Menakar ketahanan pangan di Kabupaten Jayapura

Pandemi virus corona menyusahkan berbagai segi seperti kesehatan, pendidikan, sosial budaya, dan ekonomi. Ketahanan pangan pun terusik dengan ganasnya virus tersebut.

Corona virus memaksa Pemerintah Kabupaten Jayapura menerapkan aturan pembatasan sosial. Pembatasan itu berdampak pada pembeli yang datang ke pasar tradisional di daerah ini.

Para pedagang terutama kaki lima tidak lagi leluasa mencari nafkah seperti semula. Barang kebutuhan pokoknya stabil tapi sepi pembeli.Masyarakat mengurung niat ke pasar karena takut terpapar corona.

“Dari sisi jumlah pedagang di pasar memang masih stabil. Komoditi yang dijual juga stabil. Tapi pembeli kurang sejak pandemi COVID-19,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jayapura, Yosef Livie Yoku.

Mengantisipasi itu,Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kabupaten itu berupaya mempertahankan pangan di tengah pandemi. Disperindag memastikan harga sembilan bahan pokok tetap stabil.

Barang pokok seperti gula pasir,semakin berkurang karena gula kiloan yang tersedia di pasar bukan Gulaku. Nyaris, tiap lima hari harga gula ditambah Rp500. Semisal, di awal minggu baru yakni Senin. Harga gula kiloan berkisar antara Rp18.500 per kilogram hingga Rp19.000 per kilogram.

Harga minyak goreng stabil. Harga daging sapi juga stabil. Meskipun stok daging sapi lokal masih lemah, masih didatangkan dari luar daerah. Ditengah pandemi, stok daging dari luar berpengaruh pada harga di pasaran.

“Untuk harga daging sapi per kilo dijual dengan harga Rp145.000, sedangkan untuk daging ayam per kilonya dipasarkan dengan harga Rp50.000,” ujar Yosef Livie Yoku.

Pemenuhan akan ayam juga senasib dengan stok daging sapi. Ayam juga dikirim dari luar wilayah Kabupaten Jayapura. Tak hanya daging dan ayam, wabah nonalam ini juga mempengaruhi harga bawang merah dan bawang putih. Sempat harga bawang merah dan bawang putih meroket yakni Rp120 ribu hingga 130 ribu per kilogram, namun tak lama.

Para pedagang di wilayah itu terbantu dengan pasokan bawang dari luar daerah, sehingga harga turun. Mereka memasarkan bawang putih di pasar seharga Rp75.000 per kilogram, dan bawang merah dijual Rp60.000 per kilogram.

Pandemi mengakibatkan, komoditi cabe keriting dan cabe rawit dijual dengan harga Rp40 ribu per kilogram di pasar. Cabe keriting dan cabe rawit selain dari petani lokal, mayoritas dari luar kabupaten itu yakni dari Arso, Kabupaten Keerom.

Pasokan telur

Stok telur ayam ditengah wabah virus yang belum ada obatnya ini, tidak stabil. Pada Minggu kedua April 2020, harganya sempat melambung yakni Rp100 ribu per rak. Meski demikian, stok telur masih tetap terjaga. “Telur Ini juga masih tergantung dari ketersediaan yang didatangkan dari luar dan dari para peternak lokal,” kata Yosef.

Ketersediaan telur ayam di kabupaten ini pernah berkurang, karena banyak ayam pada peternak lokal yang sudah afkir. Hingga kini, para peternak belum menambah ayam petelur sehingga stok telur belum bisa dipastikan aman selama pandemi.

“Jadi ada ayam peternak yang afkir sehingga stoknya berkurang,” kata Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Jayapura, Dodi Samyana.

Produksi telur ayam di kabupaten itu sebanyak 15.600 butir per hari, sementara kebutuhan konsumsi telur di Kabupaten Jayapura tinggi. Anggap saja satu orang untuk enam telur ayam, sehingga untuk konsumsi telur yang harus disiapkan dalam sehari membutuhkan 29.000 butir telur.

Jumlah kebutuhan ini belum terhitung dengan beragam keperluan produksi aneka jenis kue. Kini, untuk menutupi kekurangan telur di kabupaten tersebut, pemerintah setempat tengah mendatangkan telur ayam dari Surabaya. Ketergantungan pasokan telur Surabaya berdampak, katakanlah telur dari Surabaya terlambat, maka tak ada stok yang tersedia.

Sempat stok telur di wilayah itu menipis, sehingga mendongkrak harga telur naik mencapai Rp130.000 per rak. Namun tak lama, setelah telur Surabaya tiba. Berkat telur itu, para pedagang di pasar Sentani menurunkan harga mulai dari Rp75.000 hingga Rp80.000 per rak.

