berdasarkan ilmu terkait yang disebut sebagai “codified body of knowledge” (Darling-Hammond & Goodwin, 2013:25), (2) ada mekanisme terstruktur untuk mengatur perekrutan, pendidikan, dan penetapan standar praktek yang etis dan tepat, serta (3) tanggung jawab utama adalah kemaslahatan/ kepuasan klien.

Berdasarkan ketiga karakteristik di atas, dari karakteristik pertama dapat ditafsirkan bahwa jika pekerjaan sebagai pendidik, guru dipandang sebagai pekerjaan profesional, maka paling tidak seorang pendidik guru harus menguasai ilmu yang mendasari pekerjaannya sebagai guru.

Ilmu yang harus dikuasai oleh guru disebut sebagai “the scientific basis of the art of teaching”, yang meliputi: (1) pemahaman yang mendalam tentang karakteristik peserta didik, dalam hal ini para calon guru dan guru yang mengambil studi lanjut, (2) penguasaan bidang studi, baik dari sisi disiplin ilmu maupun sisi pedagogis, termasuk materi dalam kurikulum pendidikan peserta didik, (3) pengelolaan pembelajaran yang mendidik, yang mencakup perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian proses dan hasil belajar, di samping pemanfaatan hasil penilaian untuk perbaikan, serta (4) pengembangan kemampuan profesional secara berkelanjutan (Gage, dalam Joni, 2015:98).

Inilah yang kemudian menjadi sosok utuh kompetensi guru, yang di dalam UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen serta Permendiknas no.16/2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru dipilah menjadi kompetensi pedagogik, kompetensi keperibadian, kompetensi profesional, dan kompetensisosial.

Karakteristik kedua menyiratkan adanya mekanisme yang terstruktur dalam mengelola pendidikan guru dan profesi guru, serta adanya standar yang etis dan memadai bagi praktek pelayanan kepada peserta didik. Ini berarti, tidak sembarang orang dapat menjadi guru. Dengan perkataan lain, mereka yang diterima di lembaga pendidikan guru atau yang memasuki pekerjaan sebagai guru, haruslah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam rekrutmen, termasuk sistem pendidikannya.

Citra guru masa kini adalah protret bangsa masa depan. Pernyataan tersebut, walaupun ekstrim namun tidaklah terlalu keliru. Guru menentukan masa depan bangsa kita.

Di tangan gurulah masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Sementara itu upaya peningkatan kualitas pendidikan dewasaini mengalami beberapa kendala yang sampai saat ini sepertinya belum tuntas pemecahannya.

Masih ditemui angka putus sekolah yang relatif tinggi, calon guru yang peminatnya cukup banyak akan tetapi bukan calon unggulan, dan kualifikasi sebagian guru yang belum memenuhi kualifikasi. Sebenarnya upaya peningkatan kualitas pendidikan dari tahun ke tahun selalu menjadi program pemerintah.

Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh penyempurnaan integral dari seluruh komponen pendidikan seperti kualitas guru, penyebaran guru yang merata, kurikulum yang selalu disempurnakan setiap saat, sarana dan prasarana yang memadai, suasana pembelajaran yang kondusif, dan kualitas guru yang meningkat, serta didukung oleh kebijakan pemerintah.

Ketersediaan guru yang memadai, merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pembangunan pendidikan di Indonesia, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dalam rangka pemenuhan ketersediaan guru yang memadai tersebut, pemerintah masih dihadapkan pada dua permasalahan pokok yang sangat mendasar.

Pertama, pemenuhankebutuhantenaga guru yang belum sesuai dengan kebutuhan daerah, dan kedua adalah peningkatan kualitas profesional yang belum memenuhi standar minimal. Karena guru merupakan titik sentral dari peningkatan kualitas pendidikan yang bertumpu pada kualitas proses pembelajaran.

Oleh sebab itu peningkatan profesionalisme guru merupakan suatu keharusan. Guru yang profesional tidak hanya menguasai bidang ilmu, bahan ajar, menguasai metode yang tepat, namun juga mampu memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan.

Guru yang profesional juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakekat manusia dan masyarakat. Hakikat-hakikat ini akan melandasi pola pikir, pola kerja guru dan loyalitasnya kepada profesipendidikan.

Juga dalam implementasi pembelajaran guru harus mampu mengembangkan budaya organisasi kelas, dan iklim organisasi pembelajaran yang bermakna, kreatif, dinamis, bergairah, dan dialogis sehingga menyenangkan bagi peserta didik.

Profesionalisme guru dapat diwujudkan melalui pemberdayaan potensi dan prestasi guru. Seorang guru disebut sebagai guru profesional karena kemampuannya dalam mewujudkan kinerja profesi guru secara utuh.

Dengan demikian sifat utama dari seorang guru profesional adalah kemampuannya dalam mewujudkan kinerja profesional yang sebaik-baiknya dalam mencapai tujuan pendidikan.

Sifat-sifat ini mencakup ciri-ciri kepribadian guru dan penguasaan keterampilan teknis keguruan. Dengan kata lain seorang guru hendaknya memiliki kompetensi yang mantap. Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan profesional sebagai guru mencakup penguasaan sosok utuh kompetensi guru dan kemampuan melaksanakan tugas yang mengutamakan kemaslahatan dan kepuasaan peserta didik.

Dengan demikian, tolak ukur utama keberhasilan bagi guru profesional adalah kualitas proses dan hasil belajar para siswa yang menjadi tanggungjawabnya.

Sejalan dengan itu, tingkat keprofesionalan pendidik guru dapat ditandai dari tingkat penguasaan sosok utuh kompetensi sebagai guru, baik secara akademik maupun penerapannya dalam konteks otentik pemberian layanan kepada peserta didik yang menjadi tangungjawabnya.

Oleh: Jenny J Ichsan

Penulis adalah salah satu Mahasiswa MMP Universitas Cenderawasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 53 = 61