AMKA agendakan demo di DPRD Kota Jayapura terkait kelangkaan air

Papuaunik, – Melihat situasi dan kondisi yang terjadi sejak Agustus 2019 hingga Februari 2020 dibeberapa lokasi di kota Jayapura yang mengalami kelangkaan air.

“Maka dari itu, kami segenap aktivis yang tergabung di dalam Aliansi Masyarakat Konsumen Air (AMKA) mengajak segenap warga untuk bergabung secara bersama melakukan fungsi kontrol terhadap pelayanan PDAM Jayapura yang seyogyanya sudah harus ada pembenahan managemen,” kata Panji Agung Mangkunegoro, koordintaor AMKA PDAM Jayapura saat menggelar jumpa pers di Grand Abe Hotel, Kota Jayapura, Senin malam.

Aksi tersebut diharapkan menjadi perhatian dari pemangku kepentingan terutama PDAM Jayapura dan DPRD Kota Jayapura terhadap masyarakat yang terdampak kekurangan air bersih dari pengelola tunggal.

“Seharusnya ada solusi kongkrit ketegasan atas kompensasi yang harus di terima oleh masyarakat yang terdampak. Kepala PDAM Jayapura harus bertanggung jawab terkait kelangkaan air di ibu kota Provinsi Papua,” katanya.

Untuk itu, kata dia, AMKA siap menggelar aksi turun jalan di DPRD Kota Jayapura guna menyampaikan aspirasi bahwa air tidak mengalir sejak Agustus 2019 warga tidak lagi mendapatkan pasokan air bersih dari PDAM Jayapura.

“Dalam satu dua hari ini, kami akan demo di DPRD Kota Jayapura dan berharap ada pertemuan dengan PDAM Jayapura guna mendapatkan penjelasan dan solusi konkrit masalah kelangkaan air bersih,” kata Panji.

Michele Kurisi, aktivis perempuan dan anak mengungkapkan bahwa warga di Dok IX, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura juga

mengalami hal yang sama seperti warga di Kamkey, Distrik Abepura atau di Perumnas 1, 2 dan 3, Distrik Heram yang tidak mendapatkan air bersih yang dikelola oleh PDAM Jayapura.

“Kami di Dok IX, khusus kaum perempuan setiap hari harus angkat air dari sumur sebanyak 10 hingga 20 liter untuk kebutuhan mandi dan minum, sementara untuk mencuci harus melakukan hal itu secara terpisah,” katanya.

Ia menungkapkan sejak Juni 2019, di wilayah Dok IX tidak ada lagi pasokan air PDAM karena musim kemarau. “Untuk itu, kami akan bergabung bersam AMKA ke DPRD Kota Jayapura untuk meminta solusi,” kata Michele.

Vivaldi Aronggear, warga Perumnas II Yabansai, mengaku harus merogoh sakunya untuk membeli air kemasan ataupun tandon 1.000 liter guna memenuhi air bersih, karena air dari pipa-pipa PDAM Jayapura tidal lagi mengalirkan air sebagaimana biasanya.

“Saya lahir besar di Waena, sejumlah mata air dan sungai kami tahu, tapi mengapa PDAM Jayapura tidak bisa mengelola dengan baik, akibatnya kami harus beli air,” kata Vivaldi.

Sementara itu, Paul Ohee lebih menyoroti soal kebijakan pelestarian alam dan lingkungan yang cenderung menurun dan hanya berharap dari kemurahan alam untuk mendapatkan air bersih.

“Para pemilik hak ulayat tanah ada baiknya lebih memperhatikan alam dan lingkungan, sehingga nanti pada 50 tahun kedepan Kota Jayapura tidak kekeringan karena masalah air, karena alam tidak dijaga,” kata Paul yang merupakan Ketua Pemuda Tabi Papua itu.

Sedangkan, Oktaf Gombo dari Forum Peduli Pembangunan Demokrasi Papua menilai masalah kekurangan pasokan air PDAM merupakan masalah penting dan serius di Kota Jayapura yang merupakan barometer pembangunan.

“Ini kalau tidak salah sudah lima bulan terakhir warga teriak-teriak soal air bersih dari PDAM Jayapura tapi tidak mendapatkan perhatian. DPRD Kota Jayapura harus melihat masalah ini, panggil PDAM Jayapura minta penjelasan dan solusi atasi masalah air,” kata Oktaf sebagaimana dikutip dari ANTARA.

Terkait rencana aksi demo dalam satu dua hari kedepan, Direktur PDAM Jayapura Entis Sutisna mengatakan akan segera menggelar rapat dilingkungan perusahaan tersebut.

“Kami akan rapatkan dengan seluruh kepala cabang, untuk upaya-upaya penanganan saat musim kemarau sekarang ini,” katanya lewat pesan singakat media sosial.(Ian/Dsb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

73 − = 69