Pengembangan kompetensi dalam peningkatan kinerja guru

Pendidikan merupakan sektor penting dalam proses pembangunan nasional yang turut meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia suatu Negara. Menyadari pentingnya proses peningkatan sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan lebih berkualitas. Pendidikan lebih berkualitas seyogyanya meningkatkan kepribadian manusia, dan melakukan perbaikan dalam kehidupan. Keberhasilan institusi pendidikan dalam mengemban misinya sangat ditentukan oleh peningkatan kualitas mutu hasil kerja institusi pendidikan, seperti : tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya, anak didik, masyarakat dan lingkungan pendukungnya. Sub sistem tenaga kependidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dalam Undang-undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional), Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.

UU No 20 pasal 1 tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) (2007:2) bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana. Pendidikan dalam mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Fungsi dan tujuan pendidikan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) pasal 3 (2007:5) meliputi : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta perdaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Menurut Trianto dan Titik Triwulan Tutik, (2007:14) ada 2 faktor setidaknya yang mempengaruhi kondisi kualitas pendidikan apabila dilihat dari sisi keberadaan guru: Pertama, kualifikasi pendidikan dan kompetensi guru masih sangat rendah dan kedua, masih banyaknya guru yang mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan. Dalam undang-undang nomer 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa guru dapat dikatakan profesional perlu dikukuhkan dengan pemberian sertifikat pendidik. Untuk itu guru dapat memperoleh sertifikat pendidik jika telah memenuhi dua syarat, yaitu memiliki kualifikasi pendidikan minimal S-1/D-4 dan memiliki minimal empat kompetensi yakni kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (Trianto dan Titik Triwulan Tutik, 2007:9).

UU RI No. 20 Tahun 2003 SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) Pasal 40 Ayat 2 (2007:20) Guru sebagai tenaga kependidikan memiliki kewajiban sebagai berikut : (1.) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, meyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (2). Mempunyai komitmen secara professional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan; (3). Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dengan memiliki kewajiban yang telah dirumuskan di atas, ketika guru memasuki ruang kelas, guru dapat menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan dan kreatif sehingga siswa termotivasi dan aktif dalam mengikuti kegiatan proses belajar mengajar. Selain itu, seorang guru juga memiliki kewajiban untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan memiliki kemampuan baik secara jasmani dan rohani agar pengajaran yang akan diberikan kepada angka didiknya dapat dilaksanakan dengan baik serta menjaga nama baik lembaga.

Kompetensi bagi seorang guru sangatlah penting, karena sebagai orang yang profesional, guru di didik secara khusus oleh lembaga pendidikan formal tertentu yang berwenang untuk memperoleh kompetensi. Kompetensi itu meliputi pengetahuan, keterampilan, kepribadian, dan pengalaman dalam bidang pendidikan. Seseorang yang dinyatakan kompeten di bidang tertentu adalah seseorang yang menguasai kecakapan kerja atau keahlian sesuai dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan, sehingga kompetensi yang dimiliki guru akan menunjukkan kualitas seorang guru dalam melaksanakan tugasnya. Dan kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru (Rusman, 2010:70). Seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran (Tilaar, 2002:86).

Guru harus mempunyai kompetensi, hal ini disebutkan dalam UU No. 14 tahun 2004 Pasal 10 ayat (1) yaitu bahwa guru dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sesuai dengan Standart nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam mengajar, mendidik dan mengembangkan. Pedagogik adalah ilmu mendidik. Oleh karena itu guru dituntut untuk memahami tentang ilmu mendidik atau teknik-teknik mendidik. Di antaranya adalah memahami karakter peserta didik atau psikologis siswa, mengetahui metodologi pengajaran, dan teknik penyampaian. Hal ini merupakan aktivitas pokok tugas guru (Bafadal, 2003:32). Lebih lanjut, dalam RPP tentang guru dikemukakan bahwa : kompetensi Pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi hal sebagai berikut : 1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; 2) Pemahaman terhadap peserta didik; 3) Pengembangan kurikulum/silabus; 4) Perancangan pembelajaraan; 5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; 6) Pemanfaatan teknologi pembelajaran; 7) Evaluasi Hasil Belajar (EHB); 8) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (Mulyasa, 2007:75).

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Pribadi guru juga sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didik. Ini dapat dimaklumi karena manusia merupakan makhluk yang suka mencontoh. Termasuk mencontoh pribadi gurunya dalam membentuk pribadinya. Semua itu menunjukkan bahwa kompetensi personal atau kepribadian guru sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses pembentukan pribadinya. Oleh karena itu wajar, ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke suatu sekolah akan mencari tahu dulu siapa guru-guru yang akan membimbing anaknya (Usman, 2008:117-118). Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi kepribadian ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangakan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara, dan bangsa pada umumnya. Zakiah Daradjat, dkk (2000:43), disebutkan bahwa guru yang mempunyai kepribadian yang baik di antaranya adalah: 1) Guru harus mencintai jabatannya sebagai guru, dengan mencintai jabatannya sebagai seorang guru, ia sadar bahwa dirinya adalah seorang pendidik yang mempunyai tanggung jawab secara moral dan kewajiban sebagai seorang guru; 2) Bersikap adil terhadap semua muridnya; 3) Berlaku sabar dan tenang; 4) Guru harus berwibawa; 5) Guru harus bergembira.

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut dalam RPP tentang guru, bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk : 1) Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat; 2) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; 3) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan 4) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar (Mulyasa, 2007:173). Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi.

Menurut Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar” (Usman, 2008:75). Untuk dapat melaksanakan peran sosial kemasyarakatan, guru harus memiliki kompetensi : 1) Aspek normatif kependidikan, yaitu untuk menjadi guru yang baik tidak cukup digantungkan kepada bakat, kecerdasan, dan kecakapan saja, tetapi juga harus beritikad baik sehingga hal ini bertautan dengan norma yang dijadikan landasan dalam melaksanakan tugasnya. 2) Pertimbangan sebelum memilih jabatan guru, dan 3) Mempunyai program yang menjurus untuk meningkatkan kemajuan masyarakat dan kemajuan pendidikan.

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standart kompetensi yang ditetapkan dalam Standart Nasional Pendidikan (Satori, dkk, 2008:135). Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. Setiap subkompetensi tersebut memiliki indikator esensial sebagai berikut: 1) Subkompetensi menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki indikator esensial, memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar, memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan seharihari; 2) Subkompetensi menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator esensial menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi secara profesional dalam konteks global. Secara ringkas kompetensi profesional guru dapat digambarkan sebagai berikut : a) Konsep, struktur, dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koherean dengan materi ajar. b) Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. c) Hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. d) Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. e) Kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional (Sarimaya, 2008:21).

Keberhasilan pendidikan sebagian besar ditentukan oleh mutu seorang guru. Guru harus menguasai ilmu yang diajarkan dan cara mengajarkannya dengan baik, dan juga memiliki akhlak yang mulia. Guru harus mampu meningkatkan pengetahuannya dari waktu ke waktu, sesuai dengan perkembangan zaman. Berbagai perubahan yang diakibatkan oleh kemajuan adalah bidang ilmu pengetahuan dan teknologi juga harus diantisipasi oleh guru. Dengan demikian seorang guru tidak hanya menjadi sumber informasi, ia juga dapat menjadi motivator, inspirator, dinamisator, fasilitator, katalisator, evaluator dan sebagainya.

Oleh : Yanti Taruk Rante

Penulis adalah Mahasiswa MMP Univeritas Cenderawasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

84 − = 82