Telur ayam di kabupaten ini hanya bisa bertahan selama satu sampai dua minggu, lantaran tak didukung dengan hasil produksi telur lokal.

Dodi Samyana mengatakan, untuk mengatasi kekurangan telur, pihaknya berencana akan mencari beberapa solusi, seperti rencana pembelian telur ayam untuk menekan harga agar tidak merangkak naik.

Telur disalah satu pasar tradisonal di Kota Jayapura (Foto/Miosindi)

Ketersediaan bapok

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Jayapura, Tasrief Thayib mengatakan kebutuhan bahan pokok di daerah itu bisa bertahan hingga dua bulan kedepan. Ketersediaan pangan mampu bertahan hingga jangka waktu 2,8 bulan. Stok pangan pada April 2020 secara khusus untuk kebutuhan pokok seperti beras 1886 ton, gula pasir 150 ton, minyak goreng 566,18 ton.

Kemudian, daging sapi yang tersedia 20 ton, daging ayam 237 ton, susu 29 ton, sayuran 1.499 ton, buah 1067 ton, ikan 1027 ton, bawang merah 42 ton , bawang putih 34 tonoh , cabe rawit 73 ton, cabe keriting 23 ton. Kini ketersedian beras 1.886 ton, sementara kebutuhan per bulan hanya 815 ton. Masih ada 1.071 ton tersisa dari kebutuhan untuk sampai dua bulan ke depan.

Ketersediaan telur ayam mencapai 931 ton dengan rincian produksi kebutuhan lokal 142 ton dan telur ayam impor dari luar Papua 789 ton, sementara kebutuhan akan telur ayam 849 ton. Stok itu hanya bisa bertahan dalam seminggu.

“Stok pangan kita dengan jumlah penduduk diperkirakan mencapai 175.277 jiwa untuk dua bulan kedepan masih terpenuhi,” ujar Tasrief Thayib.

Akan tetapi, stok pangan di Kabupaten Jayapura perlu diantisipasi lebih dini, lantaran kabupaten itu juga menyuplai pangan ke daerah lain, terutama ke wilayah pegunungan Papua.

Pangan lokal

Dosen luar biasa Antropologi Universitas Cenderawasih Jayapura, Hari Suroto menyebutkan setiap bulan, Aparat Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Pemerintah Kota Jayapura selalu menerima beras jatah.

Beras jatah ini didatangkan dari luar Papua bahkan diimpor. Untuk memberdayakan pangan lokal, maka mekanisme ini perlu diubah yaitu dengan cara pemprov, pemkab atau pemkot membeli pangan lokal dari petani yaitu ubi jalar, keladi dan sagu untuk dibagikan pada ASN sebagai pengganti beras setiap bulannya.

Pemerintah Provinsi Papua telah memutuskan bahwa pada 26 Maret 2020 hingga Mei 2020 berlangsung pembatasan perlintasan manusia di Papua, hal ini sebagai bagian dari untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Selama pembatasan ini merupakan momen yang tepat untuk mengkampanyekan kembali gerakan mengkonsumsi pangan lokal, berbagai jenis tanaman endemik Papua yang sejak nenek moyang Papua dulu konsumsi. Baik tanaman yang dibudidayakan di kebun, hasil meramu di hutan maupun hasil meramu di pesisir pantai.

“Tanaman-tanaman ini sebelum ada beras maupun sayur-sayuran yang benihnya dibeli di toko, merupakan bagian dari bentuk ketahanan pangan lokal dari dulu,” kata Hari.

Sayur-sayuran dan umbi-umbian ini dalam tradisinya sudah dikonsumsi dan diolah secara tradisional dan organik yaitu bakar batu, barapen, dipanggang, diasap (asar) atau direbus dalam wadah gerabah.

Makanan lokal ini sangat organik dan menyehatkan, jadi masyarakat yang tinggal di kampung, tidak perlu ke kota untuk mendapatkannya. Sayur-sayuran yakni sayur pakis, sayur buah koteka, daun gedi, jantung pisang, daun genemo, selada air, daun ubi jalar, sayur lilin, bunga pepaya, daun pepaya, daun labu, rebung, daun singkong dan rumput laut.

Umbi-umbian yaitu ubi jalar, keladi, singkong, umbi jalar atau siapu. Sumber karbohidrat lainnya yaitu sagu, pisang dan buah sukun.Bagi masyarakat yang tinggal di kota, dengan membeli dan mengkonsumsi produk lokal maka akan meningkatkan kesejahteraan mama-mama Papua. (Miosindi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 6