Penembakan di Freeport dinilai merupakan kejahatan kemanusiaan

Papuaunik, – enembakan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) kepada sejumla karyawan PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua dinilai merupakan salah satu bentuk kejahatan kemanusiaan.

“Saya pikir pascapenembakan di Kuala Kencana yang mengakibatkan WNA Selandia Baru itu meninggal, itu merupakan kejahatan kemanusiaan,” kata Marinus Yaung, salah satu akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Selasa.

Menurut dia, penembakan tersebut akan mendapat kecaman dari seluruh dunia, terutama dari negara Selandia Baru yang selama ini mendukung isu Papua merdeka, yang salah satu warga negaranya ditembak mati.

“Dunia internasional sudah pasti mengecam tindakan ini. Khususnya negara New Zeland (Selandia Baru) yang selama ini mendukung isu Papua di Pasifik, sudah pasti akan menarik dukungan itu. Dan isu Papua di Pasifik akan redup,” katanya.

Kenapa demikian? Kata Marinus yang merupakan salah satu pengamat hubungan internasional asal Papua itu, karena saat pertemaun Pasific Island Forum (PIF) di Tuvalu pada Agustus 2019, negara Vanuatu membawa masuk Beny Wenda dalam pertemua itu atas rekomendasi Selandia Baru. Namun, Australia menolak Selandia Baru mendukung itu.

“Australia hadir dalam pertemuan itu hanya untuk menghina negara-negara pasifik yang hanya hidup dari dukungan Australia. Namun mereka juga hidup dari dukungan Selandia Baru. Nah, dengan peristiwa ini (penembakan,red) maka isu Papua merdeka tidak akan mendapat dukungan dari negara-negara pasifik,” katanya.

Selandia Baru dan Ingris, kata dia, merupakan satu garus keturunan atau satu aliran pikiran, sehingga peristiwa penembakan itu sudah pasti ada korelasi bahwa isu Papua merdeka tidak akan mendapat dukungan yang cukup kuat, termasuk kampanye Papua merdeka oleh Beny Wenda di komunitas internasional, terutama di pasifik.

“Hal lainnya, permintaan orang Papua baik itu lewat MSG maupun PIF agar Komisi HAM Internasional masuk ke Papua, tidak akan lagi bisa direspon. Karena peristiwa penembakan ini betul-betul akan menutup pintu bagi persepsi internasional terhadap Papua,” katanya.

Bahkan penembakan itu, lanjut dia, akan semakin membenarkan persepsi internasioanl bahwa kelompok perjuangan Papua ini adalah kelompok kriminal bersenjata.

“Yang mereka mencoba melakukan tindakan kriminal, melakukan perang idiologi dan tindakan kriminal yang tidak menghormati hukum perang internasional.

Pintu terhadap Komisi HAM PBB masuk ke Papua akan tertutup dengan peristiwa ini. Jangan pernah berharap mereka akan datang, karena apa, mereka telah menyerang WNA yang tidak ada hubungan sama sekali dengan konflik bersama TNI-Polri,” katanya.

Marinus menegaskan bahwa peristiwa penembakan itu sama saja membuat negara Selandia Baru tidak lagi bersimpati dengan isu Papua merdeka.

“Ini sama saja mengundang perang New Zeland melawan OPM (KKB). Meski tidak dalam perang betulan, namun dukungan itu sudah tidak ada lagi. Seharusnya perang itu,
loreng lawan loreng, itu hukum perang internasional, bukan rakyat sipil dikorbankan,” katanya.

“Ini disebut seperti teroris, semisal Al Qaida atau lainnya, yang menyerang warga sipil baik orang asing maupun WNI, maka mereka sudah masuk kategori teroris karena telah melakukan tindakan yang melanggar hukum internasional,” tambahnya.(Ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

58 + = 